Waterreservoir bij het treinstation Dayeuhkolot

 Watertorn stasiun Dayeuhkolot merupakan aset milik pihak perkeretaapian Indonesia, saya menyusuri dan meneliti bagian dari watertorn stasiun Dayeuhkolot, banyak sekali hal yang menarik untuk di lihat dan di amati dalam observasi saya

Watertorn stasiun Dayeuhkolot yang masih tampak berdiri gagah terkepung oleh rumah penduduk, ( Foto : saepul permana )
______________________________________________


Sore itu sekitar pukul 16.30 saya meninggalkan tempat kerja. Jalanan terasa lebih padat dari biasanya. Bulan Ramadhan selalu membawa suasana yang berbeda di jalan-jalan kecil maupun jalan utama. Banyak orang berjualan makanan dan menu takjil di sepanjang pinggir jalan. Aroma gorengan, kolak, dan berbagai makanan berbuka bercampur dengan suara kendaraan yang bergerak perlahan.

Dari perempatan jalan Cipicung arus lalu lintas mulai tersendat. Kendaraan berjalan perlahan seakan membentuk arus yang sabar namun penuh. Kondisi itu berlanjut hingga kawasan Dayeuhkolot. Meski sudah sering melewati daerah ini, ada satu tujuan yang membuat perjalanan sore itu terasa berbeda.

Setibanya di kawasan Ria Busana Dayeuhkolot saya memutar arah menuju sebuah bangunan tua yang sudah lama menarik perhatian saya: watertorn bekas Stasiun Dayeuhkolot.

Bangunan itu berdiri sunyi di tengah pemukiman warga. Dahulu ia memiliki fungsi yang sangat penting, yakni sebagai penampungan air untuk kebutuhan lokomotif uap. Namun kini ia hanya menjadi saksi bisu masa lalu, sebuah struktur tua yang perlahan dikuasai alam.

Saya memarkirkan motor di dekat rumah warga, lalu berjalan perlahan mendekati area tersebut. Dari kejauhan watertorn itu tampak seperti menara tua yang ditinggalkan waktu. Dindingnya mulai terkelupas, dipenuhi lumut dan tanaman liar yang tumbuh tanpa kendali.

Sebelum mendekat, saya berkeliling terlebih dahulu untuk mencari akses yang memungkinkan. Saya menyusuri sisi bangunan, memperhatikan setiap sudutnya. Hingga akhirnya saya menemukan sebuah celah. Tangga yang mengarah ke bagian atas watertorn tampaknya mendarat tepat di belakang sebuah rumah kontrakan warga.

Tanpa berpikir panjang saya memasuki halaman kontrakan tersebut. Namun langkah saya terhenti ketika seorang pria paruh baya mendekati saya. Wajahnya terlihat penasaran.

“Cari siapa kang?” tanyanya. 

Saya tersenyum santai lalu menjawab, “Tidak mencari siapa-siapa pak. Saya hanya ingin napak tilas sejarah perkeretaapian di Dayeuhkolot.”

Tak lama kemudian seorang penghuni kontrakan keluar. Sepasang pria dan wanita lanjut usia tampak berdiri di pintu. Saya pun segera meminta izin kepada mereka untuk melihat bangunan watertorn yang berada di belakang rumah tersebut. Untungnya mereka mengizinkan. 

Kini saya berdiri tepat di depan watertorn Stasiun Dayeuhkolot. Saya memulai pengamatan dari bagian paling atas. Di puncak menara terdapat tangki penampungan air. Struktur tangki itu tampak sudah berkarat. Permukaan dindingnya memperlihatkan sambungan baut yang cukup jelas, menandakan bahwa tangki tersebut kemungkinan besar terbuat dari baja. Karatan yang menjalar di permukaan logam memberikan kesan bahwa usia struktur ini memang sudah sangat tua.

Di bawah tangki air saya melihat bentuk ornamen yang cukup menarik. Ada tonjolan-tonjolan berbentuk kotak di permukaan dinding yang sekilas mengingatkan saya pada ornamen benteng atau kastil. Karena bentuknya itu, dalam benak saya menyebutnya sebagai “tembok ukiran kastil.” Ornamen seperti ini sering muncul pada bangunan kolonial sebagai elemen dekoratif sekaligus struktural.

