Aku memotret Sindangsari bukan hanya karena keindahan alamnya, tapi karena desa itu menyimpan jejak seorang perempuan yang paling kucinta: ibuku. Di tanah yang kini mulai tumbuh menjadi pemukiman yang berkembang, dulunya berdiri rumah-rumah bambu yang sederhana, ladang-ladang kecil, dan jalanan tanah merah yang dilalui langkah kecil ibuku semasa kecilnya.
Aku melangkah di antara sawah dan gang-gang sempit, mencoba membayangkan masa lalu yang tak sempat kusaksikan. Kamera di tanganku merekam bukan hanya lanskap, tapi juga kenangan yang diwariskan dalam cerita-cerita beliau. Tentang air sumur yang dulu mereka timba bersama, tentang suara kodok di malam hari, dan tentang harapan-harapan yang tumbuh di tengah kesederhanaan.
Kini, Sindangsari telah berubah. Jalanan sudah diaspal, rumah-rumah mulai bertingkat, dan warung-warung kecil berjejer di pinggir jalan. Namun dalam setiap jepretan, aku melihat bayangan ibuku yang kecil, tertawa riang di antara rumpun bambu dan tiupan angin desa.
Bagiku, memotret Sindangsari adalah cara untuk kembali, bukan hanya ke tempat, tapi ke akar. Ke tempat di mana cinta pertama seorang anak terhadap ibunya tumbuh melalui tanah, langit, dan cahaya