Stasiun Dayeuhkolot stasiun yang masih menyimpan estetika kolonial Belanda

 


Stasiun Kereta Api Dayeuhkolot adalah saksi bisu denyut sejarah transportasi di selatan Bandung. Terletak di kawasan Dayeuhkolot, Kabupaten Bandung, pada ketinggian kurang lebih 662 meter di atas permukaan laut, stasiun ini dahulu menjadi penghubung penting jalur Dayeuhkolot – Ciwidey dan Dayeuhkolot – Majalaya. Di masanya, stasiun ini bukan sekadar tempat naik turun penumpang, tetapi simpul ekonomi yang menggerakkan hasil perkebunan dan aktivitas masyarakat menuju pusat kota maupun wilayah pegunungan.

Jalur menuju Ciwidey dulu dikenal memiliki panorama yang indah, melintasi hamparan hijau dan kawasan perbukitan. Sementara jalur ke Majalaya menjadi urat nadi distribusi hasil industri tekstil dan pertanian. Namun, pada tahun 1982, operasional Stasiun Dayeuhkolot resmi dihentikan setelah terjadinya kecelakaan di jalur Ciwidey. Sejak saat itu, bangunan ini perlahan kehilangan denyutnya, menyisakan jejak arsitektur dan kenangan yang tersimpan dalam dinding-dinding tua.

Salah satu detail menarik dari stasiun ini adalah penggunaan sistem teraso pada bagian bawah pilar dan temboknya. Material teraso yang digunakan merupakan campuran batuan seperti basalt dan plagioklas yang dihancurkan, dicampur, lalu dipoles hingga menghasilkan permukaan halus dan mengkilap. Teknik ini sangat populer pada masa kolonial Belanda karena dikenal kuat, tahan lama, dan estetis. Teraso bukan hanya unsur dekoratif, tetapi juga memiliki fungsi teknis penting.

Dayeuhkolot dikenal sebagai kawasan rawan banjir akibat posisinya yang berada di dataran rendah dan dekat aliran sungai. Penggunaan teraso pada bagian bawah tembok berfungsi untuk meminimalisir kerusakan akibat genangan air. Permukaannya yang padat dan tahan lembap membantu melindungi struktur utama bangunan dari pelapukan. Inilah bukti bagaimana perencanaan arsitektur kolonial mempertimbangkan kondisi geografis setempat.

Kini, meskipun tak lagi aktif, Stasiun Dayeuhkolot tetap menyimpan nilai sejarah yang tinggi. Bangunan tua dengan sisa-sisa teraso yang masih tampak mengkilap menjadi pengingat bahwa tempat ini pernah menjadi simpul perjalanan, pertemuan, dan perpisahan. Di antara sunyinya rel yang tak lagi dilalui kereta, tersimpan cerita tentang masa lalu, tentang kejayaan jalur selatan Bandung, dan tentang bagaimana infrastruktur dibangun dengan perhitungan matang menghadapi alam.

Video ini mengajak Anda menelusuri kembali jejak Stasiun Dayeuhkolot — memahami sejarahnya, melihat detail arsitekturnya, serta mengenang perannya dalam perkembangan wilayah Bandung selatan. Sebuah perjalanan singkat menembus waktu, menyusuri sisa kejayaan rel yang kini hanya tinggal kenangan.


Saepul Permana Hidayat

Merekam senyap dari balik lensa. Menyusun cerita dari langkah kaki dan cahaya. Di antara pasar tua, bangunan kosong, dan jalan tak bernama, aku menulis tentang yang terlupakan agar tidak benar-benar hilang

Posting Komentar

Lebih baru Lebih lama