Menyusuri Gelombang: Dari Malabar, PHOHI, NIROM, hingga Suara Shortwave Malam Ini

 menelaah dan belajar dari hobi saya, sebagai pendengar radio gelombang pendek ( SW ) ada pelajaran yang saya dapat sekaligus benang merah dari stasiun radio kolonial.

Stasiun radio malabar pada tahun 1930, ( foto : KITLV )

Malam itu, tepat pukul 22:05, aku duduk di kamar yang sunyi. Di hadapanku, radio kecil berumur puluhan tahun masih setia berderak, memecah hening dengan desis statis yang kadang terasa seperti suara hujan di udara. Aku memutar dial pelan, mencari-cari frekuensi yang terasa asing namun akrab. Tiba-tiba, di antara riuh noise, muncul suara berbahasa Indonesia. Bukan dari Jakarta, bukan pula dari Bandung, tapi dari jauh—katanya Vietnam. Suara itu terdengar lirih, bergelombang, seakan melintasi ribuan kilometer udara sebelum menepi di telingaku.

Seketika, aku teringat pada kisah tua tentang Radio Malabar—pemancar legendaris yang berdiri di lereng Gunung Malabar, Bandung, pada awal abad ke-20. Aku membayangkan bagaimana, seratus tahun silam, udara di atas kepalaku pernah dipenuhi gelombang serupa. Bedanya, kala itu bukan suara Vietnam yang menembus ruang, melainkan pesan-pesan penting dari Belanda ke Hindia Belanda, atau sebaliknya. Sejarah radio di negeri ini, rupanya, masih bergema dalam dentuman samar shortwave malam hari.

Malabar: Gunung yang Menjadi Jembatan Dunia

Dibangun pada 1917 dan diresmikan sekitar 1923, Stasiun Radio Malabar adalah salah satu pemancar terbesar di dunia pada masanya. Bayangkan, di sebuah lereng pegunungan di selatan Bandung, berdiri antena raksasa sepanjang hampir 2 kilometer, ditopang kabel baja yang membentang di antara tiang-tiang setinggi pohon pinus. Dari sanalah gelombang panjang dikirim ke Eropa, menembus jarak belasan ribu kilometer tanpa kabel bawah laut.

Bagi Belanda, Malabar adalah proyek kebanggaan—simbol kemajuan teknologi dan tanda bahwa koloni ini bisa tetap terhubung dengan negeri induk. Namun bagi orang-orang lokal yang tinggal di sekitar Bandung, kehadiran Malabar mungkin lebih seperti misteri: sebuah bangunan raksasa yang memancarkan suara tak kasatmata, menembus udara malam yang dingin.

Ketika aku mendengar siaran Vietnam dalam bahasa Indonesia malam ini, aku teringat betapa udara Bandung pernah jadi "jalan raya" bagi gelombang radio dunia. Rasanya, seperti ada benang halus yang menghubungkan telingaku dengan masa lalu: dari statis radio kecilku, aku bisa merasakan denyut teknologi abad lampau.

Baca juga : Jembatan Dayeuhkolot: Dari Potongan Beton ke Simbol Harapan

PHOHI: Suara Belanda yang Menembus Hindia

Beberapa tahun setelah Malabar berdiri, Belanda mendirikan PHOHI (Philips Omroep Holland-Indië) pada 1927. Inilah radio shortwave yang memancarkan program langsung dari Belanda ke Hindia Belanda. Gelombang pendek dipilih karena mampu memantul lewat ionosfer dan menjangkau ribuan kilometer jauhnya.

Bayangkan seorang pegawai perkebunan di Deli, Sumatra, atau keluarga Eropa di Batavia yang duduk di ruang tamu pada malam hari. Dengan radio besar mereka, mereka bisa mendengar musik, berita, atau pidato langsung dari Den Haag. Itu semacam "internet awal abad ke-20", penghubung psikologis antara tanah jajahan dan negeri induk.

Namun, bagi sebagian penduduk pribumi, suara itu terasa jauh, asing, bahkan mengganggu. Siaran PHOHI bukan untuk mereka—bahasanya Belanda, isinya untuk orang Belanda. Tapi justru di situ, aku melihat benang merah: shortwave selalu punya wajah ganda. Ia bisa jadi alat kontrol, tapi sekaligus juga pintu imajinasi bagi mereka yang diam-diam ikut mendengarkan.

NIROM: Radio yang Menyapa dalam Bahasa Melayu

Lalu datang NIROM (Nederlandsch-Indische Radio-Omroep Maatschappij) pada 1934. Inilah lembaga penyiaran resmi di Hindia Belanda, dengan kantor di Batavia, Surabaya, dan Bandung. Tidak seperti PHOHI yang berpusat di Belanda, NIROM lebih dekat dengan realitas sehari-hari di koloni.

Yang menarik, NIROM tak hanya menyiarkan program berbahasa Belanda, tapi juga meluncurkan siaran Melayu. Inilah awal mula radio sebagai medium hiburan dan informasi bagi pribumi. Lewat NIROM, musik keroncong, sandiwara radio, hingga berita lokal mulai akrab di telinga pendengar.

Radio, pada titik itu, mulai menembus batas kelas. Ia bukan lagi sekadar suara kolonial yang jauh, melainkan suara yang bisa dirasakan sehari-hari. Dalam refleksiku, mungkin inilah cikal bakal pengalaman mendengar bahasa sendiri dari udara jauh—seperti yang kurasakan ketika mendengar Voice of Vietnam malam ini.

Baca juga :Susur jalur : menemukan beberapa peninggalan dari jalur menuju stasiun Ciparay

Malam di Antara Sinyal: Nostalgia yang Hidup Kembali

Ketika aku mendengar suara Indonesia dari Vietnam, aku membayangkan bagaimana rasanya hidup di tahun 1930-an atau 1940-an. Seorang anak muda di Bandung bisa saja duduk di teras rumah, memutar radio, lalu mendengar suara asing bercampur bahasa Melayu. Bagi mereka, itu mungkin terasa seperti mukjizat: dunia yang luas tiba-tiba menyelinap masuk ke ruang sempit rumah bambu.

Dan malam ini, aku merasakannya kembali. Gelombang pendek, meskipun sudah dianggap tua, tetap menyimpan keajaiban. Di era internet serba instan, radio shortwave seperti jendela rahasia menuju masa lalu. Aku bisa mendengar stasiun dari Hanoi, Beijing, atau Bangkok, kadang samar, kadang jelas—seakan udara masih menyimpan ingatan panjang tentang Malabar, PHOHI, dan NIROM.

Refleksi: Gelombang yang Menyatukan Waktu

Ada sesuatu yang melankolis ketika mendengarkan shortwave hari ini. Suara-suara itu bukan sekadar berita atau lagu, tapi juga gema sejarah. Dari Malabar yang memancarkan kebanggaan kolonial, PHOHI yang menjembatani Belanda-Hindia, NIROM yang mulai menyapa pribumi, hingga aku yang duduk di kamar kecil Bandung mendengar suara Vietnam berbahasa Indonesia—semua seperti terhubung oleh benang tak kasatmata.

Gelombang radio tak pernah benar-benar hilang. Ia mungkin redup, kalah oleh internet, tetapi bagi mereka yang mau mendengar, ia tetap hidup. Bahkan, ia membawa serta romantisme sejarah: bahwa kita pernah punya gunung yang menjadi pemancar dunia, bahwa udara kita pernah jadi saksi percakapan global, bahwa suara asing bisa terasa begitu dekat.

Penutup: Menjaga Api yang Samar

Aku menutup radio setelah suara itu hilang ditelan statis. Di kamar yang kembali sunyi, aku tersenyum kecil. Barangkali, apa yang kudengar hanyalah siaran rutin Voice of Vietnam—program sederhana untuk audiens Indonesia. Tapi bagiku, ia lebih dari itu. Ia adalah pengingat, bahwa aku sedang duduk di tanah yang pernah jadi jantung komunikasi dunia, tanah yang gelombangnya pernah menghubungkan Belanda dengan Hindia, tanah yang menyimpan sejarah panjang tentang radio.

Malam ini, di udara yang sama, aku merasakan kehadiran Malabar, PHOHI, dan NIROM. Mereka tidak lagi berdiri dalam bentuk fisik, tapi gelombang mereka tetap bergema dalam setiap siaran shortwave yang menyeberang batas negara. Dan aku, seorang pendengar biasa, hanyalah saksi kecil yang beruntung bisa merasakan denyut sejarah lewat suara samar di frekuensi 9 atau 12 MHz.

Gelombang itu, ternyata, bukan hanya menghubungkan jarak. Ia juga menyatukan waktu—membawa masa lalu, kini, dan mungkin masa depan ke dalam satu momen sederhana: seorang manusia, sebuah radio, dan suara asing yang terdengar begitu dekat.

#shortwave #opini #radiosw #niromradio #phohiradio #radiogelombangpendek

Saepul Permana Hidayat

Merekam senyap dari balik lensa. Menyusun cerita dari langkah kaki dan cahaya. Di antara pasar tua, bangunan kosong, dan jalan tak bernama, aku menulis tentang yang terlupakan agar tidak benar-benar hilang

Posting Komentar

Lebih baru Lebih lama