Jembatan Dayeuhkolot: Dari Potongan Beton ke Simbol Harapan

 Melihat kembali jembatan Dayeuhkolot, yang saat ini memiliki wajah baru, banyak yang kami lihat ketika proses perbaikan jembatan Dayeuhkolot.

situasi di jembatan Dayeuhkolot yang baru selesai di renovasi ( Foto : Saepul Permana )

Ada sesuatu yang istimewa ketika kita menyaksikan sebuah ruang berubah wajah di depan mata kita. Seperti saat saya kembali menginjakkan kaki di Dayeuhkolot, menatap jembatan yang dulu terasa bergelombang, kini berdiri dengan wajah baru. Seakan-akan, Dayeuhkolot sedang merajut babak baru dalam sejarahnya. Jika dulu setiap kali saya menyebrangi jembatan itu ada rasa waswas—getaran halus, permukaan yang tidak rata, dan semacam goyangan samar yang membuat pengendara melambatkan laju—kini semua itu hilang. Aspal yang baru terasa halus, beton yang tertata kokoh, dan udara yang dipenuhi aroma cat baja bercampur aspal hangat memberi tanda: jembatan ini sudah kembali berfungsi.

Namun, yang paling membekas bagi saya bukan hanya hasil akhirnya, melainkan kesempatan menyaksikan prosesnya. Beberapa waktu lalu, saya sengaja datang ketika proyek perbaikan Jembatan Dayeuhkolot hampir rampung. Di sana, di tengah debu yang beterbangan, dentuman logam, dan suara mesin yang terus bergemuruh, saya berdiri membawa kamera, mencoba menangkap detik-detik yang tak akan pernah berulang. Memotret pembangunan bukan sekadar mendokumentasikan benda mati, tapi juga merekam denyut waktu—bagaimana manusia, teknologi, dan kerja keras berpadu menciptakan sesuatu yang baru.

Puzzle Raksasa di Atas Sungai

Dulu, jembatan biasanya dibangun dengan metode konvensional: menuang cor langsung di tempat, menunggu kering, lalu mengulang proses yang sama hingga terbentuk bentangan jalan. Tapi kali ini saya melihat sesuatu yang berbeda. Jembatan Dayeuhkolot dibangun dengan metode precast concrete slab—beton pracetak yang diproduksi lebih dulu, lalu diangkut ke lokasi, diangkat dengan alat berat, dan dipasang layaknya potongan puzzle raksasa. Dari balik lensa, saya menyaksikan slab demi slab diangkat dengan hati-hati, diposisikan tepat, lalu disatukan menjadi permukaan jalan yang utuh.

Pemandangan itu bagi sebagian orang mungkin hanya sekadar rutinitas kerja. Namun bagi saya, ada sesuatu yang menakjubkan. Setiap potongan beton yang dipasang bukan hanya struktur fisik, melainkan simbol dari efisiensi, inovasi, dan juga harapan. Jembatan ini bukan sekadar jalur lintasan; ia adalah urat nadi yang menghubungkan kehidupan. Setiap hari, ratusan orang berangkat kerja, anak-anak sekolah menyeberang, pedagang kecil mendorong gerobak, kendaraan bermotor melintas tanpa henti—semua menggantungkan ritme hidupnya pada kekuatan jembatan ini.

Wajah-Wajah yang Membentuk Jembatan

Saya sempat berhenti memotret ketika melihat para pekerja. Ada wajah penuh peluh, ada tangan-tangan yang kasar dan berdebu, ada koordinasi yang mengalir tanpa banyak kata. Mereka tidak sadar sedang diabadikan, tapi saya tahu, di balik wajah-wajah itu tersimpan cerita tentang kerja keras dan dedikasi. Inilah bahasa yang tidak tertulis: bahasa kerja. Suatu bahasa yang hanya bisa dipahami lewat kebersamaan, lewat rasa saling percaya bahwa setiap baut yang dikencangkan, setiap besi yang dilas, setiap cat yang dioleskan, akan menjadi bagian dari sesuatu yang lebih besar.

Saya melihat seorang pekerja dengan sabar mengelas rangka, cahaya api las berkilat seperti bintang kecil di siang hari. Di sisi lain, beberapa orang sedang mengecat baja, memastikan setiap sudut terlindung dari karat. Ada pula yang menambal, meratakan, memoles bagian-bagian yang masih kasar. Detail-detail itu mungkin sepele, tapi justru di situlah jembatan memperoleh napasnya. Infrastruktur, saya sadari, tidak pernah lahir hanya dari rancangan di atas kertas, melainkan dari tangan manusia yang rela mengorbankan waktu dan tenaga.

