Aku tidak berasal dari keluarga yang mengusung prinsip yang sama denganku. Ketika aku memilih untuk berjalan berbeda, aku dianggap menyimpang. Diamnya mereka bukan berarti tidak tahu, tapi karena mereka memilih tidak peduli. Aku tahu betul rasanya menempuh hidup dengan keyakinan sendiri, sambil dilabeli “keras kepala”, “tidak tahu arah”, atau “membangkang”.
Dulu aku bertanya, “Kenapa aku harus sekolah kalau pada akhirnya tidak ada gunanya?” Aku berjuang menempuh pendidikan, memahami nilai-nilai, menggali pengetahuan, tapi semua itu tidak pernah dianggap penting dalam lingkaran tempatku tumbuh. Tak ada tepuk tangan, tak ada pengakuan. Yang ada justru pertanyaan-pertanyaan sinis: “Buat apa susah-susah belajar? Mana hasilnya?”
Lalu kulihat sebagian dari mereka yang tidak melanjutkan pendidikan. Yang hidupnya lebih bebas, tanpa beban. Nongkrong di tengah malam, menghabiskan waktu tanpa arah, menenggak minuman keras seolah dunia ini tak butuh pertanggungjawaban. Aku bisa saja ikut jalan itu, mengikuti arus tanpa peduli. Tapi aku tidak melakukannya.
Bukan karena aku suci, tapi karena aku tahu satu hal: aku terdidik. Aku punya akal, punya kesadaran, punya prinsip tentang hidup seperti apa yang ingin kutapaki. Meski prinsip itu tidak selalu memberiku kemudahan, tapi ia memberi arah. Aku tahu jalan yang kupilih ini bukan jalan cepat menuju keberhasilan, tapi aku juga tidak sedang berlomba dengan siapa pun.
Namun sering kali, aku merasa sendirian dalam idealisme ini. Semua terasa tidak berguna ketika tak satu pun orang terdekat memahami mengapa aku memilih jalan ini. Kadang aku ingin menyerah. Kadang aku ingin berkata, “Ya sudah, biar aku jadi seperti mereka saja.” Tapi kemudian aku sadar, aku tidak bisa membohongi diriku sendiri. Aku tetap akan jadi diriku, meski harus tertatih-tatih dalam sepi.
Ironi hidup ini semakin menusuk saat aku mengingat masa lalu—saat aku masih mencari jati diri, masih belum utuh sebagai manusia. Alih-alih didukung, aku dibenturkan dengan perbandingan: “Lihat si A, umur 30 belum menikah.” “Si B, sudah 35, belum juga punya pasangan.” Mereka menyebutkan nama-nama itu dengan nada meremehkan, seakan keterlambatan menikah adalah aib yang memalukan.
Tapi sekarang, nama-nama itu sudah menikah. Mereka sudah punya anak, rumah tangga, kehidupan yang ‘normal’. Sementara aku yang kala itu meniru keteguhan mereka—dalam berpikir panjang, menunda pernikahan demi kesiapan mental dan tanggung jawab—justru dipandang sebagai kegagalan. Aku disingkirkan, dikucilkan, dianggap terlalu idealis, terlalu aneh, dan bahkan... tak berguna.
Aku seperti puing-puing dari rumah besar yang sudah tak ingin mengingatku. Tapi aku tidak menyesal. Karena meskipun aku sendirian, aku tetap punya prinsip. Meski prinsip ini menyakitkan dan tak berbuah manis saat ini, ia tetap milikku. Aku percaya, satu waktu kelak, jalan yang kupilih akan bermakna—jika bukan untuk mereka, setidaknya untukku sendiri.
Aku tidak menikah karena aku tahu pernikahan bukan sekadar pesta, bukan hanya tentang gelar sosial. Pernikahan adalah soal tanggung jawab, soal kematangan, soal kesiapan menyatukan dua dunia. Aku tidak ingin menikah hanya karena tekanan sosial atau demi menghindari celaan. Aku ingin menikah ketika aku siap mencintai dengan tanggung jawab, bukan sekadar mengisi kekosongan.
Mungkin mereka menganggap aku keras kepala. Tapi sesungguhnya, aku hanya sedang berusaha jujur pada diriku sendiri. Aku tidak ingin hidup atas skenario orang lain. Aku tahu jalan ini menyakitkan, tapi aku juga tahu bahwa lebih menyakitkan lagi jika aku pura-pura menjadi orang yang bukan diriku.
Aku mungkin dikucilkan. Mungkin keluarga sendiri pun merasa aku adalah beban atau aib. Tapi aku masih punya kekuatan yang tak mereka lihat: pikiranku. Prinsipku. Jalan yang sedang kuukir sendiri meski tanpa peta. Dan di balik semua luka yang kudapatkan, aku masih bisa berdiri. Aku masih bisa menulis. Aku masih bisa berbicara melalui karya.
Jalur Lensa adalah bentuk perlawanan halusku. Di sana aku menaruh semua yang tak bisa kuucapkan. Ia adalah rumah dari pemikiran-pemikiran yang ditolak dunia nyata. Ia menjadi saksi bahwa aku pernah mencoba berjalan meski tak ada yang menemani. Aku menuliskan bukan untuk dipuja, tapi agar aku tahu bahwa aku masih hidup—bahwa ada satu tempat di dunia ini yang sepenuhnya milikku.
Biarkan mereka menganggapku bukan siapa-siapa. Biarkan mereka mencibir, menggunjing, atau bahkan melupakan. Tapi aku akan tetap berjalan. Meski kaki ini berdarah. Meski hati ini lelah. Karena aku tahu, hidup bukan tentang diterima oleh semua orang. Hidup adalah tentang bertahan dengan nilai-nilai yang kau yakini, bahkan ketika dunia tidak menganggapnya berharga.
Dan jika suatu hari nanti, langkahku ini membawaku ke tempat yang bisa kusebut sebagai keberhasilan—bukan keberhasilan versi mereka, tapi versiku sendiri—aku akan ingat hari-hari saat aku merasa tidak berguna. Aku akan tahu, bahwa luka-luka ini bukan sia-sia.
Aku menulis ini sebagai pengingat untuk diriku sendiri: bahwa prinsip yang dihidupi dengan kesadaran, walau sepi, tetap lebih bermakna dari hidup yang dijalani dengan kepalsuan.