Di sebuah sudut terpencil di Cibisoro, Kecamatan Bojongsoang, Kabupaten Bandung, berdiri sebuah rumah yang telah lama ditinggalkan. Dinding-dindingnya berkeramik putih namun retak di sana-sini, menyimpan jejak masa lalu yang tak bisa dibersihkan oleh waktu. Sisa-sisa cat yang mengelupas dan coretan tangan-tangan tak dikenal menggores permukaan seperti luka yang belum sembuh. Tak ada perabot, tak ada suara, hanya keheningan yang mendesak masuk ke rongga dada, seolah menyapa siapa pun yang datang dengan bisikan yang tidak bisa dijelaskan: "Ada yang hilang di sini."
Rumah ini bukan sekadar bangunan yang ditinggalkan. Ia adalah tempat yang pernah menjadi saksi peristiwa kelam—sebuah pembunuhan yang tak pernah benar-benar dijelaskan oleh hukum atau berita. Hanya cerita yang beredar dari mulut ke mulut, dari anak-anak yang bermain petak umpet di sore hari hingga orang-orang dewasa yang berbisik saat melintas malam-malam. Mereka bilang, ada jerit yang pernah bergema dari balik dinding itu. Ada kehidupan yang direnggut terlalu cepat, terlalu sunyi.
Saat aku berdiri di ambang pintunya yang mulai berkarat, ada perasaan aneh yang menyergap. Tidak sekadar takut, tapi semacam pengakuan: bahwa duka bisa menetap dalam ruang. Bahwa luka bisa menjelma arsitektur. Dan bahwa ada dinding yang bisa menangis dalam diam. Dinding itu, meski kini tinggal potongan-potongan retak dan noda, pernah menjadi saksi mata dari sesuatu yang tak terkatakan.
Beberapa ubin di dekat lantai terlihat lepas, tanah mulai mengambil alih bagian bawah rumah, seperti alam yang ingin menyembunyikan luka manusia. Tapi justru di sanalah aku merasa rumah ini berbicara. Ia tidak meminta untuk dikenang dengan horor, tetapi dengan kesadaran. Bahwa di balik setiap ruang yang hancur, ada cerita yang tak pernah selesai. Bahwa rumah tidak pernah benar-benar kosong, bahkan saat tak ada satu pun jiwa yang tinggal.
Coretan-coretan di dinding, entah siapa yang menulisnya, terlihat seperti usaha manusia untuk menandai eksistensinya. Ada tulisan “GANG HANTU”, seperti ejekan atau mungkin penyangkalan. Tapi aku merasa itu bukan sekadar grafiti iseng. Mungkin, seseorang yang menulis itu juga merasakan beban yang sama. Ruang ini terlalu sunyi untuk dianggap biasa. Terlalu sunyi untuk dibiarkan tak bermakna.
Aku berjalan ke dalam, melewati pintu yang setengah terbuka, melihat cahaya matahari menyelinap dari celah-celah atap yang runtuh. Di salah satu sudut, terlihat sisa-sisa papan kayu yang ditopangkan ke dinding. Mungkin bekas bangunan yang roboh, atau barangkali simbol betapa rumah ini pernah berusaha berdiri meski dipaksa runtuh oleh waktu dan tragedi. Di luar sana, kehidupan terus berjalan, tetapi di sini—waktu berhenti.
Ada bagian dari diriku yang ingin percaya bahwa rumah ini suatu hari akan dibersihkan, diperbaiki, dikembalikan ke fungsinya. Tapi bagian lain tahu, beberapa tempat tidak dimaksudkan untuk dihuni kembali. Beberapa tempat hanya hadir agar kita bisa belajar dari keheningan. Bahwa di balik kekerasan, ada luka yang tak hanya menimpa korban, tapi juga ruang. Ruang ini meratap dengan caranya sendiri. Diam, namun menyayat.
Cibisoro mungkin hanya sebuah titik kecil di peta, tetapi rumah ini membuatnya terasa seperti ruang ingatan yang lebih besar. Seolah ia berkata, “Lihat aku, dengarkan aku.” Bukan karena ia menakutkan, tapi karena ia pernah hidup. Karena ia pernah menjadi bagian dari narasi manusia yang kini tinggal fragmen.
Aku pulang dari tempat itu dengan debu di sepatu dan sedikit sesak di dada. Tapi aku tahu, pengalaman itu penting. Rumah itu mengajarkanku bahwa tak semua kenangan bisa dibungkam, dan tak semua sunyi adalah ketenangan. Kadang, sunyi justru berisi gema yang paling nyaring.
Dan dalam keheningan rumah terbengkalai di Cibisoro itu, aku mengerti: bahwa kita semua adalah pejalan di antara ruang yang bicara dalam diam. Kita hanya perlu cukup hening untuk mendengarnya.