Metal dan Biola, Cinta dari Ruang Sunyi
“Nada ini terinspirasi dari AI GEN SONG, lalu lahir kembali dari jemariku di layar FL Studio Mobile, dan tumbuh menjadi melodi di studio kecil di Baleendah — bukan hanya untuk didengar, tapi untuk dirasakan.”
Ruang Sunyi di Balik Nada
Aku selalu percaya bahwa kesunyian adalah ruang paling jujur bagi seorang pencipta. Di sana, tidak ada tepuk tangan, tidak ada kerumunan, hanya getaran batin yang mencari bentuknya sendiri. Begitulah awal mula musik metal dan biola yang kini perlahan tumbuh menjadi bagian dari kehidupanku — lahir dari ruang kecil, dari tangan yang menggenggam ponsel, dari telinga yang lelah tapi masih ingin mendengar sesuatu yang berarti.
Aku tidak memiliki peralatan canggih, tidak juga studio mewah. Hanya FL Studio Mobile, sepasang earphone, dan keinginan untuk menumpahkan perasaan ke dalam nada. Sesekali aku harus menempuh perjalanan ke studio musik di Baleendah, sekadar untuk menyempurnakan aransemen atau menyesuaikan nada yang tidak seimbang. Tapi di setiap langkah menuju sana, selalu ada rasa hangat yang menyertai — bukan hanya karena musikku mulai menemukan bentuknya, tapi karena ada seseorang yang diam-diam selalu menunggu hasilnya.
Namanya Riska.
Riska bukan sekadar pendengar. Ia adalah jiwa yang menyelipkan kehangatan dalam setiap frekuensi nada yang kubuat. Ia tidak menuntut kesempurnaan, tidak juga memintaku menjadi musisi besar. Ia hanya ingin mendengar — dan dengan itu saja, aku merasa cukup hidup.
Antara Kasta dan Getaran Jiwa
Aku dan Riska berasal dari dua dunia yang berbeda. Ia perempuan tinggi, berwibawa, dengan kehidupan yang lebih tertata. Aku hanya seseorang yang mencoba bertahan di antara waktu dan idealisme, hidup sederhana, kadang tampak seperti kasta rendah di mata dunia. Namun entah kenapa, Riska tak pernah memandangku dari bawah ke atas. Ia melihatku sejajar, seolah jarak sosial, ekonomi, atau bahkan geografi tidak berarti apa-apa.
“Lagumu dan tulisanmu adalah bagian diriku,” katanya suatu malam, ketika aku mengirimkan versi mentah lagu metal dan biola yang baru selesai di-mix. Kalimat itu menembus sesuatu di dalam diriku yang tak bisa dijelaskan. Seolah nada-nada itu bukan lagi sekadar musik; ia menjelma menjadi bentuk kasih, menjadi jembatan antara dua hati yang tak sempat bertemu setiap hari.
Aku sadar, kami hidup di dunia yang berbeda — tetapi musik, dan tulisan, selalu menjadi jembatan yang meniadakan perbedaan itu. Di setiap nada biola yang lirih, ada sosoknya yang lembut namun tegas. Di setiap dentuman gitar metal yang menggelegar, ada amarahku yang perlahan luluh oleh kehadirannya.
Riska tidak hanya menunggu karyaku; ia menunggu aku yang sedang berproses di dalamnya. Dan di situ aku menemukan makna cinta yang baru — bukan cinta yang lahir dari tatap mata, melainkan dari getaran jiwa yang disalurkan lewat seni.
Proses yang Tak Sempurna, Tapi Jujur
Aku sering mendengar kritik: “Musikmu belum sempurna.” Dan mungkin memang begitu. Tapi aku tidak pernah berniat menciptakan kesempurnaan. Aku hanya ingin menciptakan kejujuran.
Setiap aransemen yang kutulis, setiap nada biola yang kupadukan dengan distorsi gitar metal, bukanlah hasil dari laboratorium produksi besar. Itu adalah hasil dari perasaan yang berantakan, cinta yang jauh, dan rindu yang tak tersampaikan secara langsung.
Kadang aku menatap layar ponsel hingga larut, mencari harmoni yang bisa menyatukan amarah dan kelembutan dalam satu frekuensi. Biola yang lirih seperti bisikan Riska di antara malam, dan gitar yang meraung seperti dadaku ketika rindu terlalu penuh untuk ditampung.
Namun di setiap kebingungan, selalu ada Riska dengan caranya sendiri — lewat pesan pendek, atau kata-kata sederhana seperti:
“Aku mendengarkan lagumu sambil menutup mata. Rasanya seperti kamu ada di sini.”
Dan di situlah semua keraguan luruh. Aku kembali membuka proyek lagu di FL Studio, mengulang, memperbaiki, menyesuaikan. Bukan untuk kesempurnaan teknis — tapi agar aku bisa lebih dekat lagi dengannya, lewat nada.
