Dalam sebuah catatan antara catatan perjalanan menelusuri jejak gunung api purba Baleendah, lebih tepatnya di gunung geulis Manggahang.
Ada sesuatu yang selalu mengikat manusia dengan tanah tempat ia berpijak. Entah itu berupa gunung yang menjulang, sungai yang mengalir, atau sekadar sebuah cadas yang diam membisu di lembah sunyi. Di balik setiap lapisan batu, tersimpan bukan hanya kisah geologi, tetapi juga sejarah manusia, mitos, bahkan trauma kecil masa kanak-kanak. Perjalanan saya menelusuri Cadas Ati, di kaki Gunung Geulis, Baleendah, menjadi pertemuan antara catatan seorang ahli geologi, legenda rakyat, dan pengalaman pribadi yang tak pernah lekang dari ingatan.
Jejak Geologi yang Terkubur dalam Waktu
Saya memulai penelusuran ini dari sebuah catatan penting milik Sutikno Bronto, seorang ahli geologi yang meneliti kawasan Bandung selatan. Dari tulisannya, tergambar jelas bahwa wilayah ini bukanlah hamparan perbukitan biasa. Ada riwayat gunung api purba yang meninggalkan tubuhnya dalam bentuk lava, breksi piroklastik, hingga kerucut-kerucut gunung yang kini hanya tersisa sebagai bukit-bukit.
Menurut catatan itu, ada tiga fase gunung api di kompleks Baleendah:
- Fase pertama – kerucut tua di timur, puncaknya kini disebut Gunung Bukitcula (berumur 3,20 juta tahun)
- Fase kedua – kerucut di barat, dengan puncak Gunung Geulis dan Gunung Pipisan (2,80 juta tahun).
- Fase ketiga – kerucut di selatan–tenggara, berbentuk bulan sabit, dengan sisa puncaknya Gunung Tikukur (1020 mdpl).
Lava andesit abu-abu, breksi piroklastik, bom kerak roti, hingga mineral plagioklas, piroksen, dan horenblenda tersimpan di sana, seakan menjadi dokumen alam tentang masa silam yang penuh letupan dan ledakan. Sulit membayangkan bahwa perbukitan hijau tenang yang saya lihat hari ini pernah berupa kerucut vulkanik yang menyemburkan api dan awan panas.
Namun begitulah sifat waktu: yang dulu bergemuruh kini membisu, meninggalkan jejak yang hanya bisa dibaca lewat batu. Dan saya, yang berdiri di depan cadas-cadas itu, hanya bisa merinding membayangkan bagaimana letusan purba membentuk wajah Baleendah.
Baca juga :
Perjalanan Menuju Cadas Ati
Hamparan perkebunan menuju kawasan cadas ati gunung geulis Manggahang ( Foto : Saepul Permana )
Saya memulai langkah dari UPTD BLK Baleendah, kemudian memasuki jalan setapak yang diapit pohon bambu. Suasana teduh dari rumpun bambu itu seperti pintu masuk menuju dunia lain, meski hari itu cuaca sangat terik. Ada hal yang berbeda dibanding masa kecil saya: motor-motor kini berjejer di bawah pohon bambu, sesuatu yang dulu tidak pernah saya lihat.
Kesan asing itu semakin terasa ketika saya menemukan plang pemerintah kabupaten berdiri di tengah perkebunan. Saya teringat masa kecil, ketika area itu hanyalah lapangan luas penuh rerumputan. Kini, lapangan itu sudah berubah fungsi menjadi kebun pohon albasiah.
Saya terus melangkah melewati kebun jati yang sudah ada sejak lama. Di sana ingatan saya kembali pada bak penampungan air yang dulu menjadi tempat bermain. Dahulu, airnya masih ada, dingin, dan sering kami gunakan untuk berlarian sambil bercanda. Kini bak itu sudah runtuh, besi-besinya entah dijual, dan yang tersisa hanyalah lantai beton lapuk. Rasanya seperti melihat masa kecil saya turut hilang bersama hancurnya bak itu.
Hingga akhirnya, di hadapan saya berdiri Cadas Ati. Sebuah tebing batuan vertikal yang menjulang, berwarna abu-abu pucat, dengan permukaan keras hasil bekuan lava purba. Begitu melihatnya, rasa merinding yang dulu sering saya alami kembali muncul. Tidak ada alasan logis mengapa tubuh saya bereaksi demikian—mungkin karena aura cadas itu yang begitu tua, atau mungkin karena cerita-cerita yang melekat di baliknya.
