Lensa yang Merangkul Alam: Sebuah Renungan Fotografi

 



Potret pesawahan berlatar belakang pegunungan yang indah ( foto Saepul Permana )

Ada sebuah getaran halus yang hadir tiap kali aku mengangkat kamera dan mengarahkannya ke alam. Bukan sekadar kebiasaan atau hobi semata, namun seperti ada sesuatu yang lebih dalam—semacam panggilan, atau mungkin, sebuah bentuk komunikasi yang tidak diucapkan. Dalam keheningan pepohonan, dalam lekuk-lekuk bukit yang tersiram cahaya matahari sore, dalam embun yang menggantung di ujung daun—aku merasa seolah alam sedang memintaku untuk memotret, untuk mengabadikan sepotong keberadaannya.

Fotografi, bagiku, bukan hanya seni menangkap cahaya, tetapi juga bentuk dialog antara manusia dan alam semesta. Kamera menjadi perantara, dan momen yang terjepret bukan sekadar visual, melainkan bahasa tanpa kata yang penuh makna. Ketika aku berdiri di hadapan lanskap luas yang membentang, kadang aku merasa bukan aku yang memilih untuk memotret, melainkan alam yang memilihku untuk menjadi saksi atas keindahannya.

Ada momen-momen tertentu saat aku merasa alam seperti sedang "bersolek", menampilkan wajah terbaiknya. Kabut yang turun perlahan di antara pepohonan pinus, cahaya keemasan yang menerobos celah awan, atau gerimis tipis yang menyelimuti sawah di pagi hari. Itu semua terasa terlalu serasi, terlalu sempurna untuk sekadar kebetulan. Seolah-olah semesta sedang berbisik, "Lihatlah aku, potretlah aku, abadikan aku, agar manusia tak lupa bahwa aku ada."

Deretan pegunungan bukit barisan Baleendah dan gunung malabar di belakang bukit barisan Baleendah, terlihat seperti satu pegunungan - padahal itu cukup jauh ( Foto : Saepul Permana )

Maka, dalam setiap bidikan, aku pun belajar untuk tidak hanya melihat, tetapi merasakan. Kamera bukan hanya alat pengambil gambar, melainkan jendela yang membuka cara pandang baru terhadap dunia. Setiap lekuk gunung, setiap riak sungai, dan setiap bayangan pohon yang memanjang di jalan setapak menyimpan cerita yang lebih luas dari apa yang tampak. Fotografi mengajariku untuk diam sejenak, untuk mendengar suara alam yang selama ini barangkali teredam oleh kebisingan pikiran manusia.

Lebih jauh lagi, aku mulai menyadari bahwa kegiatan memotret alam ini tidak semata-mata tentang keindahan visual. Ia juga tentang rasa syukur. Tentang menyadari bahwa kita hidup di antara begitu banyak anugerah, meski seringkali kita lalai menghargainya. Alam telah memberi—udara untuk bernapas, air untuk hidup, tanah untuk berpijak—dan dalam kesibukan manusia membangun peradaban, sering kali kita lupa untuk mengucapkan terima kasih.

Dalam tiap lembar foto yang kuambil, aku mencoba mengabadikan rasa terima kasih itu. Barangkali inilah caraku berdoa: dengan cahaya, dengan komposisi, dengan keheningan yang tertangkap dalam lensa. Aku ingin menunjukkan bahwa alam bukan hanya latar belakang bagi hidup manusia, melainkan tokoh utama yang selama ini setia memainkan perannya—tanpa meminta pujian, tanpa berharap sorotan.

Namun, zaman terus berubah. Alam yang dulu begitu leluasa menampilkan dirinya kini mulai terganggu oleh jejak-jejak ambisi manusia. Hutan-hutan digunduli, sungai-sungai tercemar, dan langit yang dulu biru kini mulai memudar oleh kabut polusi. Di tengah kegelisahan ini, fotografi juga berubah makna. Ia tak lagi hanya menjadi sarana menikmati, tetapi juga menjadi bentuk perlawanan dan peringatan.

Melalui gambar, kita bisa mengingatkan. Bahwa keindahan ini rapuh. Bahwa apa yang hari ini kita pandang dengan kagum, bisa saja esok hilang lenyap ditelan waktu dan kelalaian. Maka, tugas seorang fotografer alam bukan hanya menangkap momen, tapi juga menjaga dan menyuarakan. Kamera menjadi senjata lembut yang merekam bukti, menjadi saksi bisu atas apa yang sedang terjadi di balik lanskap indah yang kita abadikan.

Terkadang, aku bertanya pada diriku sendiri—mengapa aku begitu terdorong untuk terus memotret alam? Mengapa ada rasa puas yang tak tergantikan tiap kali aku berhasil mengabadikan kabut pagi atau kilau senja di balik perbukitan?

Jawabannya mungkin terletak pada rasa keterhubungan. Dalam diamnya pepohonan dan bisunya gunung, aku merasakan bahwa ada yang sedang menjagaku. Alam bukan hanya objek pasif yang diam di sana, melainkan pelindung yang sabar, yang selama ini menampung segala luka manusia. Maka, ketika aku memotret, aku sedang membangun kembali hubungan itu—menjalin simpul antara jiwa manusia dan jiwa bumi.

Lama-kelamaan, aku pun menyadari bahwa dalam setiap potret, tersimpan pula potret diriku sendiri. Apa yang aku pilih untuk difoto, sudut pandang yang kuambil, cahaya yang kupertahankan atau kuhilangkan—semuanya adalah cermin dari perasaanku saat itu. Ketika aku memotret sawah di pagi hari yang berkabut, barangkali saat itu aku sedang rindu akan ketenangan. Ketika aku membidik langit jingga di senja yang temaram, bisa jadi aku sedang memikirkan seseorang yang jauh.

Maka fotografi bukan hanya tentang menangkap alam, tapi juga tentang menangkap emosi yang tersembunyi dalam jiwa. Alam menjadi tempat kita meletakkan beban, dan kamera menjadi alat untuk menerjemahkan beban itu menjadi sesuatu yang bisa dilihat, direnungi, dan dibagikan.

Aku percaya, selama masih ada orang yang bersedia berhenti sejenak dan memotret alam dengan hati yang terbuka, maka masih ada harapan. Harapan bahwa manusia tidak sepenuhnya terputus dari akarnya. Bahwa masih ada yang mau mendengar bisikan angin, menatap gemetar dedaunan, dan membaca pesan yang tersimpan dalam heningnya danau.

Akhirnya, bagiku, fotografi adalah bentuk cinta. Cinta pada bumi yang sabar, pada langit yang luas, pada air yang mengalir tanpa pamrih. Cinta pada semesta yang, meskipun sering disakiti, tetap memberi dengan tulus. Dan dalam setiap potret yang kuambil, aku ingin berkata: “Terima kasih, alam. Aku melihatmu. Aku mendengarmu. Dan aku akan terus menceritakan kisahmu.”


Saepul Permana Hidayat

Merekam senyap dari balik lensa. Menyusun cerita dari langkah kaki dan cahaya. Di antara pasar tua, bangunan kosong, dan jalan tak bernama, aku menulis tentang yang terlupakan agar tidak benar-benar hilang

Posting Komentar

Lebih baru Lebih lama