Ada sebuah penggalan lirik lagu yang selalu membekas di benak saya sejak lama, “Karena wanita ingin dimengerti.” Lagu milik Ada Band itu bukan hanya sekadar lagu cinta biasa, tetapi sebuah refleksi dalam tentang bagaimana seharusnya pria memandang dan memperlakukan wanita. Di dunia yang serba cepat ini, relasi antara pria dan wanita sering kali menjadi kabur, penuh prasangka, kadang bahkan hanya didasari nafsu atau pelarian. Dalam situasi seperti itu, saya merasa penting untuk mengingat dan menegaskan kembali: wanita bukan untuk dipuaskan, bukan pula tempat pelampiasan luka batin. Wanita adalah manusia utuh yang ingin dimengerti.
Dalam perjalanan hidup saya, saya pernah melihat—dan jujur, juga mengalami—bagaimana relasi antar dua insan bisa ternoda oleh ketidaksiapan emosional. Ada masa di mana kehadiran wanita dalam hidup saya hanya sebatas pengisi kekosongan, pelarian dari sepi, atau penawar dari luka masa lalu yang belum sembuh. Dan saya yakin, saya bukan satu-satunya. Banyak pria di luar sana menjalin hubungan bukan karena kesiapan mencintai, melainkan karena takut sendiri atau sekadar ingin “memiliki.” Sayangnya, dalam proses itu, wanita sering kali menjadi korban harapan semu.
Wanita bukanlah objek. Kalimat ini terdengar sederhana, tetapi realitas di lapangan masih jauh dari ideal. Lihat saja betapa sering tubuh wanita dijadikan alat marketing, dijadikan tontonan, dikomodifikasi dalam iklan dan media sosial. Di ruang privat pun tak jauh beda. Masih banyak pria yang menganggap wanita sebagai pelengkap kebutuhannya—baik kebutuhan biologis maupun emosional—tanpa benar-benar berusaha memahami isi kepala dan hati mereka.
Padahal, memahami wanita bukan perkara rumit bila kita benar-benar niat. Mereka bukan makhluk yang “terlalu emosional” atau “terlalu ribet,” seperti yang sering dilabelkan dalam stereotip usang. Mereka hanya ingin didengar. Mereka ingin diperhatikan, bukan diawasi. Mereka ingin dipahami, bukan dikendalikan. Dan yang paling penting, mereka ingin dicintai tanpa syarat, bukan hanya ketika mereka “berguna” atau “cantik” saja.
Saya pernah bertemu seorang perempuan yang mengajarkan saya tentang pentingnya empati. Namanya Riska, dan pertemuan kami terjadi secara tak terduga, di tengah hari yang biasa. Ia tidak tampil mencolok, tidak memoles dirinya berlebihan, tetapi justru dari ketulusan kata-katanya saya bisa merasakan ketenangan. Ia tidak bicara panjang, tapi setiap kalimatnya seperti mengetuk ruang dalam hati saya. Di satu momen, ia pernah berkata, “Kita ini bukan tempat kamu menyembunyikan luka, apalagi tempat kamu membuang amarah. Kalau kamu mau hadir, hadir sepenuhnya. Jangan cuma datang kalau kamu sedang butuh.” Kalimat itu menampar, sekaligus menyadarkan.
Banyak pria tidak menyadari bahwa luka batin mereka akhirnya diwariskan pada orang lain, termasuk pasangan. Alih-alih menyembuhkan diri, mereka menuntut wanita untuk menjadi obat. Tapi wanita bukan penyembuh luka yang tidak dia sebabkan. Mereka bukan tong sampah emosi. Dan cinta sejati tidak seharusnya membebani satu pihak saja untuk terus mengerti, terus memahami, sementara pihak lainnya tidak mau membuka diri.
Penting juga bagi pria untuk menyadari bahwa menjadi kuat bukan berarti menjadi dingin dan tidak peduli. Justru kekuatan sejati seorang pria terletak pada kemampuannya untuk hadir secara utuh—secara fisik, mental, dan emosional—dalam sebuah hubungan. Berani membuka diri, berani meminta maaf, dan berani mencintai tanpa ego adalah tanda kedewasaan.
Sering kali wanita tidak menuntut harta berlimpah atau kemewahan hidup. Yang mereka butuhkan hanyalah kejelasan, konsistensi, dan komitmen. Mereka ingin tahu apakah kita benar-benar berniat membangun masa depan bersama, atau hanya menjadikan mereka sebagai pelarian sementara. Mereka ingin merasa aman untuk menjadi diri sendiri, tanpa harus selalu tampil sempurna atau kuat. Karena dalam setiap kelembutan wanita, tersimpan kekuatan yang tak terlihat—kekuatan untuk mencintai meski sering disakiti, kekuatan untuk bertahan meski sering diremehkan.
Sebagai seorang pria yang mulai memasuki usia dewasa, saya mulai belajar bahwa relasi bukan tentang siapa yang lebih dominan, siapa yang lebih banyak memberi, atau siapa yang lebih butuh. Hubungan yang sehat dibangun di atas saling pengertian, bukan asumsi. Saya belajar untuk berhenti memaksa wanita berubah menjadi seperti yang saya mau, dan mulai menerima mereka sebagaimana adanya—dengan segala kelebihan dan kekurangannya. Karena mencintai berarti merangkul semuanya, bukan hanya bagian yang kita suka.
Kini, setiap kali mendengar lagu “Karena Wanita Ingin Dimengerti,” saya tidak hanya sekadar menikmati melodi dan liriknya. Saya menjadikannya pengingat. Bahwa di balik senyuman seorang wanita, sering kali tersembunyi letih yang tak terlihat. Bahwa ketika ia mengatakan “tidak apa-apa,” bisa jadi ada banyak luka yang sedang ia tahan. Dan sebagai pria, tugas saya bukan untuk menyelami semua itu sendirian, tapi untuk hadir, dengan hati yang siap mendengar, dan jiwa yang siap mencintai.