Susur jalur : menemukan beberapa peninggalan dari jalur menuju stasiun Ciparay

 Kami menelusuri jalur kereta api yang mengarah ke stasiun Ciparay, beberapa temuan dari sisa peninggalan jalur kereta api masih terlihat jelas.

Sebuah rumah berdiri di atas pondasi jembatan yang berada di kawasan Ciparay Bandung ( Foto : Saepul Permana)

Menelusuri Jejak yang Tertinggal di Gang Sempit

Sore itu, langit menggantung abu-abu. Cuaca tampak tak menentu, seolah menyimpan rahasia yang belum ingin diungkapkan. Dengan motor sederhana, aku menelusuri gang demi gang. Gang ini bukan sembarang jalur sempit; ia padat oleh rumah-rumah, penuh dengan aktivitas warganya. Namun di balik keramaian itu, aku tahu, dahulu ia adalah lintasan rel kereta api yang kini sudah lama tidak berfungsi.

Aku merasa seperti tamu di ruang yang bukan milikku. Setiap kali melewati orang, aku harus berucap “permisi,” tanda bahwa aku sadar keberadaanku hanya sejenak, sekadar singgah untuk mencari jejak masa lalu. Dan benar saja, langkahku terhenti ketika melihat sebuah patok kecil bertuliskan huruf “SS.” Patok itu masih berdiri, meski sebagian tubuhnya terkubur tanah. Sebagian besar orang mungkin tak pernah memperhatikannya, apalagi memahami maknanya. Padahal ia adalah penanda bahwa kereta api pernah melintasi jalan ini, membawa cerita dan denyut kehidupan.

Sejujurnya, aku tak memulai penelusuran ini sebagaimana mestinya. Seharusnya dari bekas stasiun Dayeuhkolot menuju Majalaya, tetapi aku justru memilih jalur Ciparay. Aku menyebutnya penelusuran acak—sebuah perjalanan tanpa pola, hanya mengikuti intuisi. Namun justru dalam ketidakteraturan itu aku menemukan sesuatu: sisa-sisa yang masih setia berdiri, meski zaman sudah berubah.

Dari arah selatan, suara guntur menggema, menyusul awan hitam yang mulai menebal. Aku tahu, hujan akan segera turun. Perjalanan ini mungkin harus dipercepat. Tapi di balik langkah yang terburu, ada kesadaran lain yang muncul: jejak masa lalu selalu hadir di sela-sela kehidupan sekarang. Ia mungkin terlupakan, tetapi tetap bernafas—menunggu untuk dilihat kembali oleh mereka yang mau berhenti sejenak.

 langkahku berhenti pada sebuah penanda kecil: sebuah patok dengan ukiran huruf SS yang masih terlihat jelas meski usianya tak lagi muda. Patok itu bukan sekadar batu yang ditanam di tanah, melainkan saksi bisu perjalanan panjang kereta api yang dahulu melintas di jalur ini. Dengan rasa ingin tahu, aku menelusuri jalurnya, menghitung jarak seratus meter demi seratus meter, sebagaimana aturan lama yang pernah kutahu tentang penempatan patok.

Tak lama, aku menemukan patok lain—sayangnya terguling, separuh tubuhnya ditelan tanah dan waktu. Namun huruf SS di permukaannya tetap setia menjaga identitas, seakan enggan membiarkan sejarahnya benar-benar hilang. Aku kembali melanjutkan perjalanan dengan motor, menepi di setiap titik yang kurasa menyimpan jejak. Sesekali, hanya kepala patok yang muncul, menyembul di antara rerumputan atau bahkan di halaman rumah penduduk.

Jika kuhitung dengan saksama, ada sekitar empat puluh patok di jalur ini. Sebagian masih berdiri, sebagian lain terkubur, seakan menyerah pada desakan pembangunan. Rumah-rumah, jalanan, dan kehidupan baru kini berdiri di atasnya. Tetapi, bagi yang mau memperhatikan, patok-patok itu tetap hadir, menegaskan bahwa jalur ini dulu adalah nadi transportasi yang menghubungkan manusia, cerita, dan ruang.

