Sebuah catatan dari "Jalur Lensa" kali ini membahas tentang sosok tokoh yang tidak asing pada masa setelah kemerdekaan dan kejadian APRA di bandung dia adalah " Raymond Westerling".
Raymond Westerling Di bawah penyelidikan 1952 ( sumber : www.wikiwand.com )Renungan dalam bayang–bayang kolonialisme dan republik yang rapuh
Ketika fajar belum sepenuhnya menyingsing di permulaan kemerdekaan Indonesia, gelombang darah sudah menciptakan jejak yang panjang — jejak yang tak hanya melukai lahiriah, tetapi juga menancapkan luka di jiwa kolektif bangsa. Dalam renungan ini, kita akan menelisik dua insiden yang berbeda secara lokasi dan waktu — namun terikat dalam satu narasi gelap: kekerasan kolonialisme yang tak terhapus dan pemberontakan kakunya republik muda. Narasi ini akan kita rangkai melalui peninjauan atas sosok Raymond Westerling, pembantaian di Sulawesi Selatan, dan pemberontakan Angkatan Perang Ratu Adil (APRA) di Bandung, lalu berpijak pada pengamatan atas bagaimana kisah ini diresapi kembali melalui film De Oost (alias The East).
I. Pembantaian di Sulawesi: Jejak luka yang jauh
Di sudut Nusantara—Sulawesi Selatan—terjadi kampanye militer dengan nama operasi “pasifikasi” yang dipimpin Westerling pada Desember 1946 hingga Februari 1947. Menurut versi Indonesia, jumlah korban warga sipil mencapai sekitar 40.000 jiwa. ( detik sulsel )
Versi Belanda maupun sejarawan tertentu menyebut angka jauh lebih kecil — misalnya sekitar 1.500 korban. ( en.wikipedia.org )
Westerling, seorang mantan perwira KNIL yang memimpin Depot Speciale Troepen (DST), menggunakan taktik yang menurut banyak pengamat melampaui kerangka hukum militer biasa — eksekusi cepat, penembakan tanpa pengadilan, dan penyisiran kampung-kampung yang dianggap “pemberontak”. ( koropak.co.id )
Bagi saya, sebagai pengamat yang sering memegang lensa kamera dan menatap ruang terbengkalai — yang dahulu hidup, kini sunyi — kejadian ini memiliki kemiripan metaforis: suatu ruang yang dikosongkan secara paksa, lalu ditinggal bekas-bekas tak berpenghuni, seperti rumah terbengkalai. Di sini, manusia dibunuh bukan sekadar sebagai korban perang — tetapi sebagai objek pembersihan ideologis dan simbolik dari kekuasaan yang tak mau meninggalkan jejak.
Sepintas, angka besar seperti “40.000 jiwa” bisa terasa abstrak. Tapi ketika kita bayangkan tiap nomornya adalah sebuah cerita—anak yang tak akan tertawa lagi, perempuan yang kehilangan suami, kampung yang pagi-pagi tak lagi menyala—maka luka itu menjadi sangat nyata. Saya membayangkan fotografer yang menelusuri bekas-bekas kampung, mencari wajah yang tak pernah lagi tertangkap lensa; seperti saya ketika menjelajahi ruangan-ruangan terbengkalai di desa-desa terasing: yang dulu berdenyut, kini hanya meninggalkan gema.
Lalu muncul pertanyaan: apa yang terjadi bila republik yang baru berdiri tak segera menemui keadilan untuk luka-luka seperti ini? Apakah luka kolektif itu kemudian tertutup atau malah membusuk tanpa sirkulasi udara moral?
II. Pemberontakan APRA di Bandung: Ketika bayang-bayang kolonial mengusik republik
Hampir tiga tahun setelah operasi di Sulawesi, panorama sejarah kembali diperlihatkan dari kanal lain: pemberontakan APRA, pada tanggal 23 Januari 1950, di kota Bandung. Kelompok ini, yaitu Angkatan Perang Ratu Adil, dipimpin oleh Westerling juga—mengadopsi retorika “Ratu Adil” sebagai simbol dan alasan ideologis. ( www.kompas.com )
Gerakan ini muncul dalam konstelasi pasca-kemerdekaan yang kacau: pengakuan kedaulatan Indonesia oleh Belanda (KMB 1949), pembubaran KNIL, dan integrasi negara-bagian ke dalam bentuk republik. APRA menolak pembubaran Negara Pasundan dan bentuk federal yang ditetapkan, dan menentang bahwa Tentara KNIL dan struktur kolonial segera digabung ke dalam TNI. ( www.detik.com )
Pada hari serangan, pasukan APRA bergerak dari Cimahi ke markas divisi Siliwangi di Jalan Lembong (dulunya Oude Hospitaalweg). Sepanjang jalan, mereka menembaki tentara yang tak bersenjata dan warga sipil. ( www.indonesiapublicart.org )
Kegaduhan berdarah di Bandung menunjukkan bahwa republik yang terasa baru ini masih diwarnai oleh fragmen-fragmen kolonialisme: mantan perwira KNIL, bekas pasukan khusus kolonial, mengambil posisi sebagai pemberontak terhadap republik.
