Dulu aku selalu memotret diriku. Di mana pun, kapan pun, dan dalam keadaan apa pun. Aku adalah subjek utama dari kameraku sendiri. Di dalam pantulan layar ponsel, aku membentuk versi diriku yang ingin kulihat: penuh gaya, bahagia, dan seolah memiliki hidup yang layak dikagumi. Tak peduli pagi atau malam, ramai atau sepi, wajahku harus tertangkap kamera. Rasanya seperti ritual. Sebuah kebiasaan yang tanpa sadar membuatku hidup demi potret, bukan demi pengalaman.
Aku memburu latar yang estetik, mencari cahaya terbaik, mengatur pose, lalu memoles hasilnya dengan filter. Semua itu demi satu hal: dilihat. Aku ingin terlihat hidup, padahal seringkali saat memotret diriku sendiri, justru aku sedang merasa kosong. Foto-foto itu kemudian memenuhi galeri dan media sosialku—seperti arsip diri yang tak pernah benar-benar jujur. Setiap gambar adalah topeng, bukan cermin.
Kini usiaku 29 tahun. Sebuah angka yang tidak terlalu tua, tapi cukup matang untuk mulai bertanya: Untuk apa semua foto itu? Dan lebih penting lagi: Apakah aku benar-benar hidup dalam semua gambar yang kuambil itu?
Jawabannya datang perlahan, seperti embun yang mengendap di pagi hari. Aku mulai sadar bahwa ribuan foto wajahku bukanlah bukti kehidupan, melainkan cerminan dari pencarian yang belum selesai. Mereka tidak membawa cerita, tidak menyimpan kehangatan, tidak mengajakku kembali ke momen yang bermakna. Yang ada hanya gaya, pencitraan, dan kenangan palsu.
Di titik inilah, aku mulai berbalik arah.
Sekarang, aku tidak lagi menjadikan diriku sebagai pusat dari setiap potret. Aku mulai menoleh ke luar—ke dunia yang selama ini kulupakan karena terlalu sibuk menatap diri sendiri. Pegunungan yang sunyi, gedung-gedung tua yang ditinggalkan, jalan setapak di desa, dan wajah-wajah orang asing yang tak sengaja kutemui. Mereka semua menyimpan kisah yang jauh lebih jujur dan utuh daripada potret wajahku sendiri.
Di Jalur Lensa, aku menemukan kembali gairah yang sesungguhnya dalam memotret. Bukan untuk eksis, bukan untuk pamer, tetapi untuk merekam kehidupan. Rasanya seperti menjadi penjelajah masa lalu—seperti orang-orang Belanda yang dulu mendokumentasikan kehidupan di Nusantara. Mereka jarang muncul di dalam foto, tetapi melalui bidikannya, kita tahu seperti apa suasana pasar, rumah adat, atau kehidupan rakyat jelata kala itu. Mereka tidak menonjolkan diri, tetapi justru itulah yang membuat hasil potret mereka bernilai sejarah.
Kini aku memahami, bahwa menjadi fotografer bukan soal terlihat, tapi soal melihat.
Kameraku menjadi perpanjangan dari mata dan hati. Aku mengamati cahaya pagi yang jatuh di atap genteng, kabut yang melayang di perbukitan, sisa-sisa cat di dinding bangunan tua, atau kerutan di wajah pedagang pasar yang tersenyum tulus. Setiap jepretan adalah bentuk penghormatan pada kehidupan—yang utuh, apa adanya, dan tanpa polesan.
Aku belajar bahwa keindahan tidak selalu harus dipasang di depan kamera. Ada keindahan yang hanya bisa dirasakan, bukan ditampilkan. Ada kehangatan dalam membiarkan momen tetap menjadi milik kita sendiri, tanpa perlu dibagikan. Aku tak lagi merasa perlu menunjukkan bahwa aku ada. Cukup aku hadir dan menyaksikan.
Di tempat-tempat terbengkalai, aku melihat jejak manusia yang pernah ada. Di balik tembok retak dan jendela berdebu, aku membayangkan suara tawa, langkah kaki, atau bahkan keheningan yang dulu mengisi ruangan. Kamera menjadi cara untuk menyapa masa lalu yang tak bisa kembali. Dan ironisnya, di tempat yang ditinggalkan itulah aku justru merasa paling hadir.
Aku juga mulai memotret orang-orang di sekitarku. Bukan model atau selebritas, tapi orang-orang biasa: petani yang bekerja di sawah, anak-anak yang bermain di lapangan, nenek yang duduk di teras rumah. Mereka tidak dibuat-buat, tidak menyadari kamera, dan justru karena itu, mereka memancarkan kehidupan yang otentik. Wajah mereka bukan tentang pencitraan, tapi tentang keberadaan yang sesungguhnya.
Semua ini mengajarkanku satu hal penting: Memotret bukanlah tentang mengambil gambar, tetapi tentang memberi perhatian.
Dulu aku memotret diriku sendiri karena aku haus perhatian. Kini aku memotret dunia karena aku ingin memberi perhatian. Aku ingin menangkap apa yang mungkin terlupakan. Aku ingin menyimpan jejak dunia yang terus berubah.
Setiap perjalanan fotografi menjadi semacam ritual kecil: aku berjalan, mengamati, berhenti, dan membidik. Kadang tak ada hasil yang memuaskan, tapi tetap ada ketenangan yang mengalir. Ketika aku tidak menjadi subjek, aku justru menjadi bagian dari lanskap yang lebih besar. Aku merasa lebih bebas, lebih jujur, dan lebih hidup.
Kini aku sadar, bahwa yang membuat sebuah foto bermakna bukanlah siapa yang ada di dalamnya, tapi apa yang ia kisahkan. Dan sering kali, cerita terbaik datang dari hal-hal yang tidak kita duga: dari bayangan yang jatuh di lantai, dari embun di daun, atau dari senyum diam-diam di sudut pasar.
Meninggalkan kebiasaan memotret diri bukan berarti aku membenci diriku yang dulu. Justru aku bersyukur karena dari proses itulah aku tiba di titik ini—titik di mana aku bisa benar-benar memotret kehidupan. Kamera kini bukan lagi cermin yang memantulkan keinginan, tapi jendela yang membuka pemahaman.
Di Jalur Lensa, aku bukan siapa-siapa. Tapi justru karena itu, aku bisa melihat lebih banyak, merasa lebih dalam, dan menangkap kehidupan yang selama ini tersembunyi di balik rutinitas.
Aku tidak tahu apakah foto-fotoku akan dikenang. Tapi aku tahu, selama aku masih bisa memotret dengan hati, maka setiap bidikan akan menjadi bagian dari perjalananku—bukan untuk dikenang orang lain, tapi untuk dikenang oleh diriku sendiri, sebagai bukti bahwa aku pernah benar-benar hadir di dunia ini.