Saya lalu menurunkan pandangan ke bagian badan watertorn. Struktur utamanya masih terlihat kokoh meskipun warna catnya sudah berubah menjadi putih kecoklatan akibat usia dan cuaca. Di beberapa bagian tampak tanaman anggrek liar tumbuh menempel pada dinding menara.

Pemandangan itu membuat saya sempat berpikir sejenak.

Dalam hati saya bergumam: “Seandainya di badan watertorn ini terdapat tulisan ANNO 1923, mungkin keindahan historisnya akan terasa lebih kuat.”

Memang, bangunan kolonial Belanda selalu memiliki daya tarik tersendiri. Bahkan ketika sebagian strukturnya sudah rusak atau tidak lagi berfungsi, aura sejarahnya tetap terasa.

Saya lalu menurunkan pandangan ke bagian paling bawah dari watertorn.

Bagian kaki menara tampak berbeda dari bagian atasnya. Dindingnya tersusun dari batu alam. Setelah memperhatikan teksturnya, saya memperkirakan batu tersebut adalah batu templek atau batu dengan pola kekar lembar. Jenis batu seperti ini cukup banyak ditemukan di kawasan tambang batu Baleendah.

Setelah mengamati struktur luar dari atas hingga bawah, saya mengeluarkan beberapa peralatan yang saya bawa.

Dari dalam tas saya mengambil kaca pembesar yang biasa digunakan oleh ahli geologi atau arkeologi. Selain itu saya juga mengeluarkan sebuah botol kecil berisi asam asetat yang akan digunakan untuk menguji komposisi bahan bangunan.

Saya memulai pengamatan dari bagian dinding luar.

Melalui kaca pembesar saya melihat permukaan dinding memiliki pori-pori kecil. Beberapa bagian terlihat kehijauan yang kemungkinan berasal dari lumut.

Kemudian saya bergeser ke bagian dinding yang terkelupas.

Di sanalah saya mulai melihat struktur dalam dari bodi watertorn tersebut. Komposisi materialnya tampak cukup menarik. Ada campuran pasir kasar dengan butiran mineral kecil berwarna abu-abu.

Dari pengamatan awal saya memperkirakan bahwa bahan tersebut merupakan campuran pasir dan kapur.

Namun pada bagian lain saya juga melihat adanya material berupa kerikil kecil atau serbuk batu. Hal ini membuat saya sedikit mengerutkan kening.

Biasanya material seperti ini digunakan dalam campuran beton atau bahkan terrazzo.

Saya pun sempat berpikir: apakah pada masa kolonial Belanda sudah ada mesin penggiling batu yang mampu menghasilkan serbuk batu seperti itu?

Pertanyaan tersebut sempat berputar-putar di dalam pikiran saya.

Setelah memeriksa bagian mortar, saya mengalihkan perhatian ke batu bata penyusun dinding.

Melalui kaca pembesar saya melihat tekstur batu bata yang cukup padat. Warnanya merah kecoklatan, menandakan bahwa bata tersebut dibuat dari tanah liat yang dibakar pada suhu tinggi.

Teknik pembuatan bata seperti ini memang umum digunakan pada masa kolonial karena menghasilkan material yang kuat dan tahan lama.

Ketika saya sedang fokus mengamati struktur bata, tiba-tiba saya menyadari bahwa beberapa warga mulai memasuki area tersebut.

Saya bergumam dalam hati.

“Wah… jadi bahan tontonan warga.”

Salah satu warga kemudian mendekati saya dan bertanya.

“Mau diaktifkan lagi kang?”

Saya tersenyum dan menggeleng.

“Tidak kang. Saya hanya ingin mengetahui bangunan kolonial Belanda.”

Setelah menjelaskan maksud saya, saya mengambil botol kecil berisi asam asetat. Saya meneteskan cairan tersebut ke bagian mortar dinding.

Beberapa detik kemudian terdengar suara mendesis kecil.

Muncul gelembung-gelembung kecil di permukaan dinding.

Reaksi ini menandakan adanya kalsium karbonat (CaCO₃) dalam bahan bangunan tersebut. Reaksi kimia antara asam asetat dan kalsium karbonat menghasilkan kalsium asetat, air, dan gas karbon dioksida.

Dengan kata lain, mortar pada watertorn ini memang mengandung kapur, yang merupakan bahan umum dalam konstruksi bangunan kolonial.