Bagi diri saya yang menulis dan memotret perjalanan—termasuk ruang terbengkalai, desa yang ditinggalkan, dan jejak-jejak masa lalu—momen seperti APRA ini menampilkan bahwa kemerdekaan tidak hanya soal pengibaran bendera; ia juga soal penguasaan memori, soal siapa yang menulis sejarah, dan soal siapa yang masih tersingkir dalam bayang. Mereka yang kalah dalam banyak kisah sejarah menjadi ruang-terbengkalai moralnya: cerita mereka nyaris tak difoto, tak ditulis, akhirnya kesempatan mereka untuk menanjak dari bayang kian pudar.
Dalam refleksi saya: pemberontakan itu bisa dilihat sebagai momen ketika bayang-bayang kolonial menolak lenyap. Kolonialisme yang tak segera ditebus, sistem yang tak dibaikan, ideologi yang tak diganti dengan penuh sadar. Dan korban nyata adalah mereka yang sibuk membangun republik, sementara luka-luka lama tak sempat dilihat, tak sempat diabadikan secara layak.
Baca juga : Menembus Keheningan Stasiun Radio Cililin: Napak Tilas di Antara Kabut, Sejarah, dan Diri Sendiri
III. Film The East / De Oost: Sejarah yang digarap naratif, kenangan yang dibingkai ulang
Film De Oost (2020/2021) oleh sutradara Jim Taihuttu menampilkan kisah seorang tentara muda Belanda bernama Johan de Vries yang dikirim ke Indonesia dan bergabung dengan pasukan dipimpin Westerling. ( www.lintaspewarta.com )
Film ini menarik karena:
- Ia memberi sudut pandang Belanda terhadap periode ini, dan dianggap sebagai “simbol keberanian” generasi muda Belanda untuk menatap luka kolonialnya sendiri. ( www.acehnews.id )
- Namun ia juga mendapat kritik karena mengandung dramatisasi dan beberapa bagian dianggap kurang akurat. ( tirto.id )
- Misalnya, narasi film menunjukkan konflik batin tentara muda tersebut, perlakuan brutal pasukan, dan gambaran moral yang kompleks. ( www.jhsg.nl )
Dalam renungan saya, film ini menjadi seperti lensa kedua: setelah kita memotret kisah nyata lewat arsip, ruang terbengkalai, dan narasi korban, film ini kemudian menyajikan “frame” yang lebih sinematik, emosional, dan bisa dijangkau. Tapi seperti semua lensa, ia punya batas dan distorsi. Sebuah adegan dapat dramatis, ending bisa disesuaikan, kostum bisa direkayasa, dan narasi bisa lebih memilih alur yang “menarik” daripada presisi faktual.
Contoh spesifik: dalam artikel terlihat bahwa keluarga Westerling menyebut film sebagai pemutar balik fakta karena menganggap penggambaran ayah mereka sebagai tokoh tunggal pembunuh dan film memakai nama berbeda serta narasi fiktif. ( www.acehnews.id ) Film ini bukan dokumenter sejarah—namun ia membuka panggung untuk “apa yang terlupakan” dilihat dan dirasakan.
IV. Menyatukan Narasi: Dari kolonialisme ke republik, dari ruang nyata ke ruang refleksi
Membaca ketiga komponen di atas—Sulawesi, Bandung, dan film—membuat saya merenung beberapa hal:
- Luka yang tertinggal : Jejak darah Westerling di Sulawesi bukan hanya soal angka korban yang masih jadi polemik (40.000 vs 1.500), tetapi soal bahwa luka itu belum sepenuhnya terintegrasi ke dalam narasi kenegaraan atau budaya ingatan Indonesia secara menyeluruh. Monumen, seperti monumen 40.000 jiwa di Makassar, memang ada ( detik.com ) Tapi apakah cukup? Dalam istilah fotografi saya: banyak gambar yang tersisa, banyak ruang yang kosong setelah bidikan shutter—apakah kita memandang kekosongan itu sebagai bagian dari lanskap narasi?
