Sore itu, tepat pukul 16.30, aku merasakan dorongan yang aneh—semacam kerinduan yang tidak bisa kutentukan bentuknya. Seperti biasanya, ketika perasaan seperti ini datang, aku lebih memilih untuk mengendarai motor menyusuri jalur favoritku: Citarum, dari kawasan Sindangsari menuju Sapan. Ada sesuatu yang magis dari rute ini. Bukan hanya karena alur sungainya yang tenang, tapi karena setiap lekuk jalan dan deru angin yang menyentuh kulit selalu membawaku pada semacam ketenangan yang tidak bisa ditemukan di tempat lain.
Sebelum benar-benar memutar kunci kontak motor, aku melihat sebuah pemandangan yang menahan langkahku sejenak—kumpulan anak-anak kecil berlarian riang di bantaran Sungai Citarum. Mereka tertawa, berteriak, saling menyapa, sambil berusaha menangkap ikan-ikan kecil di genangan air. Sungai itu sedang surut, musim kemarau telah menarik sebagian besar air dari alirannya. Anehnya, di tengah surutnya air dan musim yang kering, anak-anak itu menemukan kebahagiaan yang sederhana. Aku merasa harus mengabadikan momen itu. Kamera kubuka, aku memotret mereka dari jauh, berusaha menangkap bukan hanya visual, tapi juga emosi yang tergambar di wajah-wajah polos itu.
Biasanya, di titik ini, aku bisa menemukan gerombolan kerbau yang dilepas liar, menikmati rumput liar yang tumbuh di tepian. Tapi sore ini, mereka entah kemana. Mungkin sudah digiring kembali ke kandang oleh pemiliknya, atau mungkin berpindah ke padang yang lain. Tak masalah. Pemandangan ini tetap menarik untuk dinikmati.
Aku mulai melaju perlahan. Bukan untuk kecepatan, tapi untuk menyerap setiap detik perjalanan. Sungai Citarum mengalir di sampingku, tapi aku tak bisa menghindari rasa sedih melihat kenyataannya—sampah-sampah plastik mengotori aliran air, menghiasinya dengan warna-warna asing yang seharusnya tak ada di sana. Aku berhenti, kembali mengangkat kameraku. Potret ini bukan tentang keindahan, tapi tentang kenyataan. Sungai ini, yang seharusnya menjadi nadi kehidupan, kini terluka oleh tangan-tangan kita sendiri.
Saat aku mendongakkan kepala, langit menyambutku dengan kejutan yang tak terduga. Cahaya matahari sore menembus celah-celah awan, menciptakan garis lurus seolah lukisan Tuhan di atas kanvas langit. Rasanya seolah semesta sedang menghiburku, memberiku sejenak keindahan setelah pemandangan yang menyedihkan barusan. Aku memotret langit itu dalam beberapa sudut—berharap bisa menyimpannya lebih dari sekadar dalam bentuk foto, tapi juga dalam ingatan.
Perjalanan berlanjut. Aku sampai di area oxbow Sapan, atau yang lebih dikenal dengan nama Leuwi Orok. Kini tempat itu sudah selesai direvitalisasi. Dulu, tempat ini hanyalah sungai mati, dipenuhi lumpur hitam dan bau menyengat. Rerumputan liar tumbuh tinggi seolah ingin menutupi luka yang dalam. Tapi sekarang, oxbow ini hidup kembali—warga datang untuk memancing, berlari, bersantai, atau sekadar duduk dan menikmati udara sore. Sebuah kemajuan yang patut diapresiasi. Semua ini hasil kerja keras Satgas Citarum Harum, yang perlahan-lahan mengembalikan nyawa ke dalam sungai yang dulu terlupakan.
Aku melambatkan laju motor, menyusuri sisi sungai dengan perasaan yang campur aduk. Di sepanjang perjalanan, banyak aku temui pabrik-pabrik batu bata. Tumpukan bata merah yang tersusun rapi, kontras dengan latar belakang hamparan sawah yang hijau. Aku berhenti dan memotret. Ada sesuatu yang menarik dalam kesederhanaan itu—keteguhan dalam kerja keras, keindahan dalam keteraturan, dan harmoni antara manusia dan alam, meski dalam bentuk yang paling kasar.
Setelah puas, aku kembali ke salah satu titik oxbow yang sudah selesai dipugar. Kali ini aku tak hanya berhenti, tapi juga duduk diam di atas motor. Rokok kuambil dan kuhisap perlahan. Asapnya naik perlahan ke udara, mengabur bersama cahaya senja yang mulai meredup. Di hadapanku terbentang barisan pegunungan di selatan Bandung, berpadu dengan pesawahan dan angin yang menari pelan. Sore yang sempurna—hampir.
Aku putar lagu dari Ebiet G. Ade, "Berita kepada Kawan." Suara lembut dan liriknya menggema di dalam helmku. Dan ketika bait "Perjalanan ini sangatlah menyedihkan, sayangnya kau tak duduk di sampingku, kawan" terdengar, hatiku mencelos. Lagu itu seakan berbicara langsung padaku. Bukan tentang kawan dalam artian persahabatan biasa, tapi tentang Riska.
Riska. Wanita yang tak hanya hadir dalam hidupku, tapi juga dalam benakku, dalam kameraku, dalam jalan-jalan sore seperti ini. Dia yang sering duduk di belakangku, memeluk pinggangku sambil tertawa kecil, menatap langit yang sama, mendengar lagu yang sama. Tapi kali ini dia tidak ada. Dan ketidakhadirannya terasa nyata, menganga seperti lubang yang tidak bisa ditutupi oleh senja, pemandangan, atau lensa kamera sekalipun.
Sore itu berakhir dengan senyum yang agak berat. Aku memang menikmati perjalanan ini, menikmati setiap momen yang ditawarkan oleh alam dan jalanan, tapi tetap saja ada yang kurang. Namun, aku memilih untuk bersyukur. Karena meskipun sendiri, aku masih bisa berjalan, masih bisa mengabadikan, dan masih bisa mengenang. Riska mungkin tidak duduk di sampingku, tapi dia hadir dalam kenangan, dalam setiap sudut yang kulewati, dalam setiap foto yang kuambil.
Dan ketika motor kembali kugerakkan menuju rumah, aku sadar bahwa perjalanan seperti ini bukan hanya soal berpindah tempat. Ini adalah perjalanan ke dalam—ke dalam diriku sendiri, ke dalam ingatan, ke dalam rasa kehilangan, dan akhirnya ke dalam penerimaan. Citarum menjadi saksi dari semua itu. Sungainya, langitnya, lumpurnya, revitalisasinya—semuanya mencerminkan kehidupanku sendiri. Yang surut, yang kotor, yang dibersihkan, yang dihidupkan kembali.
Aku pulang dengan hati yang tak sepenuhnya gembira, tapi juga tidak sepenuhnya sedih. Seperti aliran Citarum sore itu—tetap mengalir, meski perlahan.