Baca juga: 

Hidup Seperti Konstruksi

Dari balik kamera, saya merenung. Hidup, dalam banyak hal, tak ubahnya konstruksi sebuah jembatan. Ada perencanaan, ada fondasi, ada potongan-potongan yang harus dirakit, ada bagian yang salah pasang lalu diperbaiki. Kadang kita harus mengganti metode lama dengan cara baru, seperti penggunaan precast concrete slab yang lebih efisien. Kadang kita harus sabar menunggu, memberi waktu agar sesuatu mengeras dan kuat menahan beban. Dan seperti jembatan, hidup kita pun menjadi penghubung—menuju masa depan, menuju orang-orang yang kita sayangi, atau menuju diri kita yang lebih baik.

Setiap orang, pada akhirnya, sedang membangun jembatan masing-masing. Ada yang membangunnya dengan sabar, ada pula yang terburu-buru. Ada yang kokoh, ada pula yang rapuh. Dan mungkin, sama seperti Jembatan Dayeuhkolot, kita pun akan mengalami masa bergelombang sebelum akhirnya diratakan, dipoles, dan diperkuat kembali.

Aroma Baru, Suara Lama

Kini jembatan sudah bisa beroperasi kembali. Saat pertama kali saya melintasinya, ada rasa senang, bangga, bahkan nyaman. Permukaan aspal yang mulus memberi sensasi berbeda. Namun, hidung saya masih bisa menangkap aroma cat baja yang baru kering, bercampur dengan aspal panas—aroma yang mungkin tak disadari pengendara lain, tapi bagi saya yang cukup sensitif, baunya jelas melekat. Seolah jembatan ini masih baru saja lahir.

Namun, di sisi lain, saya juga mendengar “rintihan” samar. Bukan dari hantu atau makhluk gaib, melainkan dari jembatan lama di sampingnya. Girdernya retak, masih menahan beban, meski jelas menunjukkan tanda-tanda kelelahan. Jembatan lama itu seakan menunggu waktu yang tepat untuk roboh, atau setidaknya digantikan sepenuhnya. Ia masih berfungsi, tapi kehadirannya seperti bayang-bayang masa lalu—mengingatkan bahwa segala sesuatu memiliki batas usia, memiliki titik rapuh, memiliki saat untuk diganti.

Saya tidak akan menuliskan sejarah jembatan lama itu di sini, karena sudah pernah saya tuliskan di catatan sebelumnya. Namun, berdiri di antara dua jembatan—yang lama dan yang baru—saya merasa sedang melihat metafora kehidupan itu sendiri: ada yang usang dan melemah, ada yang lahir dan kuat, dan keduanya tetap berperan dalam menghubungkan kehidupan.

Menjadi Penonton dan Pencatat

Setelah selesai memotret, saya menemukan sebuah warung kecil di dekat jembatan. Saya duduk, menyalakan rokok, menatap arus kendaraan yang melintas. Ada yang melaju cepat, ada yang santai, ada yang terburu-buru. Semua pola itu berpadu menjadi satu lanskap kehidupan, dengan jembatan sebagai wadahnya. Sesaat, saya ingin kembali mengangkat kamera, tapi sadar tidak ada objek yang menarik. Hanya motor, mobil, dan manusia yang melintas. Akhirnya saya hanya mengambil satu dua foto saja, lalu menyimpan kamera.

Namun, saya tidak menyesal. Karena bagi saya, yang terpenting bukan seberapa banyak foto yang saya dapatkan, melainkan bagaimana saya bisa menulis, merekam, dan meresapi momen itu. Kadang, kita memang harus belajar bahwa tidak semua momen bisa kita tangkap lewat lensa, tetapi tetap bisa kita abadikan lewat kata-kata dan ingatan.

Sebuah Catatan Penutup

Jembatan Dayeuhkolot kini berdiri dengan wajah baru. Bagi orang lain, mungkin ia hanya sekadar jalan lintasan yang nyaman. Namun bagi saya, ia adalah catatan perjalanan—tentang perubahan, tentang kerja keras, tentang refleksi hidup. Saya menyaksikan sendiri bagaimana potongan demi potongan beton pracetak diangkat, disusun, lalu disatukan hingga menjadi satu kesatuan. Saya mencium aroma cat baja dan aspal baru, mendengar suara mesin, hingga merasakan rintihan jembatan lama yang masih setia berdiri di sampingnya.

Dan saya belajar satu hal: jembatan bukan hanya benda mati. Ia adalah simbol perjalanan manusia. Ia merekam harapan, menghubungkan kehidupan, dan menjadi saksi bisu dari ribuan langkah yang melintas setiap hari. Sama seperti hidup kita sendiri—terkadang bergelombang, terkadang rapuh, tetapi selalu punya kesempatan untuk diperbaiki, dipoles, dan dibangun kembali.

#Dayeuhkolot #streeturban #streetfotografi #urbanfotografi #bandung #dayeuhkolot

Saepul Permana Hidayat

Merekam senyap dari balik lensa. Menyusun cerita dari langkah kaki dan cahaya. Di antara pasar tua, bangunan kosong, dan jalan tak bernama, aku menulis tentang yang terlupakan agar tidak benar-benar hilang

Posting Komentar

Lebih baru Lebih lama