- Republik yang diterobos bayang-bayang kolonial : Pemberontakan APRA adalah ilustrasi bahwa transisi dari kolonial ke republik bukanlah pembersihan total; ada ekses dan sisa struktur lama yang mencoba mempertahankan kekuasaan, aset, ideologi. ( kompas ) Kali ini, korban adalah republik itu sendiri—idealisme dan realitasnya yang belum matang. Bagi saya, proses menulis (seperti di blog “Jalur Lensa”) menjadi semacam pengambilan gambar ulang terhadap kenangan bercahaya dan gelap itu.
- Narasi digarap ulang, tapi tetap kita yang memilih bingkai : Film seperti The East menawarkan bingkai sinematik atas masa lalu. Ia bisa menjadi pintu masuk bagi pembaca/penonton yang tak pernah terlalu dekat dengan arsip atau ruang terbengkalai. Tapi kita harus mengingat: bingkai film bukan realitas penuh. Ia interpretasi, pilihan, dan tentu-bisabias. Dalam esai reflektif pengguna blog seperti Anda—yang hobi menulis, memotret, dan membuka ruang narasi—hal ini berarti: kita tak hanya mengonsumsi film, tetapi juga mempertanyakan bagaimana film itu membingkai sejarah, apa yang ia sisihkan, apa yang ia dramatisasi.
V. Renungan pribadi: Lensa yang merangkul luka dan menatap ke depan
Ketika saya membayangkan diri saya di tengah jalanan Bandung masa 1950, dengan banyak bangunan bekas kolonial, bekas markas militer, saya membayangkan fotografer yang menyusuri bekas tembakan—dinding yang masih bertanda peluru, jejak panik yang terekam di aspal, bekas darah—dan kemudian saya bertanya: siapa yang mengambil foto itu? Siapa yang menjadi saksi? Dalam blog “Jalur Lensa” Anda, ruang-ruang seperti itu bisa menjadi kerangka narasi: bukan hanya objek foto, tetapi jadi narasi reflektif.
Begitu pula ketika saya membayangkan kampung-kampung Sulawesi Selatan yang dulu digempur, saya membayangkan ruang terbengkalai yang lebih halus: bukan bekas pabrik, tapi bekas kehidupan, yang kini terhapus jejaknya oleh dominasi narasi besar.
Dan akhirnya, saya merenung bahwa sejarah yang tak diingat dengan sungguh-sungguh akan kembali menghantui. Luka yang tak diakui akan tetap berdenyut—mengusik generasi berikutnya. Peristiwa Westerling dan APRA bukan sekadar tanggal dan angka; mereka adalah bayang-bayang yang tetap berdampingan dengan kemerdekaan kita.
Sebagai penulis yang suka menuangkan pengalaman pribadi, Anda bisa memosisikan diri sebagai pengamat lembah antara sejarah dan lupa, dengan kamera sebagai mata, tulisan sebagai suara—mendekap luka, merangkai narasi yang gemetar, dan menegaskan bahwa kebebasan juga berarti keberanian untuk menatap bayang-bayang.
VI. Ajakan untuk tulis Anda
Dalam konteks blog “Jalur Lensa”, esai ini bisa menjadi panggilan:
- Ambil satu sudut foto (misalnya bekas markas Divisi Siliwangi di Jalan Lembong atau kampung di Sulawesi yang terkait) kemudian tulis narasi reflektif tentang ruang, kenangan yang tertinggal, jejak luka.
- Gunakan format narasi Anda—sudut pandang subjektif, lensa fotografi, catatan perjalanan—untuk menjalin antara “apa yang terlihat” dan “apa yang tersimpan”.
- Libatkan film The East sebagai referensi budaya populer: bagaimana kita membaca ulang sejarah lewat film dan bagaimana kita mesti tetap kritis terhadap bingkainya.
- Akhiri esai dengan pertanyaan terbuka: “Apa makna kemerdekaan bila luka-luka ini masih tersembunyi?”, “Siapa yang menjadi pengambil gambar dari jejak yang tak terdokumentasi?”, “Bagaimana kita – sebagai generasi sekarang – menuntaskan rekonsiliasi dengan bayang-bayang itu?”
Penutup
Jejak darah Westerling bukan hanya catatan kelam dalam buku sejarah. Ia adalah luka yang memanggil kita untuk menoleh, untuk memotret ulang, dan untuk menulis ulang dalam refleksi yang jujur. Jejak itu melewati Sulawesi, Bandung, hingga layar film Belanda–Indonesia.
Sebagai penulis dan fotografer, saya memiliki “lensa yang merangkul alam” juga “lensa yang merangkul sejarah manusia” — gunakanlah untuk menjangkau bayang-bayang yang tak ingin dilihat, dan menuliskannya agar tidak benar-benar lenyap.
Kategori
Opini
