Jejak Relief dan Kenangan di Rumah Seniman Jelekong: Sebuah Refleksi tentang Masa Lalu dan Keabadian


Perjalanan ini bermula dari sebuah pagi yang sederhana. Di rumah, saya duduk di kursi, menyalakan sebatang rokok, dan membiarkan alunan musik gamelan mengisi ruang hening. Ada yang berbeda pagi itu—sebuah kenangan masa kecil tiba-tiba muncul begitu saja. Saya teringat sebuah rumah di Jelekong, rumah dengan relief mencolok di bagian depannya. Setiap kali melewati rumah itu semasa kecil, saya selalu bertanya-tanya: rumah siapa itu? Siapa yang membangun relief sebesar dan seindah itu?

Tiba-tiba, bapak saya datang setelah selesai menunaikan salat duha. Saat ia duduk di dekat saya, saya pun bertanya,
“Pak, tahu nggak rumah yang di Jelekong, yang ada relief di depannya itu?”
Bapak menjawab singkat namun cukup memberi arah,
“Itu mah dulunya rumah seorang dalang. Tapi siapa pemilik aslinya, bapak kurang tahu. Yang jelas itu bekas rumah dalang.”

Kalimat itu seakan membakar kembali rasa penasaran saya yang lama tertidur. Saya ingin tahu lebih jauh. Ingin memotret, menelusuri, dan mungkin memahami sedikit cerita yang tersimpan di balik rumah itu. Tanpa berpikir lama, saya pamit pada bapak, lalu bersiap dengan motor yang sudah sedikit hangat setelah dipanaskan.

Langit sedikit mendung—cuaca yang justru terasa cocok untuk mendatangi tempat yang sudah lama ditinggalkan. Saya menempuh jalur dari kawasan Cimuncang menuju Jelekong, lalu berbelok ke arah jalan raya. Sekitar pukul sembilan pagi, saya tiba. Motor saya titipkan ke salah seorang warga. Rumah itu berdiri diam di hadapan saya, diam yang menggugah. Saya menyalakan rokok, memperhatikan tiap detail pada relief yang terpahat di dinding depan.

Relief itu memperlihatkan adegan epik: pertarungan Bima melawan naga Percona, sebuah cerita pewayangan yang pernah saya dengar sekilas melalui siaran radio atau televisi masa kecil. Konon, pertarungan itu terjadi saat Pandawa ingin membangun kerajaan di hutan Amar, atau dalam istilah Sunda disebut “Leuweung Amer”—bukan nama minuman, tapi bagian dari narasi pewayangan yang agung.



Namun, saya tak ingin terlalu jauh menyimpang ke cerita wayang. Fokus saya hari itu adalah rumah—bekas kediaman seorang seniman, seorang dalang. Saya menelusuri sisi rumah, hingga menemukan pintu belakang yang terbuka. Melalui semak belukar dan tanaman liar yang tumbuh tak terkendali, saya masuk. Ruangan demi ruangan saya jelajahi. Atap sebagian sudah roboh. Dindingnya mulai lapuk. Tapi di tengah kerusakan itu, saya tetap menemukan ruang yang masih bisa berbicara lewat keheningan dan puing-puingnya.

Saya memotret setiap sudut. Setiap detail. Sampai akhirnya saya menemukan sebuah kursi kayu yang tampak masih kokoh. Saya duduk di atasnya, meski debu menyelimuti permukaan. Anehnya, saat saya mencoba memotret kursi itu, hasil fotonya tak muncul. Saya ulangi berkali-kali. Tetap kosong. Seolah ada sesuatu—atau seseorang—yang tak ingin direkam oleh kamera. Saya hanya bisa tersenyum kecil, mencoba memahami batas antara ruang nyata dan ruang yang tak kasat mata.

Rokok kembali saya nyalakan. Asapnya perlahan naik ke langit-langit yang hampir runtuh. Saya termenung. Dulu, mungkin rumah ini penuh kehidupan: dengan alunan gamelan, suara wayang golek, tawa para penghuni. Kini hanya ada diam. Tapi diam yang berbicara. Diam yang menyimpan banyak cerita, meski tak semua bisa diceritakan kembali.

Sebelum pulang, saya sempat berbisik dalam hati,
"Terima kasih telah membiarkan saya singgah. Membiarkan saya merenung di tengah sunyimu. Merekam jejakmu, sebelum engkau benar-benar hilang."

Perjalanan pulang terasa hening namun menenangkan. Ada yang tersisa di hati saya—seperti bisikan lembut dari rumah itu yang berkata,
"Aku sudah tua. Tinggal menunggu waktu. Entah hancur, entah mungkin suatu saat akan hidup kembali seperti dulu, ketika suara gamelan masih mengalun dari dalamku."

Luka Arsitektur Rumah Seniman Jelekong: Sebuah Refleksi tentang Masa Lalu dan Keabadian

Rumah seniman Jelekong, sebuah bangunan yang berdiri kokoh di tengah-tengah perubahan zaman, menjadi saksi bisu perjalanan waktu yang tak terhenti. Relief yang terpahat di dinding depannya, menggambarkan adegan epik pertarungan Bima melawan naga Percona, sebuah cerita pewayangan yang telah menjadi bagian dari budaya kita. Namun, di balik keindahan relief itu, tersembunyi luka-luka arsitektur yang menceritakan kisah tentang masa lalu dan keabadian.

Dinding-dinding rumah yang mulai lapuk, atap yang sebagian sudah roboh, dan ruangan-ruangan yang kosong, menjadi bukti bahwa rumah itu telah ditinggalkan oleh kehidupan yang pernah menghuninya. Namun, di tengah kerusakan itu, masih ada ruang yang bisa berbicara lewat keheningan dan puing-puingnya. Sebuah kursi kayu yang masih kokoh, menjadi simbol keabadian yang tak lekang oleh waktu.

Saya merasa beruntung bisa menemukan rumah itu, merekam jejak-jejaknya sebelum benar-benar hilang. Relief yang terpahat di dinding depannya, menjadi saksi bisu tentang kehidupan seniman yang pernah menghuni rumah itu. Saya membayangkan alunan gamelan, suara wayang golek, dan tawa para penghuni yang pernah memenuhi rumah itu.

Namun, ketika saya mencoba memotret kursi kayu itu, hasilnya tidak muncul. Seolah ada sesuatu atau seseorang yang tidak ingin direkam oleh kamera. Saya merasa ada sesuatu yang misterius di balik keheningan rumah itu.

Rumah seniman Jelekong, sebuah bangunan yang berdiri di sebelah Universitas Pasundan, menjadi simbol keabadian yang tak lekang oleh waktu. Meskipun rumah itu telah ditinggalkan, keindahannya masih bisa dinikmati oleh mereka yang ingin melihatnya. Saya berharap bahwa rumah itu bisa menjadi bagian dari warisan budaya kita, sebuah simbol keabadian yang tak lekang oleh waktu.


#Fotografi #Esai #Narasi # tempat terbengkalai #Bandung


Saepul Permana Hidayat

Merekam senyap dari balik lensa. Menyusun cerita dari langkah kaki dan cahaya. Di antara pasar tua, bangunan kosong, dan jalan tak bernama, aku menulis tentang yang terlupakan agar tidak benar-benar hilang

Posting Komentar

Lebih baru Lebih lama