Setelah selesai melakukan pengujian di bagian bawah, saya berpindah ke bagian yang lebih tinggi.

Untuk mencapai posisi tersebut saya harus memasuki rumah warga yang berada tepat di samping watertorn. Saya kembali meminta izin kepada pemilik rumah.

Mereka mengizinkan saya naik hingga lantai tiga.

Dari sana saya berjalan perlahan di atas genting menuju sisi menara air. Saya menyentuh permukaan tangki yang sudah berkarat.

Salah satu warga kemudian menunjuk sebuah celah kecil pada tangki.

Saya mengintip ke dalam.

Di dalamnya ternyata sudah tumbuh tanaman liar. Tanah dan akar-akar kecil memenuhi dasar tangki, seolah-olah alam sedang mengambil kembali ruang yang pernah dikuasai manusia.

Saya lalu mengambil kamera dan memotret bagian dalam penampungan air tersebut.

Dalam benak saya terbayang bagaimana dahulu air dipompa dari sumur menuju tangki ini. Dari tangki tersebut air kemudian dialirkan melalui belalai air untuk mengisi lokomotif uap.

Namun kini hampir semua sistem itu sudah hilang.

Belalai air sudah tidak ada. Pipa-pipa lama juga tidak terlihat lagi.

Bahkan rumah warga yang saya pijak sekarang, menurut cerita warga, dulunya adalah sumur besar yang menjadi sumber air bagi lokomotif.

Tangki watertorn stasiun Dayeuhkolot di lihat di bagian atas lantai tiga milik warga ( foto Saepul Anwar)

Tampak terlihat jelas tangki watertorn stasiun Dayeuhkolot yang sudah berkarat, pipanya di gunung untuk mengisi air dari sumur kemudian di pompa hingga ke tangki watertorn, terdapat tanaman liar tumbuh ( foto : saepul permana)

Bagian dalam tangki watertorn stasiun Dayeuhkolot yang sudah di tumbuhi tanaman liar ( foto : saepul Permana)

Warga menyebutnya Sumur Bandung, karena airnya sangat melimpah. Setelah selesai melakukan pengamatan struktur bangunan, saya berbincang dengan beberapa warga yang tinggal di sekitar lokasi.

Dari percakapan itu muncul berbagai cerita.

Ada yang mengatakan bahwa sering terlihat sosok putih duduk santai di atas penampungan air.

Ada pula yang mengaku pernah melihat siluman ular yang melilit watertorn, dengan tubuh ular namun kepala manusia.

Saya hanya mendengarkan dengan tenang.

Bagi saya, cerita seperti itu adalah bagian dari kehidupan masyarakat yang tumbuh di sekitar bangunan tua.

Seorang ibu yang sedang menyiapkan dagangan untuk berbuka puasa juga ikut bercerita.

Katanya dahulu di dekat watertorn memang terdapat sumur besar.

“Dulu mah kang, ibu sempat lihat sumurnya gede pisan. Sekitar tahun delapan puluhan masih ada. Sekarang sudah ditimbun.”

Ia juga mengatakan bahwa nenek dan kakeknya dulu pernah naik kereta dari Dayeuhkolot menuju Ciwidey.

Seorang pria paruh baya kemudian menambahkan cerita lain.

“Dulu waktu stasiun Dayeuhkolot masih aktif, klakson kereta api sering dipakai sebagai penanda waktu imsak di bulan Ramadhan.”

Saya mengangguk pelan.

Cerita-cerita itu membuat watertorn ini terasa lebih hidup. Ia bukan sekadar bangunan tua, melainkan bagian dari memori kolektif masyarakat.

Bagi saya, setiap detail struktur, setiap cerita warga, bahkan setiap lumut yang tumbuh di dindingnya adalah bagian dari kisah panjang perjalanan watertorn Stasiun Dayeuhkolot.

Dan sore itu, di tengah suasana Ramadhan yang perlahan mendekati waktu berbuka, saya merasa seolah sedang berbincang dengan masa lalu.


Saepul Permana Hidayat

Merekam senyap dari balik lensa. Menyusun cerita dari langkah kaki dan cahaya. Di antara pasar tua, bangunan kosong, dan jalan tak bernama, aku menulis tentang yang terlupakan agar tidak benar-benar hilang

Posting Komentar

Lebih baru Lebih lama