Di antara riuhnya Bandung yang terus tumbuh, ada satu sudut yang seolah terabaikan: Jembatan Dayeuhkolot, atau yang akrab disebut Jembatan Geulis. Jembatan ini bukan hanya sekadar penghubung antara Bandung Selatan dan Bandung Utara, tapi juga saksi bisu dari zaman yang berubah. Dibangun oleh pemerintah kolonial Belanda, jembatan ini pernah menjadi bagian penting dari denyut transportasi kota. Kini, ia tampak lelah. Seperti tubuh tua yang menahan beban bertahun-tahun, bagian girdernya mulai retak, membengkok, seakan hanya menunggu waktu untuk menyerah pada gravitasinya sendiri.
Namun kehidupan tak pernah benar-benar berhenti. Meski kondisinya memprihatinkan, Jembatan Geulis masih dilalui banyak orang setiap harinya. Pemerintah memang telah memasang jembatan tambahan di sisi yang rawan, upaya tambal sulam yang tak menyembunyikan kenyataan bahwa struktur ini telah menua. Dan di atas jembatan tua itu, saya berdiri, kamera di tangan, memotret wajah-wajah yang melintas.
Pukul lima sore, cahaya matahari mulai merunduk ke arah barat, menyapu jalanan dan jembatan dengan rona keemasan yang samar. Saat itulah saya menangkap ekspresi-ekspresi yang tak dibuat-buat: wajah-wajah lelah yang baru saja melewati hari kerja. Ada yang berwajah kusut, ada yang menunduk, dan beberapa yang berjalan cepat dengan mata kosong menatap ke depan. Wajah-wajah ini bukan hanya potret individu, tetapi cerminan dari kota yang terus bergerak tanpa jeda.
Saya tidak hanya berhenti di jembatan. Beberapa meter dari sana, saya memotret jalanan yang masih sibuk, meski senja mulai turun. Motor dan angkot melaju seolah berlomba dengan waktu. Suara klakson, desing kendaraan, dan aroma khas dari warung-warung pinggir jalan menyatu dalam satu atmosfer yang khas—lelah tapi hidup.
Ada sesuatu yang ironis di sini. Di atas jembatan yang nyaris roboh, kehidupan tetap berjalan seperti biasa. Seolah manusia telah terbiasa hidup dalam ketidakpastian. Bahkan saat infrastruktur mengkhianati, harapan tetap menggeliat di balik langkah kaki mereka. Mungkin karena tak ada pilihan lain. Atau mungkin karena kita memang terlatih untuk terus berjalan, bahkan di atas girder yang retak.
Melalui lensa kamera saya, saya tak hanya menangkap gambar, tapi juga kisah. Setiap wajah, setiap langkah, setiap sorotan mata membawa narasi kecil yang membentuk lanskap kehidupan urban yang keras dan jujur. Jembatan Geulis bukan lagi hanya objek tua peninggalan sejarah, tapi panggung sehari-hari bagi manusia-manusia yang tetap bertahan. Ia adalah pengingat bahwa kehidupan tidak selalu indah, tapi selalu punya cerita untuk diceritakan.