Ketika Musik Menjadi Doa
Bagi sebagian orang, doa adalah lantunan kata. Bagiku, doa adalah dentuman nada. Setiap melodi yang kucipta adalah bentuk doa — untuk ketenangan, untuk cinta, dan untuk Riska yang selalu setia menunggu dari kejauhan.
Ada sesuatu yang sakral dalam proses penciptaan itu. Ketika biola memainkan nada-nada lirih, aku merasa seperti sedang berbicara dengan sesuatu yang lebih besar dari diriku. Dan ketika distorsi metal masuk, semuanya berubah menjadi luapan kejujuran: tentang luka, tentang masa lalu, tentang semua hal yang pernah membuatku ingin menyerah.
Tapi setiap kali aku hampir berhenti, aku selalu ingat — ada seseorang yang menunggu karya ini. Dan karena itu, aku terus menulis. Aku terus mencipta. Aku terus percaya bahwa musik adalah perpanjangan dari cinta yang tak bisa diucapkan dengan kata-kata.
Riska, Inspirasi dari Balik Jarak
Aku tak tahu kapan jarak berubah menjadi kebiasaan yang bisa kuterima. Dulu aku membenci jarak — ia seperti jurang yang menelan rasa ingin bertemu. Tapi sejak Riska datang, jarak justru menjadi ruang tempat kami menyalurkan rindu lewat karya.
Tulisan-tulisanku di Jalur Lensa, dan lagu-laguku di FL Studio Mobile, menjadi dua sisi dari satu hati yang sama: sisi yang menulis, dan sisi yang berbunyi. Dan Riska selalu hadir di antaranya — menjadi jembatan yang menyatukan keduanya.
Terkadang aku membayangkan, bagaimana jika suatu hari nanti lagu-lagu ini terdengar di ruang publik, di tempat-tempat yang dulu hanya bisa kupandangi dari balik layar ponsel. Mungkin Riska akan tersenyum dari kejauhan, berkata pelan, “Aku tahu nada itu lahir dari ruang sunyimu.” Dan aku akan menjawab dalam hati, “Ya, dan setiap nadanya adalah tentang kamu.”
Dari Luka Menjadi Irama
Aku tak menampik bahwa dulu ada luka — luka dari cinta yang gagal, dari perasaan yang disia-siakan, dari malam-malam yang terlalu panjang tanpa arah. Tapi kini, luka itu tidak lagi menjadi beban. Ia telah berubah menjadi bahan bakar kreativitas, menjadi sumber daya emosional yang membuat musik metalku terdengar lebih hidup, dan biolaku lebih menyayat.
Riska tidak datang untuk menambal lukaku; ia datang untuk menemani proses penyembuhannya. Ia tidak menghapus masa lalu, tapi membuat masa kini terasa berarti. Dan di situlah aku sadar: kadang yang kita butuhkan bukan seseorang yang menyembuhkan, tapi seseorang yang mau mendengarkan nada-nada dari luka itu tanpa menghakimi.
Mimpi Tentang Lagu yang Didengar Bersama
Suatu malam, aku bermimpi. Dalam mimpi itu, aku dan Riska berdiri di antara bangunan tua, hujan turun pelan, dan aku memainkan biola dengan wajah yang separuh retak — seperti ingin menunjukkan bahwa di balik keretakan, masih ada nada yang bisa hidup.
Ia menatapku, lalu berkata, “Meski nada-nadamu terdengar gelap, tapi aku merasakan cahaya di dalamnya.”
Ketika aku terbangun, aku sadar — mungkin mimpi itu adalah bentuk lain dari kenyataan. Bahwa cinta kami memang tidak sempurna, tetapi nyata. Bahwa nada-nada gelap dari metal bisa menyimpan cahaya ketika dimainkan dengan hati.
Penutup: Cinta dari Ruang Sunyi
Kini aku mengerti mengapa musik metal dan biola terasa begitu dekat dengan jiwaku. Karena keduanya seperti dua sisi dari cinta itu sendiri: keras dan lembut, marah dan rindu, bising dan tenang. Dan di antara keduanya, ada aku — seseorang yang belajar mencintai lewat nada, bukan kata.
Riska mungkin jauh, tapi setiap kali aku menulis lirik atau mengaransemen lagu, rasanya ia ada di ruangan yang sama. Suaranya menyatu dengan frekuensi, kehangatannya menyusup di antara nada.
Aku tidak tahu apakah dunia akan menyukai musikku. Tapi aku tahu, Riska mendengarnya dengan hati, dan itu sudah lebih dari cukup. Mungkin memang belum sempurna, tapi justru di ketidaksempurnaan itulah letak keindahannya — seperti cinta yang tumbuh di ruang sunyi, tapi berbunyi nyaring di dalam jiwa.
Dan jika suatu hari nanti dunia mendengar lagu ini, biarlah mereka tahu: di balik distorsi gitar dan gesekan biola itu, ada cinta yang menunggu, dan seorang perempuan bernama Riska yang menjadikan ruang sunyi terasa hidup.
