Alam Memberi: Renungan dari Perut Bumi


 

Tak banyak yang menyadari bahwa di balik letusan dahsyat sebuah gunung api, tersimpan pemberian paling murni dari alam. Ledakan yang tampak menghancurkan itu ternyata menyuburkan. Abu yang menyelimuti ladang bukanlah kutukan, melainkan berkat dalam bentuk yang belum kita mengerti. Begitulah cara alam berbicara—dengan bahasa yang tak selalu lembut, namun penuh maksud.

Saya tertegun ketika menonton sebuah tayangan di KVO TV NETWORK yang membahas tentang geologi dan gunung-gunung api di Indonesia. Di sana, terselip satu kalimat yang seketika menusuk kesadaran saya: "Alam memberikan segalanya di balik letusan sebuah gunung. Tangkuban Parahu memberikan kesuburan tanah untuk pertanian, memberikan air yang mengalir untuk kehidupan manusia. Sudah semestinya kita sebagai manusia harus menjaga alam."

Sejak saat itu, saya memandang gunung bukan lagi sebagai ancaman yang menakutkan. Saya melihatnya sebagai ibu tua yang sabar—kadang marah, kadang diam, tapi sejatinya selalu memberi. Tangkuban Parahu, misalnya, bukan sekadar legenda Dayang Sumbi dan Sangkuriang. Ia adalah wujud nyata dari kasih alam terhadap makhluk hidup di sekitarnya. Lewat letusannya yang dahulu menakutkan, ia justru menyuburkan ladang-ladang di Lembang, menjadikan Bandung salah satu daerah pertanian paling subur di Jawa Barat.

Letusan gunung api melepaskan material berupa abu vulkanik, mineral, dan unsur hara yang menyebar luas ke permukaan tanah. Unsur-unsur itu menyusup ke dalam bumi, menyuburkan, menyegarkan. Di daerah sekitar gunung aktif, tanaman tumbuh lebih hijau, hasil panen lebih melimpah. Tidak heran jika peradaban-peradaban besar sejak zaman dulu kerap tumbuh di dekat gunung api. Karena dari sanalah sumber kehidupan itu bermula—dari perut bumi yang panas dan beringas.

Namun sayangnya, kita kerap hanya melihat sisi "mengancam" dari alam. Kita takut pada gempa, kita mengutuk banjir, kita menyalahkan gunung yang meletus, seolah alam sengaja menyakiti kita. Padahal sering kali, kitalah yang lupa untuk mengerti bahasa alam. Kita membangun di lereng curam tanpa memperhitungkan risiko, menggunduli hutan penyangga air, dan menggali isi bumi tanpa batas. Ketika akhirnya alam bereaksi, kita menyebutnya bencana padahal mungkin itu adalah cara alam menyeimbangkan dirinya kembali.

Alam tidak pernah berhenti memberi. Hutan menyediakan udara bersih, sungai membawa air kehidupan, tanah menumbuhkan makanan, dan gunung menyimpan mineral serta energi panas bumi. Bahkan lahar sekalipun, yang tampak mematikan, akan menjadi sumber kesuburan dalam beberapa dekade ke depan. Semua yang tampak menakutkan, jika kita renungkan, adalah bagian dari siklus agung pemberian.

Namun, dalam memberi itu, alam juga menuntut satu hal dari manusia: penghormatan. Bukan dalam bentuk ritual besar atau pemujaan, tapi dalam bentuk perlindungan dan kebijaksanaan. Menjaga hutan, tidak membuang sampah sembarangan, tidak mencemari sungai, tidak membangun secara serampangan—itulah bentuk sederhana dari rasa terima kasih kita. Jika alam bisa memberi segalanya tanpa pamrih, mengapa kita tidak bisa merawatnya dengan tulus?

Saya teringat pada perjalanan saya ke sebuah desa di kaki Gunung Papandayan. Di sana, masyarakat hidup berdampingan dengan alam. Mereka tidak hanya menanam dan memanen, tetapi juga menjaga sumber mata air, merawat lereng, bahkan membuat aturan adat yang melarang pengambilan hasil hutan secara berlebihan. Ada kearifan lokal yang tumbuh dari pengalaman bertahun-tahun hidup bersama alam. Mereka tahu bahwa apa yang mereka nikmati hari ini adalah titipan untuk generasi selanjutnya.

Kita hidup dalam zaman yang serba cepat. Kadang, dalam kesibukan modernitas, kita lupa bahwa segala sesuatu yang menopang hidup ini berasal dari bumi yang sabar. Setiap nasi yang kita makan, setiap air yang kita minum, setiap napas yang kita hirup—semuanya adalah hasil pemberian alam. Dan semua itu tak akan pernah ada jika gunung tak meletus, hujan tak turun, dan tanah tak diberi kesuburan.

Maka, jika kita ingin bicara tentang rasa terima kasih, mungkin kita harus mulai dari kesadaran bahwa kita sedang berdiri di atas anugerah yang besar. Kita harus berhenti menganggap alam sebagai benda mati. Ia hidup, ia merasa, dan ia merespons. Ia mengajari kita bahwa bahkan dalam kehancuran, selalu ada kemungkinan pertumbuhan. Bahkan dalam letusan, selalu ada kehidupan baru yang menanti untuk tumbuh.

Menjadi manusia seharusnya berarti menjadi penjaga. Penjaga atas bumi tempat kita dilahirkan. Kita tidak lebih tinggi dari gunung, tidak lebih suci dari sungai, dan tidak lebih penting dari tanah. Kita hanyalah bagian dari sistem besar yang saling bergantung. Jika satu bagian rusak, maka seluruh sistem akan goyah.

Kini, setiap kali aku melihat foto-foto gunung dari balik lensa kameraku, aku tak lagi hanya melihat keindahannya. Aku melihat kasihnya. Aku melihat jasanya. Aku melihat penderitaannya. Dan aku pun merasa terpanggil untuk menjaga, sebisaku.

Mungkin kita tak mampu menghentikan letusan gunung. Tapi kita bisa belajar darinya. Bahwa dalam setiap luka yang ia timbulkan, tersimpan benih kehidupan yang lebih baik. Dan bahwa tugas kitalah untuk merawat benih itu, agar tumbuh menjadi masa depan yang lebih bijak.

Saepul Permana Hidayat

Merekam senyap dari balik lensa. Menyusun cerita dari langkah kaki dan cahaya. Di antara pasar tua, bangunan kosong, dan jalan tak bernama, aku menulis tentang yang terlupakan agar tidak benar-benar hilang

Posting Komentar

Lebih baru Lebih lama