![]() |
Sore itu, seperti sore-sore biasanya, saya baru saja menyelesaikan rutinitas pekerjaan di sebuah pabrik di pinggiran kota Bandung. Lelah menyelimuti tubuh, tetapi bukan hanya tubuh yang letih pikiran pun terasa penuh, sesak oleh tumpukan tugas, tekanan, dan riuhnya kehidupan. Saya duduk di bangku favorit di sudut halaman pabrik, tempat biasa saya menyepi barang sejenak. Di tangan saya sebatang rokok yang menyala, seperti ritual kecil untuk menandai jeda dari dunia kerja. Di saat-saat seperti itulah, ide-ide sering kali muncul tanpa diundang.
Kali ini, yang muncul adalah dorongan untuk memotret bukan hanya sekadar mengambil gambar, tetapi juga menenangkan pikiran. Pikiran saya langsung tertuju pada sebuah tempat yang mungkin tidak asing bagi sebagian warga Bandung, namun juga bisa jadi belum banyak diketahui: Cieunteung Retensi. Sebuah kawasan multifungsi yang menjadi tempat berkumpul masyarakat untuk berolahraga, memancing, bermain layangan, atau sekadar bersantai menikmati udara terbuka.
Saya padamkan rokok, mengenakan helm, dan melaju dengan sepeda motor menuju lokasi. Jaraknya tidak terlalu jauh, hanya sekitar dua puluh menit dari tempat saya bekerja. Namun, jika jalanan macet, waktu tempuh bisa bertambah hingga setengah jam. Tapi bagi saya, tidak ada yang perlu diburu sore itu. Justru, perjalanan itu sendiri menjadi bagian dari proses melepaskan penat.
Sesampainya di lokasi, saya mendapati pos security kosong. Saya sempat menunggu sejenak, tetapi karena tidak ada tanda-tanda kehadiran petugas, saya memutuskan masuk dan memarkir motor. Udara sore menyambut dengan kelembutan, langit mulai menunjukkan warna-warna hangat khas senja, dan pemandangan di sekitar segera mengisi mata saya dengan berbagai aktivitas: orang-orang memancing dengan tenang di tepi air, beberapa berlari menyusuri jogging track, anak-anak dan orang dewasa bermain layangan bersama, dan keluarga-keluarga duduk bercengkerama menikmati waktu bersama.
Namun tujuan saya bukan menyaksikan aktivitas mereka, melainkan menangkap cerita lewat lensa. Saya berdiri sejenak, membiarkan mata saya menyapu lingkungan sekitar, mencari komposisi, cahaya, dan momen yang bisa saya abadikan. Tak lama, kamera saya keluarkan dari tas, tangan saya mulai bekerja, dan tubuh saya seolah menyatu dengan ritme tempat itu.
Hal pertama yang menarik perhatian saya adalah bangunan besar yang tampak kokoh di ujung area, bangunan tersebut berfungsi sebagai pengatur air, bagian dari sistem retensi untuk mengelola aliran Sungai Citarum. Ketika air meluap, bangunan itu memungkinkan air dialirkan ke penampungan sehingga mencegah banjir di daerah sekitarnya. Fungsi infrastruktur ini sangat vital, dan kehadirannya pun menambah dimensi lain dalam fotografi saya hari itu menggabungkan unsur manusia, alam, dan teknologi dalam satu bingkai.
Saya memilih untuk menggunakan lensa sudut lebar kali ini, berbeda dari biasanya. Saya ingin menangkap suasana secara keseluruhan langit yang mulai memerah, pantulan cahaya senja di permukaan air, dan interaksi manusia dengan ruang terbuka. Setiap klik kamera seperti menjadi penanda momen yang tidak akan pernah terulang dengan cara yang sama.
![]() |
Pengatur debit air sungai Citarum di potret dengan Lensa lebar ( foto Saepul Permana ) |
Satu demi satu objek saya dokumentasikan: seorang pria tua sedang memancing sendirian dengan penuh kesabaran, pasangan muda yang berlari ringan sambil bercanda, seorang ayah menggandeng anak perempuannya sambil menunjuk layangan di langit, sekelompok remaja bercanda sambil duduk di tepi danau, dan seorang kakek yang menggandeng cucunya menyusuri jalur pedestrian. Setiap adegan itu memiliki cerita, dan saya merasa menjadi bagian dari cerita itu meski hanya sebagai pengamat yang diam.
Kaki saya berjalan tanpa arah pasti, tetapi mata saya terus waspada mencari komposisi terbaik. Pikiran saya pun terasa ringan, seolah segala beban pekerjaan perlahan-lahan luruh bersama langkah dan jepretan kamera. Di momen seperti ini, fotografi bukan hanya kegiatan teknis, tapi juga menjadi bentuk terapi; proses menyelaraskan antara mata, hati, dan pikiran.
Ketika saya merasa cukup puas dengan hasil foto, saya mencari tempat duduk yang tenang. Saya keluarkan rokok terakhir saya hari itu dan menyalakannya. Duduk sendiri, menghadap langit yang kini berwarna jingga tua, air yang mulai tenang, dan siluet pepohonan yang berdiri kokoh di kejauhan. Ini bukan sekadar “me time”, tapi sebuah perenungan yang jarang saya dapatkan di tengah kesibukan sehari-hari.
Saya mematikan ponsel. Bukan karena kehabisan baterai atau sinyal, tapi karena saya ingin benar-benar hadir di momen itu. Rasanya terlalu sayang jika keindahan ini hanya dilihat sambil scroll layar. Justru, dengan memutus koneksi dari dunia maya, saya merasa lebih terhubung dengan dunia nyata dengan diri sendiri.
Namun, ketenangan itu sempat terusik. Beberapa remaja di dekat saya terdengar berteriak dengan bahasa yang kasar, nada mereka seperti preman terminal. Sedikit mengganggu, tapi saya mencoba mengabaikan. Tidak semua momen bisa sempurna. Justru di situlah tantangan seorang fotografer: menemukan keindahan di tengah kekacauan.
Pukul 17.30, matahari sudah turun lebih rendah. Langit mulai gelap dan udara semakin sejuk. Saya memutuskan untuk kembali. Perjalanan pulang kali ini tidak terasa berat, justru penuh dengan rasa syukur dan lega. Rasanya seperti telah dibersihkan setidaknya untuk hari itu dari tekanan, kekacauan, dan kebisingan dunia kerja.
Cieunteung Retensi bukan hanya menjadi tempat rekreasi atau objek foto. Bagiku, ia adalah ruang kontemplasi, ruang hening yang menyatu dengan keindahan visual. Di sana, saya tidak hanya mengambil gambar, tapi juga memberi ruang pada diri sendiri untuk bernapas, merenung, dan menyatu dengan dunia luar yang sering kita abaikan karena terlalu sibuk dengan dunia digital.
Esai ini bukan sekadar catatan perjalanan seorang karyawan. Ini adalah cerita tentang bagaimana seseorang menemukan ketenangan dalam kesederhanaan, keindahan dalam rutinitas, dan makna dalam diam. Di balik lensa kamera, saya menemukan kembali alasan mengapa saya mencintai fotografi: karena ia mampu menangkap bukan hanya cahaya, tapi juga perasaan.