Aku merenung sejenak. Betapa banyak kisah yang bisa terhapus jika kita tak lagi peduli pada tanda-tanda kecil semacam ini. Patok-patok SS itu mungkin dianggap sepele, hanya batu tua yang sudah tak berguna. Namun bagiku, mereka adalah pengingat: bahwa waktu berjalan, ruang berubah, tetapi jejak sejarah selalu berusaha bertahan—meski hanya lewat huruf yang nyaris tertimbun tanah.

Di Antara Rel yang Terkubur dan Kenangan yang Hidup


Perjalanan dengan motor sore itu membawa saya ke sebuah tempat yang tak biasa: halaman SDN Parongpong. Bukan sekolahnya yang menjadi tujuan, melainkan jejak sejarah yang tersembunyi di bawah bangunan ini. Di sana, di antara pondasi yang sudah lama berdiri, saya menemukan kembali sebuah patok “SS”—sisa dari masa lalu ketika jalur kereta api Dayeuhkolot–Majalaya masih berdenyut. Patok itu kini hanya menampakkan sebagian hurufnya, seakan berusaha keluar dari lapisan waktu yang menutupinya.

Ketika saya sedang memandangi patok tersebut, seorang bapak mendekat. Rumahnya berdiri di area sekolah itu. Dengan nada hati-hati, ia menanyakan maksud kedatangan saya. Mungkin ia mengira saya petugas PT KAI yang sedang melakukan pengecekan jalur. Saya pun menjelaskan, “Saya railfans, Pak. Hanya ingin susur jalur.” Jawaban itu rupanya membuka pintu percakapan yang lebih dalam.

Bapak itu bernama Koswara. Dengan mata yang masih menyimpan cahaya masa lalu, ia bercerita bahwa dirinya pernah menjadi kondektur kereta api pada tahun 1960-an. Dari bibirnya mengalir kisah tentang hiruk pikuk jalur ini, termasuk satu peristiwa yang membekas di ingatannya: sebuah kecelakaan di jembatan Dayeuhkolot.

Menurutnya, musibah itu terjadi karena kesalahan komunikasi antara stasiun Banjaran dan Dayeuhkolot. Jalur dinyatakan aman, padahal kereta dari Banjaran sedang melaju menuju Dayeuhkolot. Akibat miskomunikasi, kereta dari Dayeuhkolot justru diberangkatkan ke arah Banjaran. Dua lokomotif uap akhirnya hampir beradu di atas jembatan. Untungnya, karena kereta uap tidak berlari kencang, tabrakan besar berhasil dihindari. “Bapak mah masih inget, bahela nepi KA nga gajleng di jembatan,” ungkap Pak Koswara dalam bahasa Sunda yang sarat dengan rasa getir.

Saya mendengarkan dengan takzim, membayangkan suasana mencekam itu, ketika dentuman roda besi dan teriakan manusia berpacu dengan nasib. Jalur yang kini terkubur pondasi sekolah, rupanya masih menyimpan gema peristiwa yang nyaris menjadi tragedi besar.

Setelah membayar segelas teh yang menenangkan mata saya yang mulai berat, saya kembali melanjutkan perjalanan. Langit kian mendung, namun masih memancarkan cahaya samar. Di bawah redupnya sore, saya merasa setiap susur jalur bukan sekadar mencari sisa-sisa rel atau patok tua. Ia adalah perjalanan untuk mendengarkan kembali suara-suara masa lalu, dari orang-orang seperti Pak Koswara, yang menjadi saksi bahwa sejarah tidak pernah benar-benar mati—ia hanya menunggu untuk didengarkan kembali.

