Saya Saepul Permana, lahir di Bandung pada 7 Desember 1996. Saya berasal dari keluarga sederhana, tumbuh di kota yang bagi saya bukan hanya tempat tinggal, tetapi ruang hidup yang penuh cerita. Bandung adalah kota yang memiliki banyak lapisan sejarah: dari kisah geologi tentang Danau Bandung Purba, hingga bangunan kolonial peninggalan Belanda yang masih berdiri di sudut-sudut kota. Semua itu membentuk cara saya memandang dunia.
Saya hanya lulusan sekolah menengah pertama. Setelah itu, saya bekerja sebagai karyawan di sebuah perusahaan swasta, tepatnya di industri garmen di Bandung. Secara umum, kehidupan karyawan sering digambarkan sederhana dan rutin: bekerja, pulang, beristirahat, lalu kembali bekerja. Namun dalam kehidupan saya, ada ruang lain yang selalu saya jaga—ruang membaca dan menulis.
Sejak masih duduk di bangku sekolah menengah pertama, saya sudah memiliki kebiasaan membaca artikel. Saya membaca tulisan tentang sejarah, isu sosial, catatan jurnalis, hingga berbagai opini dari banyak platform. Dari membaca, saya merasa dunia menjadi lebih luas. Pengetahuan tidak harus datang dari pendidikan formal saja; kadang ia datang dari rasa ingin tahu yang sederhana.
Dari kebiasaan membaca itu, lahirlah kebiasaan lain: menulis.
Blog yang saya buat bukanlah blog yang besar atau terkenal. Blog itu hanyalah tempat sederhana untuk mencurahkan pikiran, mencatat pengamatan, dan mendokumentasikan apa yang saya lihat. Namun bagi saya, blog itu memiliki makna yang sangat dalam. Ia seperti sebuah arsip kecil kehidupan—tempat saya menyimpan cerita, refleksi, dan pengalaman.
Dalam blog tersebut, saya menulis berbagai hal.
Pertama adalah esai reflektif, yaitu catatan tentang bagaimana saya memandang kehidupan sehari-hari. Menjadi seorang pekerja tidak membuat saya berhenti berpikir atau mengamati dunia di sekitar. Justru dari kehidupan yang sederhana itu, saya belajar banyak tentang manusia, kerja, harapan, dan realitas sosial.
Kedua adalah catatan perjalanan ke tempat bersejarah. Bandung memiliki banyak lokasi yang menyimpan jejak masa lalu: stasiun tua, bangunan kolonial, hingga kawasan yang dahulu memiliki peran penting dalam sejarah transportasi dan perkebunan. Ketika saya mengunjungi tempat-tempat tersebut, saya mencoba mencatat apa yang saya lihat—baik kondisi bangunannya, suasana lingkungannya, maupun cerita sejarah yang melekat padanya.
Ketiga adalah catatan objektif tentang bangunan kolonial Belanda. Saya berusaha menuliskannya secara sederhana tetapi tetap informatif. Misalnya tentang fungsi bangunan pada masa kolonial, bentuk arsitekturnya, serta bagaimana kondisinya saat ini. Bagi saya, bangunan-bangunan tersebut bukan hanya sisa masa lalu, tetapi juga bagian dari memori kota.
Selain itu, blog ini juga memuat opini pribadi saya mengenai berbagai isu sosial atau sejarah. Opini tersebut tidak dimaksudkan untuk menggurui siapa pun, melainkan hanya sebagai sudut pandang seorang pembaca dan pengamat.
Blog ini juga menjadi ruang untuk dokumentasi visual, seperti foto tempat bersejarah atau video musik klasik biola yang sering saya dengarkan ketika menulis. Musik biola memiliki nada yang tenang dan melankolis; ia membantu saya masuk ke dalam suasana reflektif ketika menuliskan cerita atau pengalaman.
Pada akhirnya, blog ini bukan tentang popularitas atau jumlah pembaca. Blog ini adalah tentang jejak pikiran. Tentang bagaimana seorang karyawan sederhana mencoba memahami dunia melalui membaca, menulis, dan mengamati kota tempat ia dilahirkan.
Mungkin suatu hari nanti tulisan-tulisan ini akan dibaca oleh orang lain. Atau mungkin juga tidak. Namun bagi saya, menulis adalah cara untuk meninggalkan catatan kecil tentang kehidupan—sebuah arsip sunyi yang akan tetap ada bahkan ketika saya sudah tiada.
