Tiga Gelagar pilar jembatan kecil, jalur kereta api Dayeuhkolot Majalaya

 Menelusuri jejak perkeretaapian di jalur Dayeuhkolot Majalaya, jalur yang sudah nonaktif pada tahun 1943 masih meninggalkan jejak berupa pilar jembatan kecil. 

Dua Gelagar pilar jembatan kereta api Dayeuhkolot Majalaya. ( Foto : Saepul Permana )

________________________________________________________

Dalam sebuah penelusuran kali ini saya menyusuri kembali bekas peninggalan sejarah perkeretaapian yang meliputi Dayeuhkolot - Majalaya, kali ini saya menelusuri sekaligus observasi mandiri, saya berjalan dari rumah saya pukul 16:00, kondisi saat itu terkadang hujan terkadang cerah lalu hujan lagi begitupun seterusnya yang membuat saya harus banyak berhenti di berbagai tempat untuk menghindari basahnya air hujan. 

Sambil menunggu hujan reda saya mengecek kamera saya mengelapnya memastikan kondisi gambar cukup bagus dan jernih, karena saat itu sedang berada di bulan Ramadhan jadi saya menunggu sambil melihat sekitar, lalu saya mengecek kaca pembesar memastikan kaca pembesar bersih dari debu, setelah menunggu beberapa lama hujan akhirnya berhenti, meskipun Berhenti tetap saja saya harus waspada karena hujan bisa kembali turun.

Saya menyalakan motor saya lalu berjalan melewati jalan Cikopo di kawasan Cikopo jalanan cukup padat karena banyaknya pengendara yang melintas mengharuskan saling mengalah, kemacetan belum berakhir sampai di situ, kemacetan kembali terjadi di persimpangan jalan menuju, pakserang Ciparay, sebenarnya saya bisa saja memasuki jalan menuju pakserang Ciparay lalu berjalan memasuki gang Ciparay yang merupakan jalur kereta api itu sendiri namun saya memilih jalan raya, sambil menunggu dan berjalan di tengah kemacetan ciparay, saya melihat sekitar kondisi memang sedikit mendung di pegunungan lain tampak berwarna putih, saya menyipitkan mata saya ternyata itu sebuah kabut. 

Saya melanjutkan perjalanan melewati masjid kebanggaan warga Ciparay, masjid Al karomah. Masjid tersebut tampak megah terbuat dari bahan emas saya sempat memasuki masjid tersebut sambil beristirahat dan shalat ashar, sesekali saya akan mereviewnya di waktu yang akan datang, saya melanjutkan perjalanan jalanan menuju Ciparay tampak ber variasi, kadang macet kadang lancar hingga saya memasuki jalan menuju gang ke arah menuju sarimahi Ciparay, saya melewati gang tersebut yang merupakan bekas jalur kereta api, jembatan kecil, patok kilometer, patok ss saya lewati dari titik 0 km point satu, titik satu point dua dan seterusnya. 

Dalam hitungan saya patok akan terpasang setiap seratus meter satu, dan lebar mencapai enam meter maka dari itu saya bisa meyakini atau mengetahui patok ss dari masing masing meter, Tempat dan sebagainya, meskipun patok tersebut sudah tidak ada atau bahkan sudah tertimbun oleh rumah penduduk dan bahkan sudah runtuh. 

Setelah beberapa menit saya menyusuri gang yang merupakan bekas jalur kereta api akhirnya saya sampai di sekolah SDN sarimahi Ciparay, di samping gedung sekolah terdapat tiga Gelagar pilar bekas jembatan kereta api, ukurannya kecil tapi sangat memungkinkan saya mengobservasi tiga Gelagar tersebut, sebenarnya di setiap jalan atau jalur gang saya bisa menemukan bekas jembatan kereta api namun yang satu ini sangatlah mencolok karena bekas besi rel tampak masih terlihat, seperti bayangan bekas besi baik rel atau besi penyangga bantalan rel.

Saya mencoba mengukur lebar dari Gelagar pilar tersebut, ukurannya di perkirakan satu setengah atau dua meter, panjang sekitar tiga meter. Satu pilar terbuat dari batuan Boulder sungai di susun permukaannya di tambahkan lapisan semen dan batu kerikil kecil atau batu bubuk. Di bawah jembatan kecil terdapat sungai yang mengalir

Pilar pertama yang di perkirakan lebarnya sekitar dua meter, di bawahnya sungai irigasi kecil yang sering di gunakan warga untuk kebutuhan persawahan, tembok merah di sebelahnya adalah bangunan sekolah SDN sarimahi ( Foto : Saepul Permana)

Saya mencoba memperhatikan setiap Boulder batuan yang tersusun rapi, terstruktur. Boulder batuan kemungkinan berasal dari sungai yang entah dari mana asalnya, satu Boulder menarik perhatian saya, batu tersebut tampak berwarna hitam, karena jujur bagi saya melihat batuan Boulder yang berwarna abu-abu kehitaman itu sangatlah menarik, saya mencoba mengambil satu Boulder batuan tersebut lalu mengambil kaca pembesar, anehnya ketika saya akan mengecek Boulder tersebut tangan saya berwarna kehitaman, saya mencuci Boulder batuan tersebut menggunakan air sungai, taunya itu bukan hitam yang sebenarnya, itu adalah jelaga bekas pembakaran, Boulder yang sebenarnya berwarna sedikit kemerahan.

