Situ Sipatahunan: Menyusuri Tenangnya Air, Menyelami Dalamnya Alam

 


Situ sipatahunan menyimpan keindahan, meskipun situ sipatahunan merupakan situ yang kecil, tapi keindahannya sangat cocok untuk saya singgahi (Foto : Saepul Permana)

Setiap perjalanan memiliki nadanya sendiri. Kadang riuh seperti pasar pagi, kadang sunyi seperti kabut tipis di atas danau. Pagi itu, aku mengayuh motor menyusuri jalanan kecil yang mulai ramai oleh anak-anak sekolah dan para petani yang baru saja turun dari rumah. Tujuanku sederhana: Situ Sipatahunan. Sebuah danau buatan yang namanya beberapa kali mampir ke telingaku, tapi belum sempat aku kunjungi secara langsung. Hari itu, tanpa agenda yang kaku, aku memutuskan untuk melihat sendiri, merasakan langsung, dan barangkali—mencatat kembali apa yang sering luput kita lihat: hubungan manusia dengan air, dengan alam, dengan dirinya sendiri.

Situ Sipatahunan bukan danau yang lahir dari proses geologi ribuan tahun, melainkan dari kehendak manusia yang mengerti pentingnya air bagi kehidupan. Dibangun pada tahun 1971 dan selesai pada tahun 1975, danau ini diciptakan untuk satu tujuan utama: mengairi sebagian lahan persawahan yang membentang di Kecamatan Baleendah, sebuah wilayah yang hidup dari sawah, ladang, dan kerja keras warga di atas tanah yang tak selalu mudah ditaklukkan. Selain untuk irigasi, danau ini juga berfungsi sebagai sumber air baku untuk kebutuhan warga. Ia adalah nadi yang memberi, diam-diam dan konsisten.

Di permukaannya yang luas, sekitar 10 hektar, air danau tampak tenang. Angin kecil membuatnya sedikit beriak, tapi ketenangan itu bukanlah kekosongan. Ia penuh oleh kehidupan: oleh ikan-ikan kecil yang berenang di dasar, oleh tumbuhan air yang bergerak pelan, oleh suara burung yang kadang menyentuh udara seperti nada dalam lagu alam. Danau ini berada di ketinggian kurang lebih 700 meter di atas permukaan laut, dengan kedalaman rata-rata 8 meter. Namun, apa yang membuatnya istimewa bukan hanya angka-angka itu, melainkan jalinan sumber kehidupan yang mengalir ke dalamnya.

Air Situ Sipatahunan berasal dari dua hulu sungai, yakni Sungai Cigajah dan Cipancur. Tapi yang menarik, danau ini juga diperkaya oleh mata air dari sejumlah gunung di sekitarnya: Gunung Kakapa, Saradan, Cadas Gantung, Cigupakan, Cisareni, hingga Paman Jaimah. Nama-nama itu seperti barisan penjaga senyap yang tak pernah kita sadari. Mereka bukan hanya bentuk geografis yang tinggi dan hijau, melainkan juga sumber daya yang menopang kelestarian danau ini secara berkelanjutan.

Aku duduk di tepi danau, membuka termos kecil berisi kopi, dan menatap permukaan air yang memantulkan langit pucat. Di tengah kesunyian itu, aku mulai menyadari sesuatu: betapa semua ini tersusun oleh kolaborasi diam-diam antara alam dan manusia. Gunung yang meneteskan mata air, sungai yang mengalirkan harapan, dan manusia yang membendungnya menjadi danau—semua itu tidak terlepas dari satu kesadaran kolektif: bahwa hidup membutuhkan air, dan air harus dijaga.

Keberagaman sumber mata air yang mengaliri Situ Sipatahunan memberikan kontribusi nyata bagi ekosistemnya. Tak heran jika danau ini menjadi rumah bagi berbagai spesies tumbuhan dan hewan, serta menciptakan suasana alam yang sehat dan asri. Aku menyusuri tepian danau, menjumpai rumput-rumput liar, serangga yang beterbangan, dan bau tanah yang basah. Semuanya terasa hidup. Dan dalam keheningan itu, aku mendengar bukan suara burung atau desir angin—melainkan pikiranku sendiri yang mulai tenang, perlahan jernih.

Situ Sipatahunan bukan sekadar danau buatan. Ia adalah contoh bagaimana pembangunan yang bersandar pada kebutuhan dasar bisa melahirkan manfaat ekologis sekaligus keindahan. Dalam setiap genangan airnya, ada cerita tentang musim kemarau dan hujan, tentang panen yang berhasil atau yang gagal, tentang warga yang menggantungkan hidupnya dari sawah yang dialiri air danau ini. Air bukan lagi sekadar elemen fisik, tapi menjadi simbol keberlangsungan dan harapan.

Aku berbincang dengan seorang bapak tua yang duduk di bawah pohon rindang. Ia berkata, dulu ketika danau ini baru selesai dibangun, warga masih heran—untuk apa ada danau sebesar ini? Tapi seiring waktu, danau ini menjadi bagian dari hidup mereka. Anak-anak bermain di pinggirannya, para ibu mencuci di hilir sungainya, dan para petani mengandalkan airnya untuk kehidupan. Bahkan, tak sedikit pengunjung dari luar desa yang datang hanya untuk sekadar duduk, diam, dan menatap danau, seperti yang aku lakukan hari itu.

Kadang kita terlalu fokus pada pembangunan kota, jalan tol, atau gedung-gedung tinggi, sampai lupa bahwa ada infrastruktur alam yang jauh lebih penting dan lebih abadi: air, tanah, dan udara yang bersih. Situ Sipatahunan adalah pengingat sunyi bahwa kita masih punya tempat yang dikelola bukan untuk kebisingan, tapi untuk keberlanjutan. Bukan untuk eksklusivitas, tapi untuk kebersamaan.

Menjelang siang, matahari mulai naik, memantulkan cahaya ke air yang tenang. Aku tahu waktuku di sini tidak lama. Tapi danau ini, dan semua yang mengalir di dalamnya, telah memberi lebih dari yang aku harapkan. Ia tak hanya menawarkan panorama, tapi juga perenungan. Tentang hubungan antara alam dan manusia, tentang air yang memberi tanpa meminta, tentang betapa sederhananya bahagia jika kita cukup peka untuk merasakannya.

Perjalanan ke Situ Sipatahunan mungkin terlihat sederhana: hanya danau, hanya air, hanya duduk diam di tepiannya. Tapi bagi jiwaku yang lelah oleh rutinitas dan kebisingan dunia, danau ini adalah ruang pemulihan. Di sini, aku merasa ditenangkan oleh sesuatu yang lebih besar, lebih bijaksana, dan lebih sabar dari manusia: alam.

Saepul Permana Hidayat

Merekam senyap dari balik lensa. Menyusun cerita dari langkah kaki dan cahaya. Di antara pasar tua, bangunan kosong, dan jalan tak bernama, aku menulis tentang yang terlupakan agar tidak benar-benar hilang

Posting Komentar

Lebih baru Lebih lama