Dari Penonton ke Creator: Sebuah Renungan Perjalanan

 Catatan dari rasa bosan, berawal dari seorang konsumtif beralih menjadi creator, ini adalah catatan dari sebuah perubahan.

Seseorang sedang memainkan biola menggunakan topeng hitam, dan kostum assassin creed 2 (album musik saya METALLIA by Saepul Permana )

Ada satu titik dalam hidup ketika seseorang menyadari bahwa ia sudah terlalu lama duduk di kursi penonton. Ia sudah terlalu sering hanya mengamati, menikmati karya orang lain, memberi komentar, atau sekadar mengagumi dari kejauhan. Itu adalah posisi yang nyaman, posisi yang aman. Tidak ada risiko besar: tidak ada rasa malu, tidak ada kegagalan yang ditanggung, tidak ada pertaruhan harga diri. Namun, kenyamanan itu lambat laun berubah menjadi kebosanan, bahkan penjara tak terlihat. Dan di sanalah aku berada—bosan menjadi penonton, hingga akhirnya memilih melangkah ke panggung sebagai seorang creator, meskipun aku masih dalam tahap belajar.

Kenyamanan yang Mengikat

Selama bertahun-tahun, aku terbiasa menjadi konsumen. Aku menonton film, mendengar musik, membaca tulisan, menatap karya fotografi, dan menyaksikan banyak hal yang indah dihasilkan oleh orang lain. Di satu sisi, itu menyenangkan. Aku bisa merasakan dunia tanpa harus bersusah payah membangunnya. Aku bisa ikut hanyut dalam narasi, tanpa harus repot menulis satu kalimat pun.

Tapi perlahan, ada sesuatu yang mengganjal. Rasanya seperti berdiri di tepi panggung sebuah konser: lampu-lampu sorot menari, musik menggelegar, penyanyi dan musisi menumpahkan energi mereka, sementara aku hanya berdiri, menepuk tangan, sesekali ikut bernyanyi. Ada kehangatan, ada kepuasan sesaat, tetapi ada juga pertanyaan samar yang muncul: “Apakah aku hanya akan selalu di sini, sebagai penonton?”

Pertanyaan itu terus mengusik. Hingga suatu ketika, aku menyadari bahwa kenyamanan bisa berubah menjadi jebakan. Menjadi penonton terlalu lama membuatku kehilangan keberanian untuk mencoba. Aku mulai merasa asing terhadap kemungkinan gagal, seolah kegagalan adalah sesuatu yang memalukan. Padahal, di balik setiap karya yang aku kagumi, pasti ada ratusan atau ribuan kegagalan yang tak terlihat.

Baca juga :

Langkah Pertama yang Gemetar

Keputusan untuk menjadi creator tidak datang tiba-tiba. Ia muncul perlahan, seperti tetesan hujan yang pada akhirnya menimbulkan genangan. Aku mulai dari hal kecil—menulis catatan pendek, memotret pemandangan sederhana, mencoba bereksperimen dengan hal-hal yang belum pernah kulakukan.

Langkah pertama itu selalu terasa gemetar. Ada rasa ragu: “Apakah ini pantas dibagikan? Apakah orang lain akan menertawakan? Apakah hasilnya cukup bagus?” Pertanyaan-pertanyaan itu seperti kabut yang menutupi jalan.

Namun, aku memilih untuk menutup telinga pada bisikan keraguan. Aku sadar, jika terus menunggu “sempurna”, aku tidak akan pernah memulai. Menjadi creator bukan tentang menunjukkan hasil yang luar biasa sejak awal, melainkan berani melangkah meski belum mahir.

Aku teringat satu pepatah: “Karya pertamamu tidak akan pernah menjadi karya terbaikmu. Tapi tanpa karya pertama, tidak akan pernah ada karya terbaik.”

Itu menjadi pengingat bahwa perjalanan ini bukan tentang kesempurnaan, melainkan tentang keberanian untuk hadir, untuk mencoba, dan untuk membiarkan diri belajar.

Rasa Malu yang Menyertai

Tak bisa kupungkiri, menjadi creator berarti membuka diri pada dunia. Jika selama ini aku bisa bersembunyi di balik layar, sekarang aku harus menaruh sebagian dari diriku di hadapan orang lain. Itu menimbulkan rasa malu, bahkan takut.

Setiap tulisan yang kuunggah, setiap foto yang kubagikan, terasa seperti mengupas lapisan diriku sendiri. Aku tidak hanya menampilkan karya, tapi juga menampilkan isi hati, cara pandang, bahkan ketidaksempurnaanku.

Kadang aku berpikir, mungkin inilah alasan banyak orang memilih tetap menjadi penonton: karena aman. Karena tidak ada yang bisa menghakimi. Karena mereka tidak perlu menunjukkan celah dan kelemahan mereka.

Tapi aku belajar menerima rasa malu itu. Aku mencoba melihatnya bukan sebagai beban, melainkan tanda bahwa aku sedang bertumbuh. Malu adalah bagian dari proses. Ia mengingatkanku bahwa aku sedang keluar dari zona nyaman.

Menghargai Keringat Para Creator

Satu hal yang berubah drastis sejak aku mulai mencoba menjadi creator adalah caraku memandang karya orang lain. Jika dulu aku hanya menonton dan menikmatinya begitu saja, kini aku lebih sering berhenti sejenak dan berpikir: “Berapa lama ia berlatih? Berapa kali ia gagal sebelum ini berhasil? Berapa banyak waktu, energi, dan perasaan yang ia curahkan?” 

