Asap yang Kian Menipis: Catatan dari Seorang Perokok yang Ingin Pulang

 Ada satu hal yang sering saya lakukan tanpa sadar: duduk sendirian setelah pulang kerja, menyalakan sebatang rokok, lalu merenung. Dalam renungan yang diiringi kepulan asap tipis dan secangkir teh hangat, saya kerap mencatat hal-hal kecil yang mengusik hati saya. Bukan tentang politik, bukan pula soal drama percintaan anak muda yang viral di media sosial. Tapi lebih pada hal sederhana yang sudah lama saya jalani—kebiasaan merokok—dan bagaimana saya perlahan-lahan mulai berpikir untuk menguranginya, bahkan melepaskannya.

Saya tahu, saya bukan satu-satunya manusia yang memikirkan hal ini. Tapi ketika keputusan itu muncul dari lubuk hati terdalam, ia terasa lebih berat. Sebab bukan sekadar soal berhenti atau tidak, tapi tentang bagaimana saya menempatkan diri saya di antara kepulan asap, waktu yang terbatas, dan kesadaran akan tubuh yang harus saya jaga.

Seorang pria dengan wajah suram menatap layar ponsel, merokok di ruangan yang kotor dan suram ( Foto ilustrasi : Riska Ayu Pratiwi )

Rokok Bukan Gaya, Tapi Pelarian

Saya tidak pernah merokok untuk terlihat keren. Bukan untuk menunjukkan citra "sangar", bukan pula untuk membaur dalam pergaulan. Tidak ada urusan saya dengan gaya-gayaan. Buat saya, gaya tanpa isi hanyalah topeng tanpa wajah. Justru, rokok datang pada saya sebagai teman saat ruang terasa kosong, saat kesendirian seperti memanggil-manggil, dan saat kepala terasa penat oleh realitas yang terus menuntut.

Rokok bagi saya semacam jeda. Seperti titik koma dalam kalimat panjang kehidupan. Ia bukan akhir, tapi semacam waktu diam sebelum melanjutkan langkah. Sayangnya, dalam jeda itulah saya menyadari, saya terlalu sering diam dan terlalu lama tinggal.

Tempat Merokok: Sebuah Pengalaman Menjijikkan

Di tempat kerja, saya dulu sesekali mencari kesempatan untuk merokok saat jam istirahat. Tapi lama-lama, saya mulai merasa ada yang tidak beres. Bukan soal orang lain atau sistem kerja, tapi tempat yang tersedia untuk merokok—yang secara tidak langsung mencerminkan bagaimana perokok dipandang, atau mungkin juga, bagaimana rokok itu sendiri membawa aura kelam dalam ruang bersih bernama kehidupan.

Tempatnya kotor. Retakan tembok penuh lumut, bau pesing dari saluran yang tak terurus, dan aroma septic tank yang kadang menusuk lebih kuat dari aroma tembakau itu sendiri. Saya berdiri di sana seperti makhluk asing. Kadang seperti setan yang terusir dari kenyamanan, dipaksa menikmati keheningan dalam kekotoran.

Dalam momen itu, saya sering bertanya dalam hati, “Kenapa mereka betah di tempat sekotor ini hanya untuk merokok? Apa memang senyaman itu?” Pertanyaan yang selalu saya simpan, tapi tak pernah benar-benar saya jawab. Mungkin karena saya sendiri dulu termasuk di antara mereka. Atau mungkin karena saya sadar, bahwa kita semua punya alasan masing-masing—dan saya mulai kehabisan alasan untuk bertahan.

Tentang Kebersihan dan Pilihan

Saya bukan orang suci, bukan pula manusia tanpa cela. Tapi saya mencintai kebersihan. Saya menyukai ruang yang wangi, rapi, dan terasa segar di dada. Maka wajar, ketika akhirnya saya memutuskan untuk berhenti merokok di tempat kerja. Bukan karena takut pada peraturan, tapi karena tubuh dan jiwa saya menolak untuk terus berdiri di ruang kotor hanya demi sebatang rokok.

