Merenungi serta memotret dari luka arsitektur dari sebuah rumah kosong di cibisoro kecamatan bojongsoang kabupaten bandung
![]() |
Rumah terbengkalai di cibisoro kecamatan bojongsoang kabupaten bandung ( Saepul Permana ) |
Langkahku pelan. Rumput liar merayap ke segala arah, mencengkeram pondasi, seperti tangan waktu yang tak pernah lelah menarik segala yang hidup kembali ke tanah. Bagi orang lain, rumput liar ini mungkin simbol kematian atau keterlantaran. Tapi bagiku, ia seperti bingkai alami bagi kesunyian—hiasan yang anehnya selaras dengan kekosongan yang menyelimuti rumah itu.
Pintu kayu di depanku sudah tak terkunci. Ketika kudorong, suara engselnya memekik, memecah udara yang dingin dan sedikit lembap. Ruang pertama yang kumasuki cukup luas, temboknya didominasi keramik putih. Cahaya matahari masuk dari celah-celah jendela tanpa kaca, memantulkan bayangan yang dingin di lantai berdebu. Di ruang ini, ingatanku menelusuri kembali sebuah berita yang pernah kubaca: pembunuhan seorang perempuan, NN, di rumah kosong ini pada penghujung tahun 2022.
Kisahnya gelap dan kejam. NN, seorang perempuan 38 tahun dari Bojongsoang, tewas di tangan AA—seorang pria yang baru dikenalnya dua hari. Motifnya keji dan dangkal: hutang seratus ribu rupiah, nafsu yang ditolak, dan amarah yang mematikan. AA, yang bekerja sebagai muncikari, memukuli NN hingga terjatuh dari lantai dua rumah ini. Saat berusaha menutupi perbuatannya, ia mengarang cerita kecelakaan lalu lintas. Tapi kebohongan itu runtuh di hadapan penyelidikan polisi.
Aku berdiri lama di ruang ini, membayangkan sisa-sisa langkah yang pernah ada. Bayangkan saja, keramik putih yang kini retak mungkin pernah menjadi saksi bisu benturan kepala, tumpahan darah, atau jeritan yang teredam. Tak ada noda yang tersisa sekarang—hanya udara dingin yang terasa lebih berat dari seharusnya. Di titik ini, aku menyadari: luka arsitektur bukan hanya retakan fisik, tapi juga memori yang menempel pada ruang, meski semua bukti kasat mata telah lenyap.
Setelah memotret beberapa sudut ruangan, aku melangkah menuju tangga. Tangga ini sempit, hanya muat untuk satu orang. Besinya berkarat, kayunya rapuh, seakan mengeluh setiap kali kutapaki. Sampai di atas, aku sadar lantai dua rumah ini tidak lagi memiliki lantai beton. Sepertinya dulunya terbuat dari papan kayu yang kini sudah lapuk dan hilang. Aku menapak di kusen pintu yang tak lagi memiliki kaca, kemudian masuk ke satu-satunya kamar di lantai ini.
Kamar itu kembali dipenuhi keramik putih, namun kali ini coretan vandalisme merajalela di dinding. Huruf-huruf liar dan simbol-simbol tak jelas, entah dibuat oleh siapa, entah untuk alasan apa. Satu jendela terbuka lebar, menghadap langsung ke hamparan sawah yang membentang sejauh mata memandang. Kontrasnya memukul batinku—di dalam, ruang ini adalah kapsul kehancuran; di luar, dunia hijau dan penuh kehidupan.
Aku memotret pemandangan itu, mencoba menangkap ironi yang hadir di depanku. Kamera mengabadikan garis horizon, gubuk-gubuk kecil di antara petak sawah, dan para petani yang tekun bekerja. Beberapa memotong rumput liar untuk ternak, yang lain membungkuk menanam bibit padi. Mereka semua bergerak dalam ritme yang sama dengan angin yang berhembus pelan.
Aku duduk di ambang jendela, mengeluarkan bungkus rokok. Api dari korek menyala sebentar, lalu asap mulai mengepul, naik pelan-pelan dan larut ke udara. Ada ketenangan aneh di momen itu. Sesekali angin membawa aroma khas pesawahan—wangi yang selalu membuatku teringat masa kecil. Di bawah sana, kehidupan terus berjalan tanpa peduli bahwa di atas, aku duduk di ruang yang pernah menjadi saksi kematian.
Dalam kepala, aku bertanya-tanya: bagaimana jika rumah ini bisa berbicara? Apakah ia akan berbisik tentang tawa penghuni pertamanya, ataukah langsung menceritakan malam kelam itu? Apakah ia ingin dilupakan, atau justru ingin diingat agar kisahnya menjadi peringatan?
Rokokku hampir habis. Kutaruh di lantai, kupijak ujungnya hingga padam. Memandang sekali lagi ke arah sawah, aku merasakan campuran rasa syukur dan sedih. Syukur karena masih bisa menikmati pemandangan ini, sedih karena rumah ini tak bisa ikut merasakannya lagi. Ia hanya berdiri sebagai kerangka—tempat kenangan baik dan buruk melebur menjadi satu.
Menuruni tangga, aku melihat lagi ruang-ruang yang kulewati tadi. Puing-puing berserakan di sudut, seperti potongan ingatan yang tak lagi lengkap. Cahaya sore mulai masuk dari celah atap, menciptakan guratan-guratan emas di udara berdebu. Dalam hati, aku tahu rumah ini mungkin tak akan bertahan lama. Alam akan terus mengambil alih, sampai suatu hari ia runtuh sepenuhnya, dan kisahnya hanya tersisa di ingatan orang-orang yang pernah mengunjunginya.
Saat melangkah keluar, rumput liar kembali menyambutku. Aku menoleh sekali lagi ke arah rumah itu. Tak ada getaran mistis, tak ada bisikan gaib. Yang ada hanya keheningan yang dalam, seakan rumah itu sudah berdamai dengan nasibnya. Mungkin begitulah akhirnya setiap bangunan—dan setiap manusia—akan berakhir: menjadi bagian dari tanah, dengan cerita yang tinggal sebagai jejak samar di benak mereka yang mau mengingat.
Kategori
Ruang Terbengkalai