Kesadaran itu membuatku lebih rendah hati. Aku menyadari betapa mudahnya menjadi penonton yang menghakimi, tetapi betapa sulitnya berada di balik layar penciptaan. Kritik memang penting, tapi kritik tanpa empati hanyalah ejekan.

Kini, setiap kali aku melihat karya seseorang, aku tak hanya melihat hasil akhirnya. Aku juga membayangkan perjalanan panjang di baliknya. Dan dari sana, aku belajar untuk lebih menghargai, lebih sabar, dan lebih berani memberi apresiasi.

Proses, Bukan Hasil


Sebagai creator pemula, aku sering tergoda untuk membandingkan diriku dengan mereka yang sudah jauh lebih berpengalaman. Aku melihat karya mereka yang indah, jumlah pengikut mereka yang banyak, atau pengakuan yang mereka terima, lalu merasa kecil.

Namun, aku mencoba melawan godaan itu dengan satu prinsip: fokus pada proses, bukan hasil. Menjadi creator bukanlah soal siapa yang tercepat atau siapa yang paling populer, melainkan siapa yang mau terus berjalan, siapa yang mau terus belajar, dan siapa yang tidak menyerah ketika karya pertama, kedua, atau keseratusnya tidak mendapat perhatian.

Aku mulai menikmati momen kecil: ketika aku menemukan sudut baru untuk difoto, ketika aku menulis kalimat yang terasa jujur, ketika aku berhasil mengedit sesuatu lebih baik dari sebelumnya. Kemenangan kecil itu, meski sepele, adalah bahan bakar untuk terus melangkah.

Identitas Baru


Yang paling mengejutkan adalah bagaimana keputusan menjadi creator mengubah identitasku. Aku tidak lagi sekadar “orang yang suka menonton” atau “orang yang suka membaca”. Aku mulai menyebut diriku “penulis”, “fotografer”, atau “pembelajar kreatif”.

Mungkin terdengar sederhana, tapi perubahan identitas itu berdampak besar pada cara aku menjalani hari. Ketika aku melihat diriku sebagai seorang creator, aku merasa bertanggung jawab untuk terus berkarya. Aku tidak lagi puas hanya menjadi penonton. Ada dorongan untuk menghadirkan sesuatu, sekecil apa pun itu.

Dan identitas ini bukan hanya label. Ia adalah komitmen—komitmen untuk hadir, untuk mencoba, untuk gagal, untuk bangkit, dan untuk terus belajar.

Belajar untuk Memberi, Bukan Hanya Menerima


Ketika aku menjadi penonton, aku berada dalam posisi menerima. Aku menikmati karya orang lain, mengambil inspirasi, atau sekadar mencari hiburan. Tetapi ketika aku menjadi creator, aku belajar untuk memberi.

Memberi apa? Memberi sudut pandang baru, memberi perasaan yang mungkin bisa dirasakan orang lain, memberi ruang refleksi, memberi hiburan, atau bahkan sekadar memberi bukti bahwa ada orang lain yang juga berjuang, yang juga belajar, yang juga manusia.

Tindakan memberi ini membuatku merasa lebih hidup. Aku tidak hanya menyerap dunia, tetapi juga ikut menambahkan sesuatu ke dalamnya. Meski kecil, meski sederhana, setidaknya aku tahu bahwa aku telah meninggalkan jejak.

Perjalanan yang Tidak Pernah Selesai


Kini, ketika aku melihat ke belakang, aku menyadari bahwa keputusan untuk menjadi creator bukanlah akhir, melainkan awal. Ini adalah perjalanan panjang yang tidak pernah selesai. Ada begitu banyak yang harus kupelajari, ada begitu banyak kesalahan yang akan kuhadapi, ada begitu banyak karya yang belum lahir.

Tapi anehnya, aku tidak lagi merasa tertekan. Justru aku merasa lega. Aku tahu bahwa aku tidak harus menjadi sempurna hari ini. Yang penting adalah aku terus berjalan, terus mencoba, terus bereksperimen.

Aku tidak lagi ingin kembali ke kursi penonton. Sesekali aku masih menikmatinya, tentu saja. Tapi kini aku ingin berada di panggung, meski panggungku kecil, meski penontonnya sedikit. Karena pada akhirnya, menjadi creator bukanlah soal siapa yang menonton, tetapi soal keberanian untuk menyatakan diri: “Aku ada, aku mencipta.”

Penutup: Sebuah Undangan untuk Diri Sendiri


Esai ini bukan hanya refleksi, tapi juga undangan—undangan untuk diriku sendiri agar tidak kembali terjebak dalam kenyamanan menjadi penonton. Undangan untuk terus belajar, meski hasilnya belum memuaskan. Undangan untuk terus mencipta, meski dunia belum memperhatikan.

Karena pada akhirnya, hidup ini terlalu singkat untuk hanya menonton. Ada sesuatu yang lebih berharga: meninggalkan jejak, sekecil apa pun, yang bisa menjadi saksi bahwa aku pernah ada, pernah mencoba, dan pernah berani.

Saepul Permana Hidayat

Merekam senyap dari balik lensa. Menyusun cerita dari langkah kaki dan cahaya. Di antara pasar tua, bangunan kosong, dan jalan tak bernama, aku menulis tentang yang terlupakan agar tidak benar-benar hilang

Posting Komentar

Lebih baru Lebih lama