Baca juga :

Jejak di Bawah Jembatan Mati

Sisa pondasi jembatan dari arah barat, dari arah Dayeuhkolot, pondasinya cukup kuat dan besar di atasnya terdapat kandang ayam ( foto : Saepul Permana )


Sebuah rumah berdiri di atas pondasi jembatan kereta api posisinya berada di bagian timur arah Ciparay ( Foto : Saepul Permana )


Saya berjalan kembali ke arah gang setelah menyeberangi jalan besar. Tidak jauh dari sana, sebuah jembatan penyeberangan kereta api menyapa pandangan saya. Pondasinya tampak kokoh dan besar, seperti penanda diam dari masa lalu yang tak lagi berdenyut. Dari ketinggian jembatan itu, saya bisa memperkirakan betapa dulu jalurnya cukup tinggi, mungkin setara dengan atap rumah di sekitarnya. Bayangan kereta yang melintas di jalur Dayeuhkolot–Majalaya, yang sudah nonaktif sejak 1943, terlintas di kepala saya. Kini, tanah di sekitar jembatan sudah dikeruk warga, menyisakan pondasi yang setia berdiri meski usianya sudah ratusan tahun.

Saat saya tengah mengambil gambar, seorang warga menghampiri, menanyakan maksud kedatangan saya. Dengan jawaban sederhana, saya berkata: “Susur jalur.” Obrolan pun mengalir hangat. Ia menjelaskan bahwa dulu jalur itu menjulang tinggi, tapi kini hanya pondasi yang tersisa. “Dulu mah jalur ini tinggi, cuma sama warga di keruk, lalu menyisakan pondasinya. Sebenarnya mah masih dalam, kaya tidak ada ujung,” ujarnya. Saya hanya mengangguk, membiarkan imajinasi saya bermain di sela kata-katanya. Di atas jembatan kini berdiri kandang ayam—ruang baru yang menggantikan jejak lama.

Saya melanjutkan langkah ke pondasi bagian timur. Di sana, seorang pemilik rumah bahkan sudah membangun kamar di atas bekas pijakan jembatan itu. Lagi-lagi seorang warga menghampiri, menanyakan tujuan saya. Dan lagi-lagi saya menjawab, “Menyusuri jalur mati Dayeuhkolot–Majalaya.” Kali ini, ia mempersilakan saya duduk berbincang di warung kecil. Karena sebelumnya sudah meneguk teh di perjalanan, saya hanya membeli air mineral.

Obrolan kami sederhana, tapi penuh makna. Ia bercerita bahwa dulu wilayah ini hanyalah hamparan sawah luas, sebelum rumah-rumah berdatangan satu per satu hingga akhirnya padat seperti sekarang. Saya iseng menanyakan, bagaimana jika jalur ini aktif kembali? Dengan nada pasrah, ia menjawab, “Saya mah ikut saja, ini tanah mereka. Saya cuma numpang.” Jawaban itu menyentuh saya, seakan memperlihatkan bagaimana ruang hidup seringkali berubah di luar kuasa penghuninya.

Perjalanan singkat ini bukan hanya soal pondasi jembatan tua, tapi juga tentang bagaimana sejarah dan kehidupan saling menumpuk. Rel yang hilang tergantikan rumah, sawah yang lenyap menjadi gang, dan ingatan yang bertahan di mulut para warga. Saya menyadari, menyusuri jalur mati bukan sekadar mencari sisa besi atau beton, melainkan juga mendengar denyut masa lalu yang masih bergema di hati orang-orang yang menempatinya hari ini.

Jejak Rel Tua di Sarimahi

Rel kereta api yang berukuran kecil masih berdiri kokoh di sungai kecil ( Foto : Saepul Permana )

Setelah perbincangan singkat dengan bapak tadi, langkah saya kembali terarah ke gang-gang sempit yang padat penduduk. Suasana begitu ramai: anak-anak berlarian, para bapak duduk di pinggir jalan dengan rokok di tangan, sementara sekelompok gadis bercengkerama di sebuah warung kecil. Hiruk-pikuk kehidupan itu menyambut perjalanan saya, hingga akhirnya saya tiba di sebuah jembatan kecil dengan aliran irigasi yang jernih.

Jembatan itu tampak ringkih, pondasinya sudah tua, mungkin berusia hampir seabad. Di sisi selatan, berdiri patok rel—bukti senyap bahwa jalur ini pernah menjadi bagian dari perjalanan kereta di masa lalu. Letaknya tepat di tengah aliran air, kecil, hampir tak terlihat bila tidak diperhatikan. Saya berhenti sejenak, mengamati, lalu memotret patok rel itu.