Sejarah dan Jejak Persembunyian
Ayah saya dulu pernah bercerita bahwa Cadas Ati pernah menjadi tempat persembunyian warga pada masa penjajahan Jepang, bahkan masa pergolakan DI/TII. Ada sebuah lubang atau gua di sekitar cadas itu yang digunakan sebagai tempat perlindungan. Letaknya yang tersembunyi di lembah menjadikannya lokasi strategis untuk bersembunyi dari serdadu atau tentara yang mengejar.
Sayangnya, akses menuju lubang itu kini nyaris tak bisa ditembus. Ilalang tumbuh setinggi badan, pohon kalianda menjulang, dan ancaman ular membuat siapa pun enggan mendekat. Saat saya berusaha mencari jalannya, seorang ibu tua yang sedang bekerja di ladang menghampiri saya. Dengan nada lembut namun tegas, ia mengingatkan:
“Nak, jangan coba-coba mendekati lubang itu. Masih ada siluman ular besar yang menjaganya.”
Kalimat itu membuat saya terdiam. Rasanya seperti kembali ke dunia mitos, di mana setiap batu dan gua memiliki penjaga gaib. Bagi sebagian orang, itu hanya dongeng. Tapi di hadapan cadas yang bisu dan lembah sunyi yang penuh misteri, saya bisa mengerti mengapa mitos semacam itu bertahan. Ia lahir dari rasa hormat manusia pada alam yang tak sepenuhnya bisa mereka kuasai.
Trauma Kecil di Masa Kanak-Kanak
Namun bukan hanya cerita mistis yang melekat di ingatan saya tentang Cadas Ati. Ada juga sebuah pengalaman nyata yang hingga kini masih meninggalkan jejak rasa takut.
Waktu itu saya masih duduk di kelas 5 SD. Bersama empat teman, kami bermain di sekitar bak air yang sudah kering. Hari itu mendung, angin kencang, suasana di lembah terasa sangat gelap. Tiba-tiba, sebuah pohon bambu tumbang tak jauh dari tempat kami berdiri. Suaranya menggelegar, membuat kami panik dan berlari sekencang-kencangnya meninggalkan lokasi.
Tak lama setelah kami sampai rumah, hujan badai turun dengan deras. Sejak hari itu, Cadas Ati bagi saya bukan hanya tempat misterius, tetapi juga ruang yang menyimpan trauma kecil—betapa alam bisa menunjukkan kekuatannya secara tiba-tiba. Rasa merinding yang saya rasakan setiap kali melihat cadas itu mungkin bukan semata soal mitos, tetapi juga gema dari ketakutan lama yang belum sepenuhnya hilang.
Antara Pengetahuan Lokal dan Catatan Ilmiah
Di setiap perjalanan, saya belajar bahwa sebuah batu tidak pernah hanya batu. Ia bisa dilihat dengan banyak cara: sebagai jejak ilmiah, sebagai mitos, atau sekadar benda yang diam. Dan Cadas Ati—juga batuan piroklastik di Cikoang, dekat pundak Gunung Geulis—mengajarkan hal itu kepada saya.
Suatu kali, saya pernah berdebat kecil dengan warga Manggahang. Ketika saya menyebut bahwa batuan di sana merupakan piroklastik, bagian dari letusan gunung api purba Baleendah, sebagian warga menanggapinya dengan senyum tipis. Ada yang bilang, “Ah, itu mah batu biasa, memang dari dulu ada di situ.” Dalam kacamata mereka, batu itu hanyalah bagian dari ladang, tempat singgah burung, atau penanda batas kebun.
Namun dalam catatan Sutikno Bronto, batuan itu tidak bisa diremehkan. Ia adalah bagian dari tubuh gunung api purba berusia jutaan tahun. Batuan piroklastik itu adalah saksi letusan, runtuhan, dan perubahan besar yang membentuk wajah selatan Bandung. Bahkan nama-nama bukit seperti Geulis, Pipisan, Bukitcula, hingga Tikukur adalah jejak sisa kerucut vulkanik.
Di situlah saya melihat adanya dua bahasa berbeda:
- Bahasa warga, yang sederhana, dekat dengan keseharian, menafsirkan batu sebagai sesuatu yang “biasa saja.”
- Bahasa ilmiah, yang sistematis, dengan umur jutaan tahun, mineral, dan stratigrafi, menyebut batu itu sebagai bukti letusan purba.
Keduanya mungkin bertentangan di permukaan, tetapi sejatinya saling melengkapi. Tanpa warga, mungkin cadas itu hanya tinggal data kering di laporan geologi. Tanpa geologi, mungkin cadas itu hanya dianggap benda mati tanpa kisah.
