Memaknai media berita dari bandungbergerak.id, media pemberitaan lokal yang berisi pemberitaan reflektif, dan tidak terbawa arus dari riuhnya pemberitaan asing
 |
Screenshot Media berita bandungbergerak.id |
Ada sesuatu yang berbeda ketika membuka bandungbergerak.id. Bukan sekadar portal berita, melainkan sebuah ruang yang terasa seperti lorong panjang di dalam kepalaku—tempat di mana cerita-cerita rakyat kota ini bernaung. Mungkin terdengar berlebihan bagi sebagian orang, tapi bagi saya, setiap foto pedagang, keluhan warga, atau laporan ekonomi kecil di sudut kota, seperti mengetuk bagian terdalam diri saya.
Saya bukan jurnalis. Saya hanya seorang karyawan biasa yang menjalani hari dengan ritme yang hampir sama: pergi pagi, pulang sore, lalu menyisihkan waktu untuk membaca. Namun, di tengah banjir informasi yang terus menghantam layar ponsel, saya menemukan bahwa sebagian besar berita hanya lewat begitu saja. Tidak membekas. Tidak menggerakkan.
Dingin pada Isu Viral
Teman-teman di kantor sering mengajak bicara soal topik-topik yang sedang ramai: bendera One Piece di sebuah acara, tes DNA seorang tokoh publik, atau pernikahan selebriti. Kadang saya bertanya, “Sumbernya dari mana?” dan jawabannya hampir selalu sama: TikTok atau potongan berita di media sosial.
Di situ saya merasakan jarak. Bukan berarti saya merasa lebih baik, hanya saja—isu-isu itu tidak punya akar di hati saya. Mereka seperti kembang api di langit malam: indah sesaat, lalu hilang tanpa bekas.
Saya tidak menolak hiburan, tapi ketika sebuah berita hanya hidup selama dua atau tiga hari lalu mati ditelan arus topik baru, saya merasa ada yang hampa. Dalam diam, saya mulai sadar: saya butuh berita yang memberi saya alasan untuk berpikir, bukan hanya alasan untuk mengobrol.
Pertemuan dengan Suara yang Berbeda
Lalu saya menemukan bandungbergerak.id.
Berita-beritanya tidak berteriak-teriak memaksa perhatian, tidak pula bersaing dengan arus gosip dan sensasi. Mereka seperti duduk di bangku taman, menunggu pembacanya datang dengan tenang.
Di sana saya membaca tentang keluhan pedagang pasar tradisional yang terhimpit harga sewa kios. Saya melihat foto-foto yang tidak dibingkai demi estetika semata, tapi demi menceritakan kenyataan. Saya menemukan laporan-laporan tentang ekonomi rakyat yang jarang disentuh media besar, seolah isu-isu itu terlalu “kecil” untuk dijadikan headline.
Bagi saya, justru di sanalah letak nilainya.
Kota yang Terasa Lebih Dekat
Saya lahir dan besar di Bandung, tapi anehnya, banyak sisi kota ini yang dulu terasa asing bagi saya. Membaca bandungbergerak.id seperti membuka peta baru—bukan peta geografis, melainkan peta kehidupan. Saya mengenali nama-nama daerah yang sering saya lewati, namun kini saya memandangnya dengan mata yang berbeda.
Bukan sekadar “jalan ini macet” atau “pasar itu ramai”, tapi: “di sini ada seorang pedagang yang berjuang melawan naiknya harga sewa”, atau “di sana ada sekelompok warga yang mengajukan protes demi air bersih”.
Tiba-tiba, kota ini menjadi lebih nyata. Lebih dekat. Lebih manusiawi.
Refleksi tentang Nilai dan Pilihan
Membaca berita di bandungbergerak.id membuat saya bertanya pada diri sendiri: berita seperti apa yang pantas mendapat waktu saya?
Di era ini, perhatian adalah mata uang. Kita membayarnya setiap kali mengklik sebuah judul, menonton video, atau membagikan tautan. Kalau begitu, mengapa saya harus membayar dengan perhatian saya pada isu yang hanya menguras energi tanpa memberi makna?
Saya memilih untuk “berinvestasi” pada berita yang membangun kesadaran saya sebagai warga kota. Berita yang mungkin tidak membuat saya tertawa atau terkejut, tapi membuat saya mengerti sedikit lebih banyak tentang realitas di sekitar saya.
Bukan Jurnalis, Tapi Terlibat
Saya sadar, saya bukan bagian dari bandungbergerak.id. Saya tidak menulis berita, tidak memotret di lapangan, tidak pula mewawancarai narasumber. Tapi sebagai pembaca, saya merasa terlibat.
Ketika membaca kisah seorang penjual gorengan yang melawan kenaikan harga minyak, saya ikut merasakan kegelisahannya. Ketika melihat foto seorang anak bermain di gang sempit yang rawan banjir, saya merasakan campuran antara iba dan kagum.
Saya tidak harus menjadi jurnalis untuk merasa bahwa cerita-cerita ini penting. Karena pada akhirnya, kota ini adalah rumah bersama, dan suara rakyat adalah gema yang seharusnya kita dengar, bukan hanya riuh selebritas dan isu viral.
Menemukan Ritme Tenang
Di dunia yang bergerak cepat, bandungbergerak.id mengajarkan saya untuk melambat.
Setiap berita bukan hanya informasi, tapi undangan untuk merenung. Tidak ada sensasi yang memaksa saya bereaksi dalam 30 detik. Saya bisa duduk, membaca, memikirkan, lalu membiarkan cerita itu mengendap.
Hasilnya, saya merasa lebih tenang. Tidak semua hal harus direspon. Tidak semua berita harus dikejar. Ada nilai dalam diam, dalam memilih, dan dalam menolak arus yang terlalu bising.
Suara yang Melekat
Bagi sebagian orang, bandungbergerak.id mungkin hanya satu dari sekian banyak portal berita lokal. Tapi bagi saya, ia seperti sahabat lama yang tahu cara berbicara tanpa perlu berteriak.
Berita-berita di sana mungkin tidak selalu membuat saya tersenyum, bahkan seringkali membuat hati berat. Namun, itu adalah beban yang layak dipikul—beban yang mengingatkan saya bahwa menjadi warga kota bukan hanya soal menikmati fasilitasnya, tapi juga memahami luka dan perjuangannya.
Pada akhirnya, saya mungkin hanyalah seorang karyawan biasa. Tapi setiap kali membaca bandungbergerak.id, saya merasa menjadi bagian dari sesuatu yang lebih besar dari diri saya. Sesuatu yang tidak mengejar kilatan sensasi, tapi mengabadikan denyut nadi kota ini.
Dan meski saya bukan jurnalis, saya akan selalu merasa bahwa bandungbergerak.id adalah bagian dari diri saya—bagian yang mengajarkan, bahwa di tengah hiruk pikuk isu viral, selalu ada ruang untuk mendengar suara yang benar-benar penting.