Memotret kegiatan Pramuka yang di laksanakan pada tanggal 13 Agustus 2025, dengan nuansa yang penuh kehangatan.
![]() |
Para peserta Pramuka sedang duduk melingkar menghadap ke tumpukan kayu yang akan di adakan acara api unggun ( foto : Saepul Permana ) |
Malam ini, 13 Agustus 2025, udara di kampung saya terasa berbeda. Angin membawa aroma tanah lapang yang basah oleh embun, bercampur suara riuh rendah yang datang dari arah lapangan sepak bola Carik. Di sana, cahaya lampu seadanya menembus gelap malam, menyinari wajah-wajah muda yang penuh semangat. Mereka adalah para anggota Pramuka dari berbagai sekolah, berkumpul dalam rangka memperingati Hari Ulang Tahun Pramuka yang jatuh pada 14 Agustus.
Seperti tahun-tahun sebelumnya, suasana di tanggal-tanggal ini—antara 12 hingga 14 Agustus—selalu identik dengan kegiatan perkemahan, lomba keterampilan, hingga puncaknya, api unggun. Namun, tahun ini, saya datang bukan sebagai peserta, apalagi panitia. Saya datang sebagai penonton, atau lebih tepatnya sebagai seorang penziarah kenangan. Ada dorongan dari dalam diri yang membuat saya tak bisa tinggal diam di rumah.
Sejujurnya, sebelum berangkat, saya sempat berpikir untuk tidak pergi. “Ah, untuk apa? Toh aku sudah bukan bagian dari mereka,” bisik pikiran saya. Tetapi batin saya menolak. Ada rasa yang sulit dijelaskan—seperti panggilan lembut yang mengajak saya untuk hadir, walau hanya sebentar. “Datanglah,” kata hati itu. “Meskipun hanya sekejap, meskipun hanya sepijak kaki di tanah lapang. Hadirlah.”
Akhirnya, saya menuruti suara itu. Tanpa menyalakan motor, saya memilih berjalan kaki. Setiap langkah membawa saya makin dekat pada sebuah masa di mana seragam cokelat Pramuka melekat di tubuh saya. Masa di mana suara peluit menjadi musik yang memanggil, dan barisan rapi di bawah terik matahari menjadi rutinitas penuh makna.
Saat tiba di lapangan Carik, pemandangan itu langsung memukul hati saya. Di tengah lapangan, kayu-kayu sudah ditumpuk rapi, siap dibakar untuk acara api unggun untuk malam ini. Saya memotret satu demi satu sudutnya. Kamera saya memang bukan keluaran terbaru atau lensa profesional, tetapi itu tak penting. Yang penting adalah saya bisa menyimpan potongan waktu ini dalam bentuk gambar—jejak yang bisa saya buka kembali di masa depan, ketika rindu datang tanpa permisi.
Di antara kerumunan para anggota Pramuka yang bercanda dan bersenda gurau, saya berdiri diam. Pandangan saya tertuju pada tumpukan kayu di tengah lapangan. Ada sesuatu yang mengalir dari mata saya. Bukan air mata deras, hanya sedikit basah yang mungkin tak akan pernah dilihat orang lain. Tapi saya merasakannya. Sebuah getaran yang membangkitkan rasa nasionalisme yang lama tertidur.
Saya teringat saat masih di bangku sekolah dasar, ketika pertama kali mengikuti kemah. Malam-malam di tenda yang dingin, nyanyian di sekitar api unggun, lomba-lomba sederhana, hingga aroma kayu terbakar yang khas—semua datang berdesakan di ingatan. Pramuka bukan sekadar kegiatan ekstrakurikuler. Ia adalah tempat saya belajar arti kebersamaan, disiplin, dan mencintai tanah air dengan cara yang sederhana.
Malam itu, meskipun api unggun belum dinyalakan, saya sudah bisa merasakan panasnya di dalam hati. Saya tahu, besok—14 Agustus—mereka akan menggelar puncak perayaan. Mungkin saya tak akan hadir. Tetapi bagi saya, kehadiran malam ini sudah cukup. Saya sudah menginjakkan kaki di sini, sudah menghirup kembali aroma kenangan, dan sudah memotret secuil momen untuk saya bawa pulang.
Saya menatap sekali lagi ke arah lapangan sebelum beranjak pulang. Lampu-lampu menggantung rendah di pinggir tenda, suara tawa masih terdengar, dan para panitia masih sibuk mempersiapkan segalanya. Saya tahu, momen ini akan menjadi cerita yang saya simpan, entah untuk saya baca kembali di blog saya, atau untuk saya ceritakan pada seseorang di masa depan—mungkin kepada anak-anak yang akan tahu bahwa ayahnya pernah menjadi bagian dari barisan itu.
Perjalanan pulang terasa ringan. Seperti ada beban yang lepas dari bahu. Ada kepuasan yang sederhana, tetapi tulus. Kepuasan karena saya menuruti kata hati untuk hadir, walaupun hanya sebentar. Dalam diam, saya mengucapkan selamat ulang tahun untuk Pramuka, untuk semua adik-adik yang sedang berproses di sana.
Pramuka mengajarkan banyak hal—bukan hanya tali-temali atau baris-berbaris. Ia mengajarkan bahwa setiap orang memiliki peran, sekecil apapun. Mengajarkan bahwa disiplin dan kebersamaan adalah bekal hidup yang tak lekang oleh waktu. Mengajarkan bahwa cinta pada tanah air tak selalu datang dalam bentuk besar; terkadang, ia hadir dalam hal-hal kecil—seperti berdiri di pinggir lapangan, memotret tumpukan kayu, dan membiarkan rasa bangga mengalir dalam sunyi.
Saya sadar, malam ini bukan sekadar nostalgia. Ia adalah pengingat bahwa meskipun waktu berjalan, sebagian dari diri kita tetap tinggal di masa lalu. Bukan untuk terjebak di sana, tetapi untuk menjaga api semangat itu tetap menyala. Seperti api unggun yang akan berkobar esok malam, meskipun saya tak hadir, nyalanya akan tetap ada di hati saya.
Sesampainya di rumah, saya menaruh kamera di meja, lalu menyalakan lampu kamar. Foto-foto hasil jepretan malam ini masih hangat di memori kamera. Saya melihat satu per satu, dan setiap gambar seperti berbicara. Mereka bercerita tentang sorot mata penuh semangat, tentang kayu yang menunggu untuk dibakar, tentang tanah lapang yang menjadi saksi pertemuan, perpisahan, dan pertumbuhan.
Saya tersenyum. Bukan senyum yang lebar, tapi cukup untuk menenangkan hati. Saya tahu, di tahun-tahun mendatang, ketika saya membuka kembali foto-foto ini, saya akan kembali ke malam ini. Malam ketika saya, si Jalur Lensa, berjalan kaki menuju lapangan Carik hanya untuk menyapa masa lalu.
Untuk adik-adikku yang saat ini tengah sibuk di kegiatan Pramuka, selamat berproses. Selamat ulang tahun ke-64 Pramuka Indonesia. Teruslah menjaga bara itu, karena suatu hari nanti, kalian akan mengerti bahwa api unggun bukan hanya nyala kayu yang dibakar, melainkan nyala hati yang diwariskan.
Sampai jumpa di kegiatan Pramuka berikutnya.
Salam hangat,
Jalur Lensa
Kategori
Narasi kehidupan