Jembatan Overpass Tegalluar bukanlah sekadar beton dan baja yang menghubungkan dua sisi jalan. Ia adalah penggalan masa lalu yang terus berdenting di kepala saya setiap kali saya berdiri di atasnya, memandangi kereta cepat yang melesat bagai kilat dari Stasiun Tegalluar. Mungkin bagi orang lain, ini hanyalah jembatan penyeberangan biasa—tempat pejalan kaki melintas, atau sekadar titik pandang bagi para pemburu konten kereta. Tapi bagi saya, jembatan ini menyimpan lapisan cerita, sebuah arsip ruang yang tak bisa dipisahkan dari fragmen hidup saya sendiri.
Dulu, sebelum jembatan ini berdiri, tempat ini hanyalah sebuah jalan biasa. Tapi bukan jalan sembarangan. Ini adalah jalan populer—akses utama menuju Stadion Gelora Bandung Lautan Api (GBLA). Setiap kali Persib Bandung berlaga melawan tim-tim dari berbagai penjuru negeri, ribuan orang melintasi jalan ini, membawa semangat, sorak sorai, dan harapan. Trotoar yang kini sepi pernah menjadi saksi riuh rendah para bobotoh, para pedagang asongan, dan iring-iringan motor yang membentuk arus kehidupan.
Namun, seiring waktu, jalan itu berubah. Ia tak lagi menjadi nadi utama yang mengantar euforia. Alih-alih ramai, ia justru menjadi bagian dari transformasi besar—menjadi jembatan. Namanya pun berubah: Jembatan Penyeberangan Rancanumpang, atau sebagian menyebutnya Jembatan Penyeberangan GBLA. Tapi nama yang paling melekat di kepala saya—dan mungkin di kepala banyak orang di dunia maya—adalah “Jembatan Adsense.” Julukan ini muncul bukan tanpa alasan. Saat pembangunan Kereta Cepat Jakarta-Bandung berlangsung, jembatan ini menjelma menjadi panggung utama bagi para YouTuber. Kamera-kamera diarahkan ke girder yang belum rampung, tiang-tiang penyangga yang masih dililit proyek, dan kereta-kereta uji coba yang pertama kali melintas dengan gegap gempita.
Saya pun pernah menjadi bagian dari momen-momen itu. Meski bukan vlogger profesional, saya membawa kamera saya sendiri, dan menyumbang pandangan dari sudut lensa yang personal. Saya ingat betul suasana waktu itu—udara dipenuhi debu proyek, suara mesin bersahutan dengan cicit burung pagi. Orang-orang berdiri di sisi jembatan, bukan hanya menunggu kereta melintas, tapi juga menunggu sejarah sedang ditulis di hadapan mereka. Ada pedagang yang lewat sambil mendorong gerobak dagangan, menyapa penonton dengan senyum seadanya. Ada satu keluarga, lengkap dengan anak kecil yang menyoraki suara “Whoosh” dari kereta cepat yang meluncur kencang.
Saya berdiri di sana, merekam bukan hanya gambar, tapi juga cerita. Saya potret para pengendara motor yang berhenti sejenak, pedagang yang melintas, serta lanskap yang mulai berubah drastis. Jalan lama yang dulu penuh kehidupan kini tampak seperti jalan mati—diam, namun menyimpan gema. Di kejauhan, kereta cepat datang dan pergi, seolah-olah ingin mengingatkan kita bahwa waktu tidak pernah benar-benar berhenti.
Kini, jembatan Overpass Tegalluar tak seramai dulu. Pembangunan sudah selesai. Para YouTuber mulai mengalihkan lensa ke tempat lain. Tapi bagi saya, jembatan ini masih hidup. Ia berdiri sebagai pengingat tentang betapa cepatnya segalanya berubah, dan betapa pentingnya mengabadikan momen sebelum ia lenyap ditelan modernitas.
Di bawah jembatan ini, kenangan saya berserakan: tentang euforia sepak bola, tentang geliat proyek besar, tentang orang-orang kecil yang tetap menjalani hidup meski ruang di sekitarnya terus berubah. Mungkin suatu hari nanti jembatan ini benar-benar akan menjadi bagian dari museum ingatan, disinggahi hanya oleh nostalgia. Tapi selama saya masih bisa menulis, masih bisa memotret, maka jembatan ini akan terus saya abadikan—bukan hanya sebagai ruang fisik, tapi sebagai ruang batin yang menyimpan serpihan perjalanan saya.
 |
Jalan lama yang kini menjadi gubuk kecil, biasanya sering di gunakan untuk nongkrong
|
 |
Jembatan overvass di ambil dari arah sapan,ke arah depan mengarah ke stadion GBLA, stasiun tegalluar, dan masjid Al Jabar
|
 |
Jalan lama yang kini sudah di penuhi semak belukar, dan di tutupi oleh pagar.
|
 |
Kereta cepat melintas dan memasuki stasiun tegalluar bandung
|
Selain hanting Kereta cepat saya juga memotret para pengendara motor yang melintas di area sekitar jembatan overvass tegalluar, saya tidak memberikan keterangan di bawah karena saya mengambil dari berbagai orang orang yang mengendarai sepeda motor dan mobil
Saya membalikkan badan saya, dan memotret dari arah sebaliknya
Saya menyebrangi jembatan dan memotret pesawahan yang ada di area stasiun tegalluar.
Bukan hanya para pengendara motor maupun mobil saya, memotret seorang pria tua yang sedang mendorong gerobak dagangannya melintas di jembatan overvass tegalluar
 |
Seorang pria yang sedang mendorong gerobak dagangannya melintas di jembatan overvass tegalluar
|
Kali ini saya memotret dari arah sebaliknya, dari arah stadion GBLA, masjid Al Jabar, dan stasiun tegalluar. Saya memotret banyaknya para pengendara yang melintas dari gede bage ke arah sapan
Saya melaju sepeda motor saya ke arah depan, saya ingin memotret di bagian depan dari jembatan overvass tegalluar. Sembari menunggu kereta melintas
Ada hal yang membuat saya mengingat kembali masa di mana proses pembangunan kereta cepat jakarta Bandung
 |
Saya mengingat di sini, banyak sekali batu balash yang di gunakan untuk keperluan kereta cepat jakarta Bandung. Sekarang hanya menyisakan, kolam air.
|
 |
Saya tidak mengetahui apa fungsi pos ini, apa ini sebagai pos pengamat sinyal atau pos biasa, yang jelas terlihat kesannya cukup terbengkalai, tanaman liar merambat di area pos ini.
|
 |
Kereta cepat melintas berangkat dari stasiun tegalluar menuju stasiun Padalarang Bandung. |