Ada sesuatu yang selalu membuat saya terdiam setiap kali berdiri di bawah mesin launcher girder. Raksasa baja itu menjulang, bergerak lambat, seperti tubuh logam yang mengangkut dunia di atas pundaknya. Tugasnya sederhana namun berat: memasang girder, balok beton raksasa seberat ber ton-ton, satu demi satu, demi menghubungkan jalur cepat yang kelak akan memotong jarak antar kota.
Gambaran pengunduran diri dalam sebuah organisasi, banyaknya tidak kecocokan yang dan kurangnya dasar dalam tugasnya masing-masing ( gambar ilustrasi : Riska Ayu Pratiwi )
Saya sering kali memandanginya terlalu lama, hingga leher kaku dan mata pegal. Namun, anehnya, ada ketenangan di sana. Kamera saya mengintai setiap momen, menunggu gerakan lambat itu selesai. Sambil menunggu, saya menyalakan sebatang rokok, membiarkan asapnya naik perlahan ke udara yang bercampur debu proyek. Kadang saya hanya duduk di tepi, menyeruput teh hangat dari termos kecil yang selalu saya bawa. Ritual sederhana, tapi justru di situlah saya menemukan ritme.
Selama berminggu-minggu mengikuti pembangunan proyek kereta cepat ini, saya nyaris tidak pernah mengalami pertentangan. Tidak ada teriakan, tidak ada kata kasar. Saya menjaga jarak, tidak ikut campur, dan mereka pun menghormati ruang saya sebagai fotografer. Bahkan suatu kali, seorang kontraktor asal Tiongkok mendekati saya. Ia tersenyum kaku, lalu meminta difoto. Katanya, ia ingin wajahnya diabadikan agar bisa dikirim kepada anak dan istrinya di kampung halaman.
Saat itu saya tersadar: di balik deru mesin, proyek raksasa, dan tekanan pekerjaan, ada sisi manusiawi yang tetap sama. Seorang ayah yang ingin dikenang, seorang suami yang ingin hadir meski hanya lewat foto. Kamera saya menjadi jembatan kecil antara dunia kerja yang keras dengan ruang rumah tangga yang hangat.
Dua Dunia yang Berbeda
Namun, pengalaman yang kontras justru saya alami di lingkup yang jauh lebih kecil. Bukan proyek negara bernilai triliunan rupiah, melainkan sebuah organisasi lokal yang mengelola pembangunan masjid. Tugas saya sama: mendokumentasikan. Kamera yang sama, niat yang sama. Saya ingin memotret, menulis, menyimpan jejak agar kelak ada dokumentasi yang bisa bercerita kepada generasi berikutnya.
Tetapi di sinilah saya justru berhadapan dengan teriakan. Saat kamera saya terangkat, sebuah suara meluncur—tajam, menyayat hati. Seolah-olah keberadaan saya tidak diinginkan. Padahal, dokumentasi bukan sekadar foto. Ia adalah catatan sejarah kecil. Ia adalah bukti bahwa sebuah momen pernah ada.
Saya jadi bertanya dalam hati: mengapa di proyek raksasa internasional saya diterima, sementara di lingkup kecil organisasi, saya dicurigai? Mungkin ada yang takut saya meminta “jatah.” Atau mungkin mereka tidak pernah benar-benar memahami arti sebuah dokumentasi. Kita hidup di era di mana jemari lebih sibuk melakukan scroll tanpa makna daripada berhenti sejenak untuk merekam momen dengan kesadaran. Kita terlalu asyik dengan konsumsi cepat, hingga lupa bahwa memori manusia rapuh, dan tanpa dokumentasi, sejarah bisa hilang begitu saja.
Tentang Misi yang Hampa
Rapat demi rapat saya ikuti. Kata “misi” sering terdengar, tapi lama-kelamaan saya merasa itu hanya sekadar bunyi. Obrolan yang berputar-putar tanpa arah. Tidak ada sesuatu yang benar-benar bisa saya yakini. Sementara itu, saya terus bertanya: apa arti keberadaan saya di sana?
Saya tidak mengharapkan upah. Saya tidak datang untuk mencari pahala instan. Hidup saya sudah penuh dengan pekerjaan, tanggung jawab, penulisan yang terus menumpuk, dan tugas rumah yang tidak pernah habis. Di tengah semua itu, saya justru menemukan diri saya makin lelah, bukan karena pekerjaan, melainkan karena luka kecil yang datang dari kata-kata yang seharusnya tidak perlu.
Maka saya sampai pada kesimpulan sederhana: lebih baik saya mundur. Organisasi itu bisa berjalan tanpa saya. Kamera saya bisa bekerja di tempat lain. Saya tidak ingin menambah kepahitan dalam hidup yang sudah penuh dengan dosa dan kesalahan. Jika pahala memang ada, biarlah saya mencarinya dengan cara lain.
Belajar dari Mesin
Ada satu hal yang saya pelajari dari mesin launcher girder itu. Mesin itu mampu mengangkat beban yang tak terbayangkan beratnya. Namun, ia tidak pernah tergesa. Gerakannya lambat, tenang, penuh perhitungan. Tidak ada teriakan. Tidak ada kata-kata menyakitkan. Ia hanya bekerja, satu demi satu, hingga akhirnya terbentuklah jembatan kokoh yang menghubungkan ruang dan waktu.
Mungkin begitulah hidup seharusnya dijalani. Kita semua punya beban masing-masing, mungkin beratnya tak kalah dengan girder yang terangkat. Namun bukan berarti kita harus berteriak, menyakiti, atau merendahkan orang lain. Ada cara untuk bekerja dengan tenang, ada cara untuk menunaikan tugas tanpa harus melukai hati orang lain.
Selamat Tinggal
Ketika saya menutup kamera dan menuliskan catatan terakhir tentang pengalaman ini, saya merasa ringan. Keputusan untuk mundur bukan berarti kalah. Justru di situlah letak kebijaksanaan: tahu kapan harus berhenti. Tahu kapan harus meninggalkan sesuatu yang tidak lagi memberi makna.
Saya tidak menyesal. Kamera saya akan tetap menyala, tulisan-tulisan saya akan tetap lahir, dan hidup saya akan tetap berjalan. Mungkin jalurnya berbeda, tapi arah besarnya sama: merekam, menulis, menjaga agar jejak kecil manusia tidak hilang begitu saja.
Maka, kepada organisasi itu, saya hanya ingin mengatakan: selamat tinggal.
Saya akan terus berjalan bersama mesin-mesin raksasa, jalan kecil, jembatan tua, atau apa pun yang saya temui di depan lensa saya. Karena pada akhirnya, yang penting bukanlah seberapa besar panggungnya, tetapi seberapa jujur kita merekam kehidupan