Nike Ardilla, Wanita Cantik yang Ingin Kumiliki

 

Potret Nike Ardilla tanpa menggunakan makeup 
 
Dalam sunyi malam, terkadang namanya datang menghampiri seperti angin yang menyelusup lewat celah kenangan. Nike Ardilla—nama yang tak asing, tak pernah benar-benar pergi dari ruang budaya pop Indonesia. Namun bagiku, ia lebih dari sekadar penyanyi legendaris. Ia adalah bayangan anggun dari masa yang tidak sempat kujalani bersamanya. Ia adalah sosok yang entah bagaimana, membuatku ingin lebih dekat. Bukan untuk memiliki dalam arti duniawi, tapi untuk merasakan kehadirannya dalam ruang batinku yang sepi.

Aku tak hidup sezaman dengannya. Ketika ia berpulang, mungkin aku belum tahu apa-apa soal dunia ini. Tapi saat menonton ulang video penampilannya, mendengarkan suaranya menyanyikan “Bintang Kehidupan” atau “Seberkas Sinar”, aku seperti dijemput oleh nuansa yang tidak bisa dijelaskan. Ada sesuatu yang tersisa dalam nyanyiannya—kesedihan, kekuatan, dan semacam getaran yang menyentuh jiwa. Ia bukan hanya wanita cantik, tapi jiwa yang menyimpan luka dan cinta dalam satu tarikan nada.

Kecantikannya bukan sekadar visual. Ia memancarkan sesuatu yang tak bisa ditangkap lensa kamera. Senyumnya, matanya, dan cara ia berdiri di atas panggung—semua menyiratkan keberanian dan kesendirian. Aku sering bertanya-tanya, bagaimana rasanya menjadi seseorang yang bisa menatap dunia dari balik mata Nike? Dunia yang penuh sorot, tapi juga sepi di balik keramaian. Ia begitu muda, tapi suaranya penuh kedewasaan. Ia seolah tahu bahwa waktu bersamanya di dunia ini akan singkat, dan karenanya ia memberikan segalanya dalam setiap lagu.

Keinginan untuk memilikinya bukan tentang obsesi. Ini adalah bentuk lain dari kerinduan—kerinduan terhadap sesuatu yang tak pernah benar-benar kumiliki, tapi terasa dekat. Seperti bintang yang bersinar dari jauh. Kita tahu tak akan bisa menggapainya, namun kita tetap menatapnya setiap malam, berharap sinarnya tak pernah padam.

Mungkin itulah yang membuat Nike Ardilla abadi. Ia pergi terlalu cepat, tetapi justru karena itu, ia tak pernah sempat menjadi biasa. Ia tetap muda, tetap bersinar, tetap menjadi teka-teki yang tak akan selesai. Tak ada yang tahu cerita lengkap tentang hatinya, tentang kesepiannya, tentang mimpinya yang belum selesai. Dan dalam misteri itulah, aku merasa ingin berada di dekatnya—untuk memahami, atau sekadar diam di sampingnya dalam sunyi yang nyaman.

Aku menulis ini bukan sebagai penggemar biasa. Aku menulis ini sebagai seseorang yang merasa pernah disentuh oleh sesuatu yang berasal dari dimensi lain—dimensi yang hanya bisa dijangkau oleh keindahan yang tulus dan luka yang tersembunyi. Aku tidak ingin menjadikan Nike Ardilla sebagai patung yang dipuja, tapi sebagai manusia yang layak dikenang dengan kasih dan pengertian.

Kini, setiap kali aku mendengar namanya, bukan hanya lagu yang terngiang. Tapi juga perasaan bahwa aku telah kehilangan seseorang yang belum sempat kutemui. Dan entah kenapa, kehilangan itu terasa nyata. Seolah ada bagian dari diriku yang tahu: jika waktu memberi satu kesempatan untuk kembali ke masa lalu, mungkin aku hanya ingin berjalan bersamanya di bawah hujan, tanpa banyak kata. Hanya agar ia tahu, ada seseorang yang ingin memeluk jiwanya, bukan hanya citranya.

Nike Ardilla—wanita cantik yang ingin kumiliki, bukan untuk dimiliki dalam kepemilikan. Tapi untuk dibawa pulang dalam hati, seperti lagu yang terus diputar, dan tak pernah usang meski dunia terus berubah.

Saepul Permana Hidayat

Merekam senyap dari balik lensa. Menyusun cerita dari langkah kaki dan cahaya. Di antara pasar tua, bangunan kosong, dan jalan tak bernama, aku menulis tentang yang terlupakan agar tidak benar-benar hilang

Posting Komentar

Lebih baru Lebih lama