Namun momen hening saya terusik oleh segerombolan anjing. Mereka mendekat, penuh kewaspadaan, seakan menanyakan apa yang saya lakukan di wilayah mereka. Jujur, saya merasa gentar. Tetapi rasa takut itu saya tekan, sebab kepanikan hanya akan memperburuk keadaan. Saya mencoba tenang, melangkah perlahan, dan membiarkan mereka mengikuti tanpa memberi perhatian lebih. Ada semacam ujian kecil: bagaimana menghadapi sesuatu yang menakutkan dengan ketenangan, bukan lari.

Perjalanan saya berlanjut hingga tiba di SDN Sarimahi. Di samping sekolah itu, berdiri tiga pilar jembatan tua. Ukurannya tidak besar, tetapi jelas ada bekas rel yang pernah melintas di atasnya. Saya terdiam sejenak, merenungkan kemungkinan: jika jalur ini diaktifkan kembali, mungkin sekolah ini akan terkena dampak pembangunan. Sebuah dilema muncul—antara keinginan menjaga sejarah jalur kereta dan kenyataan bahwa kehidupan kini sudah terlanjur tumbuh di sekitarnya.

3 pilar jembatan masih berdiri, di samping SDN SARIMAHI ( Foto : Saepul Permana )

Di titik itu, saya sadar, setiap perjalanan bukan hanya soal tempat yang kita tuju, melainkan juga tentang bagaimana kita membaca jejak masa lalu yang diam-diam bertahan di tengah arus kehidupan modern. Rel tua, pilar jembatan, bahkan tatapan anjing di jalan, semua memberi pesan yang sama: bahwa ruang selalu menyimpan cerita, dan kita sebagai pejalan hanya sebatas penafsir yang mencoba menghubungkannya dengan diri sendiri.
Menelusuri Jejak yang Tersisa di Stasiun Ciparay

Setelah melewati jembatan kecil, saya kembali menembus gang-gang sempit, menyusuri jalur kereta nonaktif yang kini hanya tersisa dalam ingatan dan sisa-sisa fisiknya. Di setiap langkah, kata “punten” otomatis keluar dari mulut saya—sebuah tanda penghormatan pada warga setempat, sebab saya sadar, saya hanyalah tamu yang singgah di ruang kehidupan mereka.

Beberapa menit berjalan, saya menemukan patok SS. Kali ini patoknya berdiri tegak, berdampingan dengan patok milik PT KAI yang justru sudah tumbang. Seratus meter kemudian, patok lain tampak terguling, huruf “SS”-nya mulai memudar. Simbol yang dulunya penuh arti kini hanya menjadi penanda samar, hampir ditelan waktu. Seakan-akan setiap patok yang saya temui adalah bisikan masa lalu, mengingatkan bahwa di jalur sunyi ini dulu pernah ada denyut kehidupan.

Patok ss yang masih berdiri tegak, di samping nya ada patok PT KAI, namun sudah tubuh terhalang oleh kursi ( foto : saepul permana )

Patok ss yang sudah tumbang dengan huruf ss nya sudah memudar ( foto : Saepul Permana )


Perjalanan akhirnya membawa saya ke tujuan: Stasiun Ciparay. Tidak jauh dari pasar, bangunan tua itu masih berdiri, meski kini sudah beralih fungsi menjadi rumah pribadi. Seorang warga bercerita, dulunya stasiun ini sempat menjadi kantor kelurahan dan kantor RW. Di depannya, berdiri sebuah taman kanak-kanak, dan nama jalan di sekitar situ menjadi petunjuk samar bahwa dulunya ada sebuah stasiun yang pernah berperan penting.

Saya melihat sisa peron di sisi barat. Panjangnya kini hanya sekitar 12 meter, padahal dulunya mencapai 20 meter. Sebagian lahan sudah dipakai untuk membangun rumah. Jejak itu terasa kian ringkih, seolah setiap meter yang hilang adalah potongan sejarah yang ikut lenyap.

