Ada yang abadi dari sebuah perjalanan, bukan semata rute yang ditempuh atau waktu yang dilalui, melainkan rasa yang tertinggal dalam diam. Rancaoray, kawasan pesawahan di Buah Batu, Bandung, menyimpan fragmen-fragmen kecil dari kisah yang mungkin tak akan saya ceritakan sepenuhnya—karena kali ini, saya ingin membawa mata dan hati pembaca pada yang tampak saja: keindahan alamnya.
Pagi itu, langit belum sepenuhnya membuka dirinya. Kabut masih setia membalut batang-batang padi yang tumbuh rapi di petak-petak sawah. Udara membawa wangi tanah basah dan desir halus angin yang menyentuh kulit seperti bisikan yang menenangkan. Tak ada deru kendaraan, tak ada riuh kota—hanya irama alam yang bergerak perlahan, seakan waktu sendiri pun memilih untuk bersabar di sini.
Di balik lensa kamera, saya mencoba menangkap bukan hanya gambar, tapi juga getaran jiwa tempat ini. Cahaya matahari yang mulai menembus kabut menjadi sapuan keemasan yang menari di antara dedaunan. Saya merasa seolah alam sedang menyambut, memberi ruang untuk bernapas, dan mengajak saya merenung dalam diam.
Rancaoray bukan tempat yang monumental, bukan pula destinasi wisata yang ramai disebut orang. Namun justru dalam kesederhanaannya, ia memberi ketenangan. Sawah-sawah yang luas, petani yang bekerja dalam hening, dan aliran air yang jujur mengalir seperti nasihat tanpa suara. Di tempat ini, saya menemukan sepotong ketenangan yang tak bisa dibeli atau dicari—hanya bisa dirasakan.
Catatan perjalanan ini mungkin memuat lebih dari sekadar lanskap. Ada pertemuan, ada kenangan, namun biarlah itu tersimpan. Dalam galeri yang saya bangun, hanya keindahan pesawahan yang saya bagi—karena kadang, keindahan yang tampak cukup untuk merangkum perasaan yang dalam.