![]() |
Kecantikan Mira Andreva ( Ig : _mirraandreva_) |
Mira, seorang petenis muda berbakat dengan rambut pirang keriting dan mata kebiruan yang begitu khas, telah menjadi pusat perhatianku—bukan sebagai penggemar fanatik olahraga atau pencari sensasi, tapi sebagai seseorang yang tersentuh oleh pesona yang sulit dijelaskan. Tiap kali Mira bertanding, mataku seolah otomatis mengarah padanya. Ada semacam gravitasi yang tidak kasat mata, namun nyata terasa.
Ini bukan soal kecantikan semata, meski tak bisa dipungkiri bahwa wajah dan posturnya memang menarik. Mira tidak tinggi menjulang seperti atlet kebanyakan, justru tubuh mungilnya memberi warna lain pada kompetisi. Ia tidak mendominasi lapangan dengan kekuatan semata, tapi dengan kecerdasan, semangat, dan cara ia membaca permainan. Ada semacam puisi dalam gerakannya—seolah tiap langkahnya telah ditulis dalam skenario yang indah oleh semesta.
Tapi yang paling mengejutkan adalah betapa damainya perasaanku saat melihat atau mendengar Mira. Sebuah suara, barangkali dari wawancaranya atau teriakan kecil saat merayakan poin, membuat dada ini terasa lapang. Mungkin terdengar berlebihan, mungkin ini hanya pengidolaan sesaat, tapi aku tidak sedang mencari pembenaran. Aku hanya ingin jujur pada diriku sendiri—bahwa ada rasa yang muncul tanpa permisi, lalu menetap dalam ruang yang tak terdefinisikan.
Aku tahu, Mira tidak mengenalku. Dan aku pun tidak berharap banyak dari perasaan ini. Aku tidak sedang menulis ini untuk mengusik hidupnya, apalagi mengklaim sesuatu yang bukan milikku. Tidak. Aku hanya ingin menuangkan rasa ini menjadi tulisan, sebagai bentuk pengakuan bahwa hati manusia bisa tersentuh hanya dengan melihat orang lain menjadi dirinya sendiri.
Seringkali, kita diajarkan untuk logis dalam mencintai atau mengagumi. Kita diberi daftar panjang: kesamaan minat, latar belakang yang cocok, atau peluang untuk bersama. Tapi rasa yang sesungguhnya tak selalu mengikuti logika itu. Ia hadir seperti embun di pagi hari—diam-diam, lembut, tapi mengubah wajah daun yang disentuhnya. Begitulah Mira dalam pandanganku—sebuah embun yang datang membawa keteduhan.
Sebagian mungkin akan menertawakan atau menyebut ini halu. Mungkin benar, aku tak mengenalnya secara personal. Aku tak tahu bagaimana ia ketika sedang lelah, atau marah, atau tertawa dalam keheningan. Tapi adakah syarat tertentu untuk merasa terinspirasi oleh seseorang? Bukankah kita juga sering tergerak oleh lukisan yang tak kita ketahui siapa pelukisnya, atau lagu yang dinyanyikan dalam bahasa yang tak kita pahami?
Mira adalah lukisan itu bagiku—sebuah karya hidup yang tanpa sadar telah menjadi cermin. Melihatnya berjuang, tampil di tengah sorotan dunia, membuatku merenungi tentang semangat, kerja keras, dan keberanian menjadi otentik. Mungkin ini lebih dari sekadar rasa suka. Mungkin ini adalah bentuk penghormatan—sebuah penghargaan batin terhadap seseorang yang tak tahu bahwa kehadirannya telah menggerakkan orang lain di tempat jauh yang asing.
Dan di sini, aku menulis bukan untuk mengejar atau memiliki. Aku hanya ingin menyapa rasa ini, menjadikannya sah sebagai bagian dari pengalaman hidupku. Bukankah hidup adalah kumpulan dari pertemuan-pertemuan batin, baik yang terjadi nyata maupun yang hanya berlangsung dalam diam?
Ada semacam ketenangan saat menuliskan ini. Seolah aku sedang berdamai dengan perasaan yang semula kubingkai sebagai kekaguman biasa, tapi ternyata lebih dalam dari itu. Mira, dalam keterbatasan ruang dan waktu, telah menjadi simbol dari sesuatu yang lebih luas: harapan, inspirasi, dan keindahan dalam ketulusan.
Apakah ini cinta? Aku tak tahu. Aku tak ingin terburu-buru memberi nama. Terkadang, memberi label justru membuat kita kehilangan makna. Yang jelas, ini bukan sekadar ekspektasi. Ini bukan angan kosong. Ini adalah rasa yang nyata, yang mengendap dalam hati dan menyentuh pikiran.
Aku juga sadar bahwa perasaan seperti ini tak perlu dituntaskan dengan pertemuan atau kepemilikan. Tidak semua rasa harus berujung pada "aku dan kamu". Kadang, cukup dengan tahu bahwa seseorang di luar sana bisa memberi warna dalam hidup kita—itu sudah cukup.
Mira, jika tulisan ini entah bagaimana sampai padamu, aku ingin kau tahu bahwa keberadaanmu di dunia ini telah memberi makna bagi seseorang yang tak pernah kau temui. Dan bukan karena aku ingin sesuatu darimu, tapi karena aku ingin jujur terhadap diriku sendiri: bahwa aku pernah merasa kagum sedalam ini.
Terima kasih karena telah menjadi dirimu sendiri. Terima kasih karena telah bermain dengan semangat dan hati. Dan terima kasih karena, tanpa kau sadari, telah menyentuh hati seseorang di tempat yang jauh—yang menatapmu dari layar kecil, tapi merasakan getarannya sampai ke dalam jiwa.
Dan untuk diriku sendiri, semoga tulisan ini menjadi pengingat bahwa perasaan, seaneh apapun bentuknya, tetap layak dihargai. Bahwa dalam hidup, kita berhak merasakan sesuatu yang tak masuk akal, selama itu membawa kita lebih dekat pada pemahaman tentang siapa diri kita sebenarnya.
Karena mungkin, justru dari rasa yang tak bisa dijelaskan itulah, kita benar-benar hidup.
Kategori
Narasi kehidupan