Saya tidak ingin hidup saya diisi dengan rutinitas yang sebenarnya bisa saya pilih untuk tidak dilakukan. Merokok adalah pilihan, dan kini saya memilih untuk membatasi. Memilih ruang yang lebih bersih, lebih tenang, dan lebih pantas untuk menenangkan pikiran. Jika pun saya merokok, saya ingin itu terjadi di ruang yang saya pilih dengan sadar—di rumah, saat senja, ditemani secangkir teh, dan renungan yang sunyi.

Demi Diri, Demi yang Dicintai


Ada banyak alasan untuk berhenti merokok—mulai dari kesehatan, keuangan, hingga masa depan. Tapi alasan terkuat saya justru datang dari dalam: karena saya peduli pada diri saya sendiri. Saya tahu tubuh ini punya batas, dan saya sadar betul bahwa setiap tarikan asap adalah semacam cicilan kecil pada penyakit yang mungkin datang di kemudian hari.

Lebih dari itu, saya ingin lebih panjang umur. Saya ingin lebih lama berjalan bersama orang yang saya cintai, menua bersama, dan melihat dunia dengan mata yang lebih jernih. Saya tidak ingin napas saya sesak hanya karena ego masa muda yang tak kunjung padam. Saya ingin tetap bisa menemani, bukan menjadi beban. Dan untuk itu, saya harus mulai dari sekarang.

Menjadi Sadar di Tengah Kepulan


Kini saya mulai mengurangi. Enam batang sehari bukan angka yang besar dibanding banyak perokok lainnya. Tapi saya tahu, setiap batang yang saya tinggalkan adalah langkah kecil menuju kesadaran yang lebih besar. Saya tidak ingin hidup saya diatur oleh kebiasaan yang merusak. Saya ingin kembali memegang kendali.

Saya tidak anti rokok. Saya hanya ingin lebih bijak. Tidak semua orang akan mengerti jalan ini, dan saya tidak butuh semua orang mengerti. Yang saya butuhkan adalah ketenangan, pilihan sadar, dan ruang bersih untuk terus menulis hidup saya.

Catatan yang Selalu Saya Baca Ulang


Setiap malam, saya duduk di sudut rumah. Tangan kanan memegang rokok, tangan kiri memegang buku catatan. Di sana tertulis banyak hal—tentang kenangan, tentang masa lalu, dan tentang keinginan untuk hidup lebih baik. Saya tahu saya belum sepenuhnya berhenti, tapi saya sudah mulai.

Dan setiap langkah kecil tetap berarti.

Esai ini bukan pengakuan. Ini adalah refleksi. Sebuah catatan untuk diri sendiri, dan mungkin juga untuk siapa pun yang sedang berpikir tentang apa arti merokok dalam hidupnya. Bukan untuk menghakimi, tapi untuk mengajak merenung: apakah kita masih menghisap rokok, atau rokok yang mulai menghisap hidup kita?

Penutup

Saya menulis ini tidak dalam suasana sok bijak. Saya hanya sedang jujur, pada diri sendiri dan pada perjalanan yang saya pilih. Rokok bisa jadi teman, bisa juga musuh. Tapi yang terpenting adalah bagaimana kita memilih, sadar, dan berdamai. Kini, saya memilih untuk menguranginya. Dan saya tahu, di ujung jalan ini, saya akan menemukan versi diri saya yang lebih sehat, lebih bersih, dan lebih hidup.

Di antara kepulan yang kian menipis, saya ingin pulang—pada hidup yang lebih utuh.

Saepul Permana Hidayat

Merekam senyap dari balik lensa. Menyusun cerita dari langkah kaki dan cahaya. Di antara pasar tua, bangunan kosong, dan jalan tak bernama, aku menulis tentang yang terlupakan agar tidak benar-benar hilang

Posting Komentar

Lebih baru Lebih lama