Boulder batuan bulat yang berukuran kecil, di ambil dari sungai sungai sekitar, mungkin sungai Cirasea sebagian batuannya sudah di ambil atau entah kemana, tanaman liar menjadi pemandangan di bekas bangunan kolonial Belanda ( foto : Saepul Permana )

Sebelum saya mengecek lebih lanjut, saya ingin menjelaskan asal muasal dari jelaga yang menempel di tangan saya, 2019 lalu, lebih tepatnya sebelum pandemi covid 19 melanda saya sempat blusukan di jalur ini, namun pada saat itu saya belum memikirkan untuk membuat blog, vlog atau dokumentasi seperti ini, seingat saya pilar ini sempat di penuhi tumpukan sampah, saat itu saya hanya melihat di bagian permukaan saja, begitu sampah di bersihkan, entah saya lupa karena sudah lama tidak blusukan jalur ini.

Baca juga :

Waterreservoir bij het treinstation Dayeuhkolot

Yang jelas Jelaga tersebut menempel di batuan sehingga membentuk Boulder batuan hitam. Lanjut ke penelitian atau observasi, setelah saya mencuci batuan tersebut tampak batuan di dalamnya berwarna sedikit kemerahan, namun pada saat saya membelah batuan tersebut menggunakan palu, batuan tampak keras saya terus berusaha membelah batuan tersebut dan di dalamnya saya menemukan hal menarik, batuan di dalamnya Tampak berwarna abu abu muda, permukaannya halus, terdapat titik-titik putih.

Saya merasa senang seakan menemukan harta Karun, saya mengambil kaca pembesar, di bagian luar batuan tampak berwarna kemerahan, dan di permukaannya terdapat rongga kemungkinan bekas gas yang keluar dari sisa letusan vulkanik, Lalu ke bagian dalam batuan yang berwarna abu abu muda, saya mengecek menggunakan kaca pembesar, Tampak sangat jelas mineral berwarna putih, bisa jadi itu adalah plagioklas atau hornblende. 

Plagioklas biasanya berwarna putih, kalau bisa saya jawab itu adalah jenis batuan andesit karena berwarna abu-abu muda, permukaannya halus terdapat titik-titik mineral berwarna putih dan itu sangatlah kecil seperti titik putih tapi begitu di perbesar dengan kaca pembesar itu akan sangatlah jelas

Baca juga : 

Keseimbangan yang Berat Sebelah, Keadilan yang Memudar Digantikan Keserakahan, dan Rakyat Kecil yang Menanggung Beban

Setelah mengecek batuan pondasi kini giliran saya mengecek bagian lapisan luar dari pilar tersebut, tampak adukan berwarna coklat mungkin karena usia dan perlu di ketahui usia jembatan ini sudah berusia 100 tahun, lapisan luar tampak kecoklatan dan ada titik hitam yang kemungkinan itu jenis batuan yang sama batuan andesit namun sudah di kecilkan saya menyebutnya sebagai batuan Sprite, bukan minuman tapi namanya memang jenis batuan Sprite, batuan andesit yang sudah di giling menjadi batuan kecil seperti serbuk. 

Saya mengecek menggunakan kaca pembesar di luar tampak tidak jelas dan satu keputusan pahit harus aku lakukan membelah tembokan tersebut untuk melihat bagian dalam dari adukan pilar, saya mengambil palu yang saya pinjam dari warga yang tidak jauh dari jembatan dan saya bisa melihat di dalamnya terdapat lapisan kapur dan batuan andesit di bagian dalam bongkahan adukan semen yang sudah mengeras, salah satu warga menanyakan "kenapa bisa mengetahui usia pilar tersebut?" Pertanyaan itu adalah hal yang menarik, karena beberapa peneliti selalu melihat jejak rekaman bangunan bisa dengan menggunakan alat yang cukup canggih, bagi saya mengecek jejak kolonial Belanda, 

saya biasa melakukannya berdasarkan riwayat bangunan tersebut dan bahan bangunan yang di gunakan pada masanya, bisa di bilang dan di perkirakan, bentukannya seperti terasso yang berada di stasiun Dayeuhkolot namun yang ini masih terbilang cukup kasar, lalu saya mengambil botol berisi asam asetat dan mengeluarkan suara desisan, bau asam menyeruak dan itu cukup kuat untuk membuktikan bahwa bekas pilar tersebut masih asli tidak ada pembaruan sedikitpun, bisa di bilang masih mempertahankan bangunan kolonial Belanda.

Setelah mengecek kondisi pilar jembatan akhirnya saya memutuskan untuk pulang, saya melihat sekitar kondisinya mulai kembali mendung tidak menutup kemungkinan hujan akan kembali turun, saya memasukkan peralatan saya dan memutuskan untuk pulang saya berpamitan pada beberapa warga yang melihat, saya menyalakan motor saya dan memutuskan untuk pulang.

Penelitian atau observasi mandiri di tiga pilar jembatan kereta api di jalur Dayeuhkolot Majalaya cukup menarik, jalur yang sudah mati selama ratusan tahun masih berdiri kokoh meskipun jalur tersebut sudah padat penduduk namun tiga Gelagar pilar jembatan kecil tersebut memiliki jejak rekam kejayaan perkeretaapian pada masanya, dan saya tak bisa membayangkan apabila jalur tersebut di aktifkan kembali, bagaimana nasib sekolah SDN sarimahi Ciparay, mengingat bangunannya tepat sejajar dengan bekas jembatan tersebut, meskipun bisa di bilang jembatannya cukup kecil tapi itu adalah bagian kecil dari warisan jejak perkeretaapian di Dayeuhkolot Majalaya. 

#jalurmati #jejakkolonial #keretaapibelanda #staatspoorwegen #keretaapiindonesia 

Saepul Permana Hidayat

Merekam senyap dari balik lensa. Menyusun cerita dari langkah kaki dan cahaya. Di antara pasar tua, bangunan kosong, dan jalan tak bernama, aku menulis tentang yang terlupakan agar tidak benar-benar hilang

Posting Komentar

Lebih baru Lebih lama