![]() |
Musik dan buku ( pixabay ) |
Musim kemarau datang tanpa suara, namun meninggalkan jejak yang terasa di kulit dan batin. Di Kota Bandung yang biasanya sejuk dan berselimut kabut tipis, kini udara mengering, langit menjadi lebih terang tapi terasa jauh. Pohon-pohon di pinggir jalan tampak letih menunggu hujan, dan jalanan berdebu seakan menyimpan kelelahan orang-orang yang terus bergerak namun tak pernah benar-benar berhenti.
Di tengah suasana seperti ini, aku mendambakan jeda. Bukan jeda yang panjang atau mahal, bukan pula perjalanan ke tempat yang jauh. Aku hanya ingin diam sejenak berhenti dari segala bentuk kejaran, rutinitas, dan tuntutan yang tidak pernah selesai. Kadang, kita terlalu sering mengabaikan kebutuhan untuk berhenti, untuk duduk sendiri tanpa tergesa, untuk mendengarkan suara dari dalam yang perlahan semakin lirih karena tenggelam dalam kebisingan dunia luar.
Pagi itu, aku tak merencanakan apa-apa. Seperti biasanya, aku membuka jendela, membiarkan cahaya matahari menyelinap masuk ke sudut kamar. Tak ada angin, tak ada kabut, hanya keheningan yang membungkus suasana seperti selimut tipis. Aku mengambil secangkir air putih minuman paling sederhana namun paling jujur. Tanpa rasa, tanpa warna, tapi membawa kesejukan yang tidak bisa dibohongi.
Kemudian aku mengambil sebuah buku, buku favorit yang telah lama menunggu untuk dibaca ulang. Judulnya bukan yang viral, bukan yang jadi topik hangat di media sosial. Tapi buku itu menyimpan banyak kenangan dan menenangkan pikiranku. Di situlah healing pertamaku dimulai dalam pilihan yang tidak mengikuti arus, tapi mengikuti suara hati.
Aku lalu menyalakan MP3 kecil yang sudah menemaniku bertahun-tahun. Sebuah perangkat lawas, bukan ponsel pintar atau speaker Bluetooth canggih. Aku memutar beberapa lagu yang biasa menemani waktu membaca, dan tanpa sadar, jemariku berhenti di satu genre yang akhir-akhir ini sering kudengar: lo-fi.
Musik lo-fi bukan seperti musik pada umumnya. Ia tidak memaksa perhatian, tidak menggiring emosi ke puncak atau jurang. Ia hanya ada mengisi ruang kosong dengan nada-nada lembut, dentuman pelan, suara rekaman yang kadang terdengar seperti nafas. Dalam lo-fi, ada kebebasan. Tak ada lirik yang mengikat makna, tak ada cerita yang harus dipahami. Hanya nuansa, hanya irama yang membiarkan pikiran kita menari sendiri.
Saat lagu pertama mulai mengalun, aku membuka halaman buku dan mulai membaca. Kata demi kata, kalimat demi kalimat, seakan bersatu dengan irama musik. Tidak ada yang mendominasi. Musik tidak mengalahkan tulisan, dan tulisan tidak menenggelamkan musik. Mereka berjalan beriringan, seolah saling memahami ritme satu sama lain. Seolah mereka sudah lama bersahabat, hanya aku yang baru menyadarinya.
Waktu berjalan diam-diam. Satu jam berlalu tanpa terasa. Dalam ruang sunyi yang kuisi dengan buku dan musik, aku merasa sangat hadir. Tidak ada notifikasi, tidak ada distraksi, hanya suara halaman yang dibalik dan ketukan pelan dari lo-fi yang terus mengalun. Di situlah aku benar-benar mengalami healing.
Dunia hari ini seringkali membuat kita berpikir bahwa penyembuhan haruslah sesuatu yang besar liburan ke luar negeri, meditasi di tempat sunyi, atau membeli sesuatu yang bisa memberi rasa nyaman sementara. Tapi aku belajar, healing bisa hadir dalam momen yang sangat biasa. Dalam satu cangkir air putih. Dalam satu buku favorit. Dalam satu musik sederhana yang tidak berisik. Healing hadir ketika kita memberi ruang untuk diri sendiri. Ketika kita memilih untuk hadir dalam kesunyian, tanpa harus membuktikan apa-apa.
Dari pengalaman kecil itu, aku juga menemukan kembali makna dari gaya hidup minimalis. Banyak orang mengira minimalisme adalah tentang membuang barang, menata ruang dengan estetika putih bersih, atau hidup dengan sepuluh benda saja. Padahal, minimalisme sejati bukan tentang jumlah, tapi tentang makna. Tentang memilih yang esensial, tentang menyederhanakan hidup agar kita bisa memberi ruang pada apa yang penting.
Pagi itu aku hidup dalam versi paling sederhana dari diriku: membaca, mendengar, dan diam. Tidak perlu pakaian baru, kafe mahal, atau pencapaian luar biasa. Aku hanya menjadi diri sendiri, sepenuhnya. Dan justru di situlah aku merasa damai. Di tengah kemarau yang kering, aku menemukan oase dalam bentuk musik lo-fi dan lembaran buku lama.
Mungkin, dalam dunia yang penuh kebisingan ini, kita semua butuh waktu untuk kembali ke sunyi. Bukan sunyi yang menakutkan, tapi sunyi yang menyembuhkan. Sunyi yang menjadi ruang dialog antara kita dan diri kita sendiri. Sunyi yang bisa menjadi cermin dari siapa kita sebenarnya, tanpa topeng, tanpa pengakuan.
Esai ini aku tulis bukan karena ingin mengajarkan apa-apa. Aku hanya ingin merekam momen yang sangat sederhana namun berkesan. Karena ternyata, justru dari pengalaman sepele-lah kita bisa menemukan makna yang lebih dalam. Kita hanya perlu berhenti sejenak, mendengarkan, dan membiarkan diri kita merasakan.
Di luar sana, kemarau mungkin masih akan berlangsung lama. Langit akan tetap terang dan jalanan masih berdebu. Tapi dalam diriku, aku tahu bahwa aku telah melewati satu pagi yang utuh pagi yang mengajarkanku bahwa ketenangan bukan sesuatu yang harus dicari jauh-jauh. Kadang, ia hanya sejauh buku di rak dan lagu di daftar putar yang kita abaikan.
Dan ketika aku menutup buku itu, lagu lo-fi masih terus mengalun. Pelan. Tanpa tekanan. Seperti mengisyaratkan, "tidak apa-apa jika hari ini hanya begini saja." Karena kadang, begini saja sudah cukup untuk menyembuhkan.