Dan saya, yang berdiri di antara mereka, merasa perlu menjembatani: bahwa batu-batu di Manggahang dan Cikoang bukan sekadar batu. Ia adalah pertemuan antara cerita rakyat, sejarah lokal, dan ilmu bumi. Dengan cara itu, cadas-cadas itu bisa tetap hidup dalam ingatan, bukan hanya sebagai objek penelitian, tetapi juga sebagai bagian dari identitas tempat.
Antara Fakta dan Mitos
Cadas Ati menjadi ruang pertemuan antara tiga hal: fakta geologi, sejarah manusia, dan mitos masyarakat.
Fakta geologi berbicara tentang letusan jutaan tahun lalu, lava andesit yang membeku, hingga struktur batuan piroklastik yang masih terlihat jelas. Fakta sejarah menyebutkan adanya gua yang menjadi tempat persembunyian saat masa kelam bangsa ini. Sementara mitos bercerita tentang siluman ular besar yang menjaga gua itu.
Ketiganya mungkin tak bisa dipertemukan dalam satu logika yang sama, tetapi justru di situlah keindahannya. Bukankah tanah tempat kita berpijak memang menyimpan lebih banyak misteri daripada jawaban? Bukankah sebuah batu yang diam bisa berbicara dengan cara yang berbeda kepada setiap orang yang menatapnya?
Nyai Ati: Nama yang Melekat
Sebelum pulang, saya kembali bertemu dengan ibu tua tadi. Ia bercerita tentang asal-usul nama Cadas Ati. Konon, di bagian selatan cadas terdapat sebuah makam seorang sepuh bernama Nyai Ati. Dari nama itulah cadas ini disebut “Cadas Ati.”
Mendengar kisah itu, saya terdiam. Nama seseorang, terutama seorang sepuh, bisa begitu abadi ketika melekat pada lanskap alam. Seakan-akan tubuh Nyai Ati tak hanya dikubur di tanah, tetapi juga diabadikan dalam cadas yang menjulang itu. Bagi saya, kisah ini menambahkan lapisan keempat dari makna Cadas Ati: bukan hanya geologi, sejarah, dan mitos, tetapi juga memori manusia yang diwariskan melalui nama.
Pulang dengan Pikiran yang Penuh
Saat meninggalkan Cadas Ati melalui jalur timur, saya membawa pulang lebih dari sekadar gambar batuan dalam ingatan. Saya membawa sebuah renungan: bahwa tanah tempat saya lahir dan tumbuh ini tidak hanya menyimpan keindahan, tetapi juga kisah panjang tentang api purba, tentang manusia yang bersembunyi dari penindasan, tentang mitos yang menjaga keseimbangan, dan tentang kenangan pribadi yang tak pernah hilang.
Mungkin saya tidak berhasil menemukan gua persembunyian yang legendaris itu. Mungkin saya juga tidak bisa membuktikan ada atau tidaknya siluman ular besar yang menjaga cadas. Tapi bagi saya, Cadas Ati sudah cukup berbicara—bukan dengan kata-kata, melainkan dengan keheningan dan aura yang membuat saya merinding sejak kecil.
Dan bukankah itu yang membuat sebuah tempat benar-benar hidup? Ketika ia mampu menumbuhkan rasa hormat, rasa ingin tahu, dan rasa kecil pada diri kita. Cadas Ati bukan sekadar batuan, ia adalah arsip besar yang menyimpan jejak geologi, sejarah, mitos, dan ingatan manusia.
Saya tahu, perjalanan ini belum selesai. Jejak lava Baleendah masih bisa ditelusuri lebih jauh, dari aliran yang mengarah ke utara hingga ke cekungan Bandung. Itu adalah kisah panjang lain yang menunggu untuk ditulis. Tapi untuk kali ini, saya biarkan Cadas Ati menjadi akhir perjalanan—sebuah akhir yang sebenarnya hanyalah permulaan dari rasa ingin tahu yang lebih besar.
Kata Penutup
Dalam setiap perjalanan, ada titik di mana fakta ilmiah bertemu dengan imajinasi, dan di sanalah refleksi lahir. Cadas Ati bukan hanya lokasi geologi; ia adalah ruang spiritual, ruang sejarah, ruang mitos, dan ruang kenangan. Setiap lapisannya, baik batu maupun cerita, mengajarkan bahwa kehidupan tidak pernah tunggal.
Dan saya, sebagai pejalan yang menapaki tanah itu, hanya bisa berterima kasih pada alam yang diam namun penuh suara, pada para tetua yang menjaga cerita, dan pada diri saya sendiri yang masih mau merinding setiap kali berdiri di depan sebuah cadas yang abadi.
#cadasati #fakta #mitos #sejarah #gunungapi #gununggeulis #bandung #baleendah #alam&gunung #jalurlensa
Kategori
Alam & Gunung

