Ada yang memilih keramaian untuk merasa hidup, ada pula yang memilih kesunyian untuk memahami arti hidup. Aku termasuk yang kedua. Dalam sunyi, aku menemukan irama yang lebih jujur—tanpa topeng, tanpa sandiwara, tanpa penilaian. Sunyi bukanlah pelarian, melainkan jalan yang kupilih, sebuah ruang di mana aku bisa mendengar isi kepalaku dengan lebih jernih. Sunyi adalah jalanku, bukan karena aku tak suka suara, tetapi karena aku belajar bahwa banyak kebisingan tidak membawa makna.
Dulu aku sempat bertanya-tanya, mengapa aku berbeda? Mengapa di saat orang lain mencari teman untuk mengobrol, aku justru memilih jalan kaki sendiri menyusuri gang sempit, atau duduk diam memandangi langit malam? Mengapa kebanyakan percakapan membuatku lelah, bukan karena topiknya, tapi karena terlalu banyak basa-basi yang tak menyentuh esensi? Lama kelamaan, aku berhenti mempertanyakan. Aku menerima bahwa sunyi bukan kutukan, melainkan bekal. Ia bukan hantu yang menguntit langkahku, tapi sahabat yang menuntunku untuk lebih jujur pada diri sendiri.
Di tengah sunyi, aku menemukan "dingin" yang lama tertanam dalam diriku. Dingin bukan berarti beku, bukan berarti tak peduli. Dingin, bagiku, adalah cara untuk menjaga jarak dari hal-hal yang bisa merusak kedamaian batin. Dingin adalah karakterku—bukan karena aku tak punya rasa, tetapi karena aku tahu rasaku terlalu dalam jika dibiarkan sembarangan tumpah. Aku belajar bahwa terlalu cepat membuka hati adalah undangan bagi luka yang tak perlu. Maka, aku memilih menjadi dingin, agar aku tak mudah tenggelam dalam emosi orang lain.
Orang sering salah mengerti. Mereka mengira aku acuh, padahal aku hanya menjaga. Mereka bilang aku terlalu serius, padahal aku sedang menjaga ketulusan. Dunia ini terlalu terburu-buru untuk memahami kedalaman. Terlalu suka yang serba instan, padahal relasi dan makna butuh proses. Maka aku memilih menjadi diriku sendiri, meski itu berarti disalahpahami. Dingin, bagiku, adalah bentuk perlindungan. Ia adalah benteng yang membuatku tetap utuh di tengah badai sosial yang tak pernah benar-benar reda.
Namun, ada satu hal yang tak bisa selalu kuhindari: gelap. Gelap, dalam hidup ini, bukan hanya ketiadaan cahaya, tapi juga metafora dari masa-masa ketika harapan memudar, ketika arah tak jelas, dan ketika suara-suara dalam kepala lebih nyaring daripada kenyataan di luar. Gelap bisa menjadi musuh yang menakutkan. Ia menyergap tiba-tiba, menyeret kita ke dalam ruang tanpa warna dan waktu. Di dalamnya, logika bisa kabur, dan luka masa lalu bisa bangkit tanpa aba-aba. Gelap bisa membuatmu kehilangan arah, bahkan kehilangan diri.
Namun, di sisi lain, gelap juga bisa menjadi teman. Ia mengajarkan kita untuk meraba dengan hati, bukan hanya dengan mata. Ia melatih kepekaan, menajamkan insting, dan memperkenalkan kita pada sisi terdalam dari diri sendiri. Dalam gelap, kita dipaksa untuk diam dan mendengarkan. Mungkin itulah sebabnya aku tak selalu membencinya. Kadang, dalam gelap, aku menemukan jawaban yang tak pernah muncul di tengah cahaya terang.
Pernah suatu malam, aku berkendara sendirian melewati jalanan sepi di pinggiran kota. Lampu jalan mati, udara dingin menggigit, dan hanya suara mesin motorku yang memecah kesunyian. Saat itulah aku merasa: inilah diriku yang sesungguhnya. Bukan di tengah kafe bising, bukan di ruang rapat dengan pakaian rapi dan senyum palsu, tapi di jalan gelap yang kosong, hanya ditemani oleh diri sendiri dan keyakinan bahwa aku bisa melewati semua ini. Gelap malam itu bukan musuh. Ia adalah teman yang diam-diam mengajarkanku untuk percaya pada arah yang kutempuh, meski tak selalu terlihat.
Tentu saja, tak semua orang mengerti pilihan ini. Ada yang bilang aku terlalu menutup diri, ada yang merasa aku sulit didekati. Aku memaklumi. Kita hidup di dunia yang mengagungkan keterbukaan, tapi sering lupa bahwa tak semua luka bisa diceritakan, dan tak semua perasaan layak dibagi. Bagiku, menjaga jarak bukan berarti menghindar, tapi bentuk rasa hormat. Aku ingin hadir sepenuhnya ketika aku memilih untuk hadir. Bukan karena tekanan, bukan karena tuntutan sosial, tapi karena niat yang jujur.
Mungkin jalan hidupku bukan yang paling mudah. Tapi ia adalah jalan yang membuatku damai. Sunyi adalah ruang meditasiku, dingin adalah jubah yang kupakai untuk melindungi kelembutan hatiku, dan gelap—ah, gelap adalah ujian dan teman sekaligus. Ia mengajakku berdamai dengan masa lalu, menghadapi ketakutan, dan kadang, hanya duduk diam di tepi waktu sambil menunggu fajar datang.
Karena pada akhirnya, hidup bukan soal siapa yang paling banyak suara, tapi siapa yang paling tulus dalam diam. Bukan tentang siapa yang paling hangat di permukaan, tapi siapa yang paling jujur ketika tak ada yang melihat. Dan bukan tentang siapa yang paling terang, tapi siapa yang mampu berdiri tegak meski dalam gelap.
Aku tak ingin menjadi yang paling dikenal. Cukuplah menjadi seseorang yang berjalan di jalannya sendiri, meski sunyi. Menjadi pribadi yang menjaga kehangatan hatinya di balik dinginnya sikap. Dan menjadi jiwa yang tahu kapan gelap harus dilawan, dan kapan harus dipeluk.