Hujan deras tiba-tiba turun, memaksa saya untuk berteduh di rumah salah seorang warga yang ramah. Di sela percakapan hangat dan kepulan asap rokok, ia bercerita bahwa Stasiun Ciparay dulu memiliki tiga jalur, termasuk yang terhubung ke sebuah turntable—meja putar kereta. Kini semua itu hilang, berganti rumah dan depot air galon. Masih ada tandon air dan bahkan sebuah gerbong datar, katanya, tersisa di kebun tiwu arah Majalaya. Saya terdiam, antara percaya dan ragu. Tahun 2022, saat saya menelusuri jalur ini, saya tak menemukannya. Namun, saya memilih untuk mengiyakan, membiarkan cerita itu hidup sebagaimana kenangan yang ia rawat.

Di balik derasnya hujan sore itu, saya menyadari satu hal: stasiun ini bukan lagi sekadar bangunan mati. Ia adalah ruang yang berubah, tapi tetap menyimpan jejak memori kolektif. Setiap cerita warga, setiap patok yang roboh, setiap peron yang tergerus waktu, adalah bagian dari kisah panjang tentang perjalanan, kehilangan, dan kenangan yang masih bertahan.

Jejak yang Masih Mengganjal

Bekas stasiun Ciparay, yang kini menjadi tempat tinggal, suasana cukup mendung ( foto : Saepul Permana )

Hujan baru saja reda ketika saya berpamitan kepada warga yang sempat menemani perbincangan singkat. Langkah saya terhenti sejenak di depan Stasiun Ciparay, stasiun tua yang kini hanya menyisakan nama dalam ingatan orang-orang. Niat hati ingin melanjutkan perjalanan menuju Stasiun Majalaya, namun jam sudah menunjukkan pukul 17.30. Sadar waktu tak lagi bersahabat, saya memutuskan untuk pulang melewati Pasar Ciparay. Pasar itu sedang dalam tahap pembangunan kembali—sebuah tanda bahwa kehidupan terus bergerak maju, meski di sisi lain ada jejak sejarah yang kian pudar.

Dalam perjalanan pulang, ada satu hal yang terus mengganjal pikiran saya: tandon air Stasiun Ciparay. Benarkah ia pernah ada? Jika ya, di mana kini jejak pondasinya? Pertanyaan itu muncul karena saya tahu, sisa-sisa lain dari jalur Dayeuhkolot–Majalaya masih dapat ditemukan. Ada tiga pilar kecil yang tersisa di SDN Sarimahi, ada patok rel yang masih tegak berdiri, dan ada pondasi jembatan yang meski rapuh tetap menjadi saksi masa lalu. Semua itu membuat saya percaya bahwa jalur ini pernah benar-benar berjaya.

Namun di balik keyakinan itu, muncul juga keraguan: apakah yang saya dengar selama ini hanyalah cerita turun-temurun tanpa dasar? Ataukah memang ada bukti yang tertimbun oleh waktu dan pembangunan baru? Lalu, pertanyaan lain yang lebih besar: akankah jalur ini suatu hari diaktifkan kembali?

Bagi sebagian penduduk, bayangan itu justru menimbulkan ketakutan. Rel yang sudah lama mati telah mereka sulap menjadi jalan, rumah, atau pasar. Kehidupan mereka sudah beradaptasi tanpa kereta api.

Saya tidak memiliki jawaban. Yang saya lakukan hanyalah menelusuri, memotret, dan menuliskan kembali sisa kejayaan itu. Mungkin, dengan catatan sederhana ini, jejak jalur Dayeuhkolot–Majalaya tidak sepenuhnya hilang ditelan waktu.

#jalurmati #ciparay #bandung #fotografi #jalirlensa #dayeuhkolot



Saepul Permana Hidayat

Merekam senyap dari balik lensa. Menyusun cerita dari langkah kaki dan cahaya. Di antara pasar tua, bangunan kosong, dan jalan tak bernama, aku menulis tentang yang terlupakan agar tidak benar-benar hilang

Posting Komentar

Lebih baru Lebih lama