Catatan Renungan : Untuk Apa? Sebuah Renungan tentang Ketertarikan Sepihak di Era Digital


Potret seorang Stalker ( foto : Pixabay )

Aku pernah duduk berlama-lama di hadapan layar, menunggu satu notifikasi kecil dari seseorang yang bahkan tak pernah menyadari keberadaanku. Jari-jari ini pernah dengan sadar menekan tombol “ikuti,” berharap ada secercah interaksi, sedikit perhatian, atau mungkin sebuah balasan yang sederhana. Tapi apa yang kudapat? Sunyi. Hampa. Tak ada sapaan balik, tak ada rasa yang tumbuh dari seberang layar.

Lalu aku bertanya pada diriku sendiri, untuk apa aku mem-follow dia, kalau dia bahkan tak peduli?

Apakah sekadar ingin merasa dekat? Apakah hanya ingin merasa tidak tertinggal dari hidupnya, yang terus berjalan tanpa pernah menoleh sedikit pun ke arahku? Ataukah ini bentuk semu dari cinta yang tak punya pijakan?

Media sosial mengaburkan batas antara kedekatan dan keterasingan. Kita bisa tahu ke mana dia pergi hari ini, apa yang dia makan, siapa yang bersamanya, bahkan apa yang dia pikirkan. Tapi kita tetap tak pernah benar-benar hadir dalam hidupnya. Kita hanya penonton yang berdiri di luar jendela, menatap ke dalam rumah yang pintunya tak pernah dibukakan untuk kita.

Dan dari jendela itu, aku men-stalking dia. Melihat setiap unggahan, membaca setiap caption, memperbesar setiap foto demi mencari detail yang bisa memberi sedikit makna. Tapi makin sering kulakukan itu, makin sakit rasanya. Makin hampa.

Untuk apa stalking seseorang yang tidak pernah peduli?

Ketertarikan sepihak ini menjadi semacam ilusi yang manis namun mematikan. Kita merasa dekat, padahal tak pernah benar-benar ada di dalam kehidupannya. Kita merasa mengenal, padahal yang kita tahu hanyalah permukaan yang dipoles dan ditampilkan ke publik. Kita merasa dicintai, padahal hanya sedang mencintai seorang diri.

Kadang, aku mencoba untuk berkomentar. Memberikan kata-kata yang tulus, menanggapi ceritanya, menunjukkan kepedulian yang mungkin tak banyak orang berikan. Tapi komentar itu lenyap dalam keramaian. Tidak direspons. Tidak dianggap. Tidak dibalas.

Dan lagi-lagi, aku harus menelan kenyataan pahit itu: untuk apa berkomentar jika tak pernah ada balasan?

Apakah aku terlalu berharap? Terlalu mengada-ada? Atau memang aku hanya sedang membohongi diriku sendiri? Menyakini bahwa interaksi sekecil apapun bisa menjadi benih bagi sesuatu yang lebih besar, padahal yang kutanam bukan benih, melainkan bayangan.

Semua ini hanyalah semu.

Semua ini hanyalah kebohongan yang kutumbuhkan sendiri.

Ada masa ketika kita merasa hubungan emosional bisa dibangun lewat layar. Dan memang, kadang bisa. Tapi ketika hanya satu pihak yang berusaha, hubungan itu tak pernah benar-benar hidup. Ia hanya jadi bayangan sepihak yang menempel di dinding pikiran. Kita terus mengikuti, terus berharap, terus memberi, tanpa tahu bahwa dia bahkan tak sadar kita ada.

Ada yang bilang, cinta tak harus memiliki. Tapi apakah cinta harus terus menyiksa? Apakah kita harus bertahan di tepi harapan yang tak pernah ditanggapi?

Bukankah cinta yang sehat mestinya tumbuh dari dua arah? Bukan sekadar satu pihak yang terus memberi tanpa pernah menerima kembali.

Aku mulai merasa bahwa semua ini bukan lagi tentang dia. Tapi tentang diriku sendiri. Tentang mengapa aku terus menggantungkan harapan pada seseorang yang tak pernah menoleh. Tentang mengapa aku memaksakan makna pada sesuatu yang tidak pernah nyata.

Tentang mengapa aku membiarkan diriku terluka oleh ekspektasi yang kuletakkan pada seseorang yang bahkan tidak tahu aku sedang menunggu.

Mungkin ada luka lama yang membuatku mudah terikat pada perhatian kecil. Mungkin ada kesepian yang belum sembuh. Tapi seiring waktu, aku harus menyadari bahwa menggantungkan kebahagiaan pada validasi orang yang tidak peduli, hanya akan membuatku semakin kehilangan arah.

Malam ini, aku membuka ponselku lagi. Ada notifikasi. Tapi bukan dari dia. Dan entah mengapa, aku tidak lagi peduli.

Aku melihat akunnya, lalu bertanya sekali lagi:

" Untuk apa aku mem-follow dia kalau dia tidak peduli? "

Pertanyaan itu tidak lagi menyakitkan, tapi menenangkan. Karena akhirnya aku bisa mengakui bahwa aku tidak perlu terus berada dalam bayangannya. Aku bisa membebaskan diri.

Aku tidak harus terus men-stalking dia. Karena yang kutemukan hanya luka yang kusematkan sendiri. Aku tidak harus terus berkomentar pada unggahannya, karena ternyata diam adalah bentuk penghormatan terbaik pada diriku sendiri.

Penghormatan bahwa aku juga layak dicintai dengan nyata. Dengan hadir. Dengan diperhatikan. Aku layak mendapatkan seseorang yang membalas sapaku. Seseorang yang merespon perhatianku. Seseorang yang tidak hanya hadir di layar, tapi juga dalam kenyataan.

Semua ini bukan tentang menyalahkan dia. Tidak.

Dia berhak hidup sesuai caranya. Berhak mengabaikan siapa pun yang tidak ia anggap penting. Termasuk aku. Tapi aku juga berhak memilih untuk berhenti. Untuk tidak lagi terjebak dalam kebohongan kecil yang kuciptakan sendiri: bahwa perhatianku cukup untuk menciptakan kedekatan.

Karena tidak. Tidak cukup. Tidak akan pernah cukup kalau tidak ada timbal balik.

Dan di situlah titik keputusanku:

Aku memilih untuk tidak lagi menjadi bayangan dalam hidup orang lain.

Aku memilih untuk hadir sepenuhnya dalam hidupku sendiri.

Penutup

Kita hidup di zaman di mana kedekatan bisa diciptakan dengan satu klik, tapi keterhubungan yang sejati tetaplah langka. Jangan habiskan waktu untuk seseorang yang bahkan tidak sadar kamu ada. Jangan buang energi untuk membangun jembatan yang tak pernah diinjaki dari seberang.
Hargai dirimu.
Lepaskan jika harus.
Karena mencintai bukan berarti memaksa.

Kadang, cinta terbaik yang bisa kita berikan adalah dengan melepaskan—bukan karena kita kalah, tapi karena kita sadar bahwa diri ini terlalu berharga untuk terus berharap pada yang tak peduli.

Saepul Permana Hidayat

Merekam senyap dari balik lensa. Menyusun cerita dari langkah kaki dan cahaya. Di antara pasar tua, bangunan kosong, dan jalan tak bernama, aku menulis tentang yang terlupakan agar tidak benar-benar hilang

Posting Komentar